Maha Corp.


TOLONG!!! Beri saya satu saja alasan!
October 26, 2008, 12:33 am
Filed under: Current Affairs, Ekonomi, Politic

Tadi malam adalah malam yang beking nae darah! Malam kedua tanpa penerangan listrik, sementara itu, stok lilin sudah habis. Membuat saya mendapatkan ide untuk menceritakan 2 cerita ini.

Cerita Pertama:

Tahun 1999, DPR RI mengeluarkan UU yang sangat luar biasa. UU. No. 36, 1999, maybe the best bill ever, dihasilkan oleh para anggota dewan paling terhormat yang super duper cool, You Are Rock, Men!!!! I’ll never forget your goodwill, karena kalian semua (Perancang UU ini), kami bisa rasakan nikmatnya hidup penuh kemudahan teknologi selular. UU. Tersebut mengatur tentang penghapusan monopoli industry telekomunikasi di Indonesia. Tidak boleh ada lagi perusahaan yang punya hak tunggal mengatur jaringan telekomunikasi Indonesia (kacuali fixed line, tetap dimonopoli Telkom). Semua bebas masuk dan berusaha, menanggung resiko dan menarik untung dari industry selular. PErtama dimulai oleh Indosat, menyusul Telkomsel. Saat ini pasar seluler sudah dipenuhi oleh banyak pemain, , Telkomsel, Indosat, Excelcomindo (XL), Hutchison (3),Sinar Mas Telecom,Sampoerna Telecommunication, Bakrie Telecom (Esia), Mobile-8 (Fren), dan Natrindo Telepon Selular (sebelumnya Lippo Telecom). Mereka bersaing harga dan layanan, berusaha membujuk konsumen dengan layanan prima dan harga terjangkau, SMS, Rp. 88, ada yang gratis, ada yang kasih nelpon gratis, bahkan lebih unik, mereka kasih uang kalu kita trima telepon, hore-hore!!! Anda tahu siapa yang diuntungkan dari ini semua? Pertama, tentu saja saya dan jutaan warga Indonesia lainnya yang menjadi pelanggan provider diatas. Kedua, para provider itu sendiri, yang meraih untung setalah kita gunakan jasa mereka. Berikutnya yah, pemerintah dari pajak. Apa Cuma mereka? Tentu saja tidak, karena bisa saja saya katakan bahwa semua warga Indonesia pasti pernah dan sedang diuntungkan oleh UU. No. 36 1999 ini.

Para penjaja pulsa pinggiran jalan, bayangkan, mereka bisa mendapatkan sesuap nasi dengan menjual pulsa. Sempatkan keliling kota anda, saksikan berapa banyak rakyat Indonesia ini yang sedang menimba uang dari industry selular yang diliberalisasi ini. Bayangkan ada berapa juta penjual, penjaga dan investor penjual pulsa ini yang bisa dihidupi, dan menghidupi keluarga, teman, anak mereka karena dari bisnis penjualan pulsa ini. Bahkan, kreativitas tercipta dengan adanya penjualan pulsa elektronik. Diasrama dulu, saya punya teman yang mencari uang dari bisnis jualan pulsa di asrama. Teman yang lain, penuhi target pendapatan project marketingnya dengan cara jual pulsa. Coba bayangkan seandainya tidak ada peraturan pemerintah yang membebaskan industry selular ini dari monopoli. Tentu tidak akan kita lihat sebuah dampak ekonomi yang sebegitu besar. Kebebasan ini membuka jutaan lapangan kerja. Uang hasil penjualan pulsa ini tentu saja akan mereka konsumsi. Konsumsi mereka tentu saja akan membantu industry lain. Contoh, penjual pulsa, dengan pendapatannya bisa menyekolahkan anaknya di sebuah sekolah. Dengan demikian, dia membantu industry pendidikan. Sang penjual pulsa tersebut juga mengkonsumsikan pendapatannya tersebut untuk membeli makanan, dengan demikian, dia membantu para penjual makanan. Bayangkan begitu besarnya “multiplier effect” yang dihasilkan oleh industry seluler ini setelah keluarnya UU. No. 36, thn 99.

Apakah Cuma penjual pulsa yang diuntungkan? Sempatkan diri anda untuk mengunjungi pusat penjualan telpon seluler di kota anda. Lihat betapa ramainya tempat tersebut. Saya baru mengunjungi ITC Manado, pusat penjualan handphone di manado. Tidak diragukan lagi, tempat tersebut sebegitu ramainya, menarik begitu banyak pembeli, dan tentu saja menarik begitu banyak kesempatan kerja, kesempatan investasi dan kesempatan kreativitas para penduduk Indonesia. Industri telepon genggam begitu maju di Indonesia. Orang-orang Indonesia sampai dikampung-kampung tau apa itu Nokia, Sony-Ericson atau Samsung. Mereka sangat melek dengan berbagai model dan merek handphone. Apakah ini bisa terjadi jika pulsa di Indonesia masih mahal? Tentu saja tidak. Penjualan handphone di Indonesia sebegitu tingginya terjadi karena harga pulsa yang begitu terjangkau. Coba banyangkan kalau harga pulsa masih tinggi, tidak ada orang yang suka membeli handphone.

Dalam ekonomi, kita kenal istilah barang komplementer, yaitu barang yang harus saling melengkapi, contohnya DVD dan DVD player. Penjualan DVD akan meningkat jika harga DVD player menurun, begitu juga sebaliknya, penjualan DVD player naik jika harga DVD menurun. Tetapi jika harga DVD sangat mahal, sedikit orang yang akan membeli DVD player, karena apa guna membeli DVD player, jika tidak ada DVD untuk di putar di DVD player tersebut. Tentu kita masih ingat dulu jaman ketika Laser Disc begitu top. Ketika saya masih duduk dibangku sekolah dasar dulu, Laser Disc Player adalah barang yang sangat mewah. Hanya orang kaya yang mampu membeli, dan sedikit orang yang mampu membelinya dan seingat saya, hanya 1 rumah di Kelurahan Akesimbeka yang punya Laser Disc Player. Hal ini bukanlah karena Laser Disk yang sangat mahal, tetapi harga dari piringan laser disk yang mahal. Tetapi apa yang terjadi ketika muncul VCD player, dengan harga piringan VCD yang jauh lebih terjangkau dibandingkan piringan Laser Disk, muncul dan diperjual belikan dipasaran. VCD player dijual di pasaran lakunya laris manis, karena karena barang komplementernya (piringan VCD) yang terjangkau. Hal yang sama, penjualan mobil akan turun ketika harga BBM naik. Kenapa? Karena BBM adalah barang komplementer dari mobil. Mobil tidak bisa berjalan tanpa BBM. Sehingga, ketika harga BBM naik, orang akan tidak suka beli mobil. Sebaliknya, penjualan mobil akan menjadi tinggi ketika harga BBM turun.

Nah, hal yang sama terjadi pada industry seluler dan industry telefon genggam. Pulsa adalah benda komplementer dari hand phone. Ketika pemerintah membebaskan industry seluler dari monopoli, banyak perusahaan jualan pulsa. Tentunya mereka harus bersaing, dan persaingan ini menuntun kepada murahnya harga pulsa seperti yang terjadi sekarang. Ada perusahaan yang bahkan menawarkan jasa SMS gratis. Nah, pulsa yang terjangkau ini, menuntun kepada lakunya hand phone di pasaran. Dengan demikian, UU. No. 36, thn 1999, membantu mengembangkan industry Handphone ditanah air, Indistri handphone ini tentu saja menarik jutaan tenaga kerja, menarik jutaan investasi dan pendapatan pemerintah dari pajak yang bertambah. Dan bukan Cuma itu, masyarakat Indonesia sampai kepelosok sekarang tahu menggunakan handphone. Ayah saya menceritakan pengalamanya, katanya di Siau, anda bisa dengar seorang diatas pohon pala sedang menelpon temannya di tempat lain. Bayangkan, orang-orang didaerah dan pelosok, sekarang bisa melek teknologi. Dengan punya handphone, mereka adalah orang yang jauh lebih beradab. Mereka tidak bisa lagi disamakan dengan petani di pedalaman Mongolia atau di Afrika sana, karena mereka sekarang sangat melek teknologi. Mereka punya akses akan informasi yang jauh lebih luas. Mereka tau bagimana mengambil foto dari handphone, bagaimana mengirim lewat Bluetooth. Terjadi sebuah perubahan besar kearah kemajuan tekonlogi yang bukan saja menjadi hak orang terpelajar tetapi seluruh orang Indonesia karena UU. No. 36. Luar biasa.

Yang berikut yang diuntungkan dari UU. No. 36 adalah layanan diluar provider tetapi juga mengambil keuntungan dari majunya industry seluler (banyak orang punya handphone, dan harga pulsa yang murah) di Indonesia. Kapanpun anda punya kesempatan, sempatkan diri anda menonton TV anda dan sempatkan menonton bagian paling menjengkelkan dari acara TV di Indonesia yaitu; Iklan. Perhatikan, bahwa dalam 1 sesi iklan akan selalu ada iklan dari perusahaan yang berhubungan dengan industry seluler, entah itu perusahaan provider jasa telekomunikasi (XL, As, Simpati, 3, dll),undian SMS berhadiah, jasa pelayanan hubungan social dari SMS (Chat n Date, dsb), layanan yang menawarkan games, ringtone, gambar, dan layanan belangganan info dari SMS premium. Bayangkan, bahkan DUKUN bisa diuntungkan dengan keadaan ini (lihat iklan di TV mengenai primbon). UU. N0. 36 bukan hanya menguntungkan banyak orang secara financial tetapi juga menggabungkan teknologi dan perdukunan. Dengan beriklan, perusahaan-perusahaan ini juga mendukung industry periklanan. Semua iklan-iklan ini menyokong industry periklanan dan pertelevisian Indonesia. Berapa orang yang diuntungkan dari kegiatan ini? Menurut saya bisa jutaan orang.

Kesenian bangsa ini juga di untungkan. Kebanyakan penyanyi tidak mendapat untung banyak dari penjualan album mereka. Kebanyakan keuntungan dari penjualan album dimakan oleh para pencuri bernama “pembajak”. Jadi kebanyakan dari para penyanyi ini mendapatkan banyak uang dari penjualan lagu mereka dalam bentuk ring tone dan nada sambung (NSP, Iring, dll), yang mana layanan penjualan ring tone dan nada sambung ini, ada karena industry seluler yang maju di Indonesia. Jadi, industry seluler Indonesia mendukung majunya kesenian bangsa ini. Bahkan Indonesian Idol memanfaatkan layanan SMS untuk menentukan pemenang.

Bukan Cuma keuntungan financial yang dicapai. Seperti yang sudah saya utarakan diatas, UU. 36. Membuat begitu banyak rakyat kita menjadi melek teknologi. Hidup tanpa handphone adalah hal yang tidak sekarang tidak terbayangkan bagi sebagian kita. Hidup akan terasa sangat sulit tanpa handphone, karena kita telah dimanjakan oleh teknologi seluler yang kita nikmati sekarang.

Sekarang, saya ingin anda membayangkan sejenak apa yang terjadi seandainya Industry seluler ini tidak diliberalisasi dengan UU. No. 36. Bayangkan jika seandainya industry telekomunikasi ini masih dimonopoli oleh salah satu perusahaan Negara. Saya yakin, kita tidak akan pernah mencapai apa yang sudah kita punya sekarang. Jutaan orang terlibat dalam industry ini. Bayangkan, jika industry ini tidak pernah dibebaskan, mungkin saja sebagian dari orang-orang itu tidak punya pekerjaan sekarang. Mungkin ada yang mencari uang secara illegal. Tetapi industry ini menciptakan banyak kesempatan. Kesempatan untuk mencari uang, berinvestasi, menjadi yang terbaik dari diri mereka. Industry yang maju ini, bukan hanya menciptakan keuntungan tetapi menciptakan kedamaian, karena memberi kesempatan bagi banyak orang untuk tidak terlibat dalam hal illegal tetapi melakukan yang terbaik yang mereka bisa dari industry selular ini. Terima kasih untuk UU. No. 36 thn 1999. Itulah cerita pertama saya, cerita yang enak didengar, dibaca maksudnya. Nah, cerita berikut akan sangat menyebalkan.

Cerita ke dua:

Beberapa minggu lalu, saya diajak murid-murid untuk menonton Wall-E. Semua jadwal sudah di set, saya siap berangkat ke Twenty-One. Sesampainya disana, betapa hancur hatiku harus kehilangan kesempatan nonton gratis karena listrik di Manado Town Square (tempat dimana 21 berada) dimatikan untuk sementara sehubungan dengan rusaknya generator listrik milik Manado Town Square. Kurang ajar, saya seharusnya sudah bisa menonton hari ini! Sudah ditraktir makan, jalan-jalan! Generator kurang ajar. Beberapa menit kemudian amarah saya mereda, saya memperhatikan lebih seksama apa yang terjadi di depan Mantos (Manado Town Square). Kerugian yang saya alami adalah tidak seberapa dengan banyak orang yang sedang duduk lemas didepan Mantos. Mereka adalah karyawan dari tenant Mantos, dan kebanyakan juga adalah pemilik tenant yang terpaksa harus kehilangan kesempatan untuk memperoleh untung di hari sabtu yang ramai itu (bandingkan dengan kerugian saya yang hanya kehilangan kesempatan nonton). Saya tidak punya data berapa kerugian dari matinya listrik hari itu, tetapi saya bisa ramalkan kerugiannya pasti puluhan milliard. Sebagaimana besar kerugiannya? Kehilangan kesempatan mencari keuntungan dari masing-masing tenant. Bayangkan berapa transaksi di Hypermart, Mirai, A&W, 21, dan berbagai tenant yang harus batal karena “mati lampu” ini. Matinya juga pas hari sabtu dan minggu.

Siapa yang kira-kira paling bertanggung jawab atas keadaan ini?Kesalahannya terletak pada UUD 1945 pasal 33: Cabang-cabang produksi yang menyangkut hayat hidup orang banyak, dikuasai oleh Negara. Kalau UU. No. 36, 1999 adalah UU yang menciptkan perubahan positif, maka Pasal 33, UUD 45 adalah pasal paling memiskinkan bangsa ini. Pasal ini digunakan oleh PLN untuk memonopoli pasokan listrik. Korban yang bisa saya berikan pertama adalah Mantos. Tetapi kebalikan dari crita diatas, hasil cerita ini adalah jutaan orang yang dirugikan, miliaran bahkan triliunan yang harus hilang dari bangsa ini, karena peraturan yang memiskinkan. Karena peraturan ini (psl 33), partisipasi warga tidak diijinkan untuk memberikan layanan listrik bagi warga Negara yang lain. Pada saat yang sama, karena punya hak monopoli, PLN menjadi perusahaan yang tidak effisien. PLN adalah perusahaan paling enak untuk bekerja. Bayangkan, tidak ada yang pernah puas dengan hasil layanan PLN. Tetapi mereka tidak pernah punya cara untuk menghukum ketidak puasan ini. Dalam industry selular, ketika anda tidak puas dengan layanan Indosat, dengan mudahnya anda bisa menghukum Indosat dengan cambuk paling sakit bagi semua perusahaan, cambuk itu adalah; berhenti membeli dari perusahaan tersebut dan beli dari perusahaan lain. Dalam contoh ini, menghukum Indosat adalah dengan pindah ke Telkomsel. Tetapi mekanisme menghukum ini tidak ada dalam industry listrik. Anda tidak punya cara untuk menghukum PLN karena memang PLN satu-satunya perusahaan yang memberikan layanan listrik. Jadi PLN adalah perusahaan yang paling senang, tidak punya saingan, tetapi hasilnya adalah inefficiency perusahaan.

Begitu banyak kerugian yang kita alami dari monopoli listrik ini. Begitu banyak investor yang mengurungkan niatnya untuk berinvestasi karena ketidak pastian pasokan listrik dari PLN. Bayangkan, berapa juta tenaga kerja yang seharunya bisa diserap tetapi harus hilang karena ketidak pastian pasokan listrik ini. Berapa milyar pendapatan pemerintah dari sektor pajak yang juga turut hilang. Belum lagi “multiplier effect” dari yang seharusnya bisa tercipta, tetapi terpaksa hilang karena monopoli listrik. Itu Cuma kerugian dari sisi ekonomi. Secara ekonomi. Tiap kita yang sudah kerja pasti sudah pernah mengalami kejengkelan karena “mati lampu.” Berapa juta kira-kira ya pekerjaan yang terhambat karena “mati lampu” ini. Sebuah foto di Jakarta Post menghancurkan hati saya dan membuat amarah saya meledak tiba-tiba di perpustakaan sekolah. Foto tersebut adalah foto ayah dan anak yang sedang menangis. Mereka sedang menanti orang yang paling mereka berdua cintai, istri dari pria ini, dan ibu dari sang bocah kecil, yang sedang terbaring tak sadarkan diri di meja operasi. Nyawa sang istri sedang dipertaruhkan karena dia sedang menjalani operasi untuk sebuah penyakit di perutnya. Tetapi apa yang terjadi? Saluran listrik PLN tiba-tiba padam. Nyawa sang istri dalam bahaya. Sang suami dan anak pun menangis karena mengetahui nasib orang yang paling mereka cintai sekarang antara hidup dan mati. Tangisan mereka terekam melalui kamera sang wartawan. Dan terimakasih karena kebebasan pers, foto tersebut sampai kepada saya dari tempat kejadian di Makassar. Saya tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya kepada Ibu di meja operasi tersebut. Tetapi siapa yang paling bisa disalahkan dari kejadian ini??? Ibu ini adalah korban sebuah system pemiskinan bangsa ini bernama monopoli, yang menjadi kenyataan karena adanya Pasal 33, UUD 1945. Suatu hari di teacher lounge (ruang guru), tiba-tiba saja “mati lampu.” Seorang rekan saya dari Amerika yang sedang seru-serunya mengetik harus kehilangan pekerjaannya yang belum sempat dia save di computer. Langsung saja dia berteriak: “Welcome to Indonesia, MATI LAMPOUW.”

Monopoli kedua adalah monopoli sambungan tetap (fixed line) oleh Telkom. Sekarang, coba bandingkan. Sejak didirikan tahun 1970-an, sambungan langsung Telkom nanti masuk di-Siau tahun 2001. Perlu 30 tahun untuk itu. Kenapa begitu? Yah, tidak usah ditanya. Kan tidak ada saingan, buat apa Telkom susah-susah expansi pasar sampai tempat seperti Siau yang terletak di Ujung dunia, sehingga dibutuhkan sekitar 30 tahun agar saluran fixed line masuk Siau. Nah, bandingkan dengan saluran selular. Sejak diliberalisasi tahun 1999, tahun 2003, Indosat membangun BTS pertama di Siau. Tidak perlu waktu lama, 6 bulan kemudian Telkomsel menyusul. Tetapi kedua provider ini hanya melayani wilayah Ulu-Siau (Siau Timur). Tetapi, jangan khawatir. Tahun 2005, Telkomsel dan Indosat melayani wilayah Ondong Siau. Saat ini, tiap jengkal Siau, mulai dari kawah Gunung Karangetang sampai di danau Kapeta anda bisa mendapatkan sinyal layanan selular. Bayangkan, perlu 30 tahun untuk Telkom masuk Siau, itupun hanya di wilayah Ulu-Siau. Tetapi tidak perlu waktu 10 tahun untuk layanan selular menjangkau setiap jengkal tanah Siau. Membawa perubahan yang luarbiasa bagi tanah kelahiran saya, secara ekonomi maupun social. Monopoli Telkom bukan saja hanya di saluran fixed line. Yang paling fatal, paling merugikan, paling bikin naik darah, paling konyol, paling tolol, paling nglunjak dan paling tidak tau malu, adalah monopoli Telkom atas layanan Internet fixed line. Karena monopoli Telkom, internet di Indonesia adalah yang termahal, plus terlambat didunia. Makanya lambang Telkom Speedy gambarnya keong. Karena memang mereka sadar, produk mereka, sudah lambat, mahal pula. Anehnya, tidak tahu malu pula kasih nama speedy!!!

Internet adalah hal yang menurut saya sangat penting, paling fenomenal dan paling menciptakan perubahan. Terhubung dengan internet, berarti terhubung dengan dunia, terhubung dengan kesempatan yang begitu besar, terhubung dengan pasar, kesempatan untuk menciptakan perubahan, kesempatan untuk menciptakan kesejahteraan, dan yang utama, membuka kesempatan untuk masuk kesebuah dunia penuh kebebasan, informasi yang tidak terbatas, tidak terbatas agama, Negara, ideology atau dogma apapun. Bayangkan betapa hebatnya ketika banyak penduduk Indonesia terhubung dengan Internet. Tetapi kesempatan tersebut dikebiri sendiri oleh Telkom. Jutaan warga kita kehilangan kesempatan untuk jadi orang pintar, jadi orang kaya, jadi orang melek teknologi. Berapa besar Opportunity cost dari monopoli ini, saya tidak pernah tau, yang jelas pasti sangat besar. Seandainya monopoli ini dihapus, coba anda bayangkan, seorang petani pala di Siau tau bagaimana mengakses internet. Punya alamat email sendiri, punya blog sendiri dimana dia bisa mengeluarkan pendapatnya. Bisa menjual langsung komoditinya ke luar negeri melalui Ebay, punya akses terhadap berita yang lebih transparan dan netral, tidak bergantung pada berita Manado Post yang kacau itu. Atau mereka punya blog sendiri, dimana mereka bisa memprotes kebijakan pemerintah yang tidak sesuai dengan keinginan mereka. Banyak hal yang bisa berubah, kearah yang lebih positif, jika saja Telkom berhenti dengan monopoli mereka ini.

Dari Cerita PLN dan Telkom diatas, saya sendiri bertanya-tanya, apa benar kita sudah merdeka pada 17 Agustus 1945? Bisakah kita dikatakan merdeka tetapi pada saat yang sama sebagian aparatur Negara ini masih menghalangi rakyatnya sendiri untuk akses terhadap informasi, partisipasi ekonomi dan kesejahteraan. Apakah kita sudah merdeka??? Dengan monopoli ini, anda bisa jawab sendiri.

Saya minta maaf bagi para pembaca yang mungkin saja adalah bagian dari para aparatur ini, atau orang tua, kenalan atau kerabat mereka adalah bagian dari aparatur pemiskinan ini. Tetapi yang saya hanya minta, tolong beri saya SATU SAJA, alasan logis kenapa kita harus tetap mempertahankan system ini. Ya, SATU SAJA!!!

Jagan Siva Khan.



Tribute to Jerome: Happy birthday pal!!!
October 26, 2008, 12:24 am
Filed under: Uncategorized

Tulisan ini terinspirasi dari tulisan saudara Jerome Inkiriwang dlm blognya, disini. Terima kasih untuk saudara Jerome atas penjelasan tentang diri saya, walaupun pada beberapa bagian tampaknya melebih-lebihkan keberadaan saya yang hina dina ini. Tetapi pada intinya, seperti kata Jerome, apalah hidup tanpa teman. Menurut saya, persahabatan adalah bentuk termurni dari hubungan manusia dengan manusia yang lain. Kita tidak membutuhkan incentive apa-apa dalam persahabatan. Banyak orang bilang bahwa “percintaan” adalah bentuk hubungan paling murni, tetapi orang-orang tersebut adalah orang-orang yang sudah terkontaminasi kebodohan cinta. Mereka bilang, cinta itu tulus, tidak meminta. Apa betul? It’s dumb. You are in love, because you want to serve one of your natural forces, which is to ensure the existence of your species. Kita mencintai karena hasrat kita untuk mewariskan gen kita sehingga memastikan bahwa species kita bertahan. Karena itulah kita mengalami kegilaan (secara kiasan maupun harafiah, metaphorically or literally) ketika kita sedang jatuh cinta (I deal with this issue about “genealogy of love” in this post) karena dorongan mental kita untuk jatuh cinta. Jatuh cinta membuat kita memenuhi hasrat ini,Cuma kita melakukannya dengan cara yang lebih beradab, hal tersebut membedakan kita dengan binatang lain. Persahabatan berbeda jauh dengan cinta. Persahabatan tidak membutuhkan dorangan “purba” ini untuk tumbuh. Persahabatan membutuhkan niat, hasrat, pengorbanan dan karakter yang lebih murni, dari sekedar hasrat seksual terselubung emosi yang menjadi dasar dimana cinta berdiri. (Eh, kita kwa cuma mo tulis tentang Jerome mar kapa so ta trus deng ni teori panjang lebar begini? Ok. It’ll be better if I cope with that in another post, hmm, it’s better if entitled, Juan on Friendship, hehehe :). I have lots of very good friends, if I want to describe them one by one, it will need one Wikipedia’s server, because most of you guys are precious, special, unique and wonderful in your own way. Tetapi ijinkan saya hari ini menulis untuk Jerome yang sudah menulis sebuah tribute tentang saya dan teman-temannya yang lain. So, ini balasannya, and sebagai hadiah ulang tahun.

Jerome adalah orang paling ideal sebagai teman disamping tempat duduk ketika sedang masuk gereja. Waktu pembicara menjemukan, maka Jerome adalah teman yang baik untuk mengganti topic, mulai dari mengkritik pembicara sampai membicarakan rasa mengantuk. Tiba-tiba saja, perbincangan sudah ngelantur ke topic tentang tidur. Bagaimana tidur yang baik, apakah baik menyembah Tuhan kalau harus menantang rasa ngantuk,sampai cerita lawak yang bisa membuat satu bangku terhibur, etc…. Kalau topic menjadi menarik, maka Jerome adalah orang yang baik dalam membicarakan khotbah tersebut di luar gereja. Most of all, waktu menyanyi dalam gereja, Jerome adalah teman duet seriosa terbaik that you can find in town. Suatu waktu nanti kita mungkin dudu disamping kita pe istri or someone I love. Percayalah pada saat itu sebenarnya kita sedang menjalankan kewajiban biologis, kita nyaman dudu samping pa dia karena kita sementara dihipnotis oleh hormone dophamine penyebab cinta.

Jerome adalah orang dengan selera humor yang tinggi. Tetapi yang membuat Jerome special, adalah karena dia sendiri adalah orang yang sangat humoris. Banyak orang dengan selera humor tinggi, tetapi sedikit yang se menghibur Jerome. Bahkan menurut saya, Jerome punya selera humor paling tinggi di torang pe hall. Suatu waktu, torang sementara makan di dinning dan cerita lawak beralih ke saling menghina antar suku. Seperti biasa, sebagai seorang “UNGKE”, saya harus menerima porsi hinaan paling banyak karena memang paling banya disitu orang Minahasa, termasuk Jerome yang sedang menghina ke-Sangir-an saya. Lalu Jerome datang dengan cerita menghina kebodohan orang sangir-nya, ceritanya dalam bentuk teka-teki seperti ini: Bagaimana cara membuat orang Siau tertawa pada hari senin? Tidak ada yang tahu jawabannya dan Jerome bersuara, “Depe jawaban, kase dia cerita lawak hari Jumat.” Itu cerita paling lucu hari itu, tetapi anehnya hanya saya dan Jerome yang tertawa. Kenyataan tersebut membuat saya tambah terpingkal-pingkal, karena disitu ada orang tombatu, kawangkoan dan 2 orang manado yang sementara menghina kebodohan orang Siau, tetapi ujung-ujungnya, cerita Jerome terakhir membuktikan bahwa sebaiknya cerita diatas bukanlah membuktikan orang Siau bodoh, tetapi membuktikan bahwa cerita tersebut ditunjukan untuk orang-orang yang tidak tertawa ketika mendengar cerita tersebut . Akhrinya setelah menerangkan tentang arti cerita diatas, mereka tertawa dan membuktikan bahwa Jerome memang punya selera humor yang baik, dan kami punya selera humor yang sama. Hal tersebutlah yang membuat kami bisa bertahan berjam-jam berbincang mengenai hal-hal tolol disekitar kami, sambil terpingkal-pingkal, karena memang kami punya cara pandang yang sama tentang lelucon. To be frank!! Jerome paling nyambung kalu berbincang-bincang deng kita selain… kita pe diri sendiri.

Ok. Pada akhirnya, selamat ulang tahun Jeremiah Inkiriwang. Terima kasih untuk waktunya, those are priceless, trima kasih untuk resep spagetinya, resep “ramen pantat” (resep temuan Jerome dan Ucok, diberi nama demikian karena pake banyak panta bawang) dan resep “kapala telor” (telor dadar direbus dalam kapala santang plus bumbu rahasia, jadi dikase nama kapala telor, resep temuan saya dan Jerome di depe rumah tondano). Thanks for all of your advices, some of them are trashes, most of it actually :p but some also work so well. Thanks for ehm… sponsoring me with her. Sorry to disappoint you, tampaknya kita deng dia nda bisa bertahan lama (but that “sassy girl” diplomacy was great). Thanks for eh, eh, tu barbaric deed dang, jang ja bilang2 pa orang nech… All in all; you are one in a million!



Iklan Pertama di Blog ini, dari selebritis asli…
October 19, 2008, 11:09 pm
Filed under: About ME!

Akhirnya, setelah sekian lama, ada juga yang mau beriklan di blog ini. Pengiklan kali ini serius. Dari perusahaan layanan ponsel terkemuka yang baru menyewa bintang yang sedang naik daun untuk jadi host layanan sms selebritis. Ini dia iklannya.

Hai, Aku Juan. Mau tahu kabar terbaru aku? Mau tahu jadwal syuting aku? Atau kapan aku bikin konser kekota kamu. Kamu bakalan kenal banget secara pribadi sama aku. Caranya gampang kok. Ketik REG JUAN NAMAKAMU (Contoh: REG JUAN LINA) dan kirim ke 085240211789. SMS yang kamu terima datang langsung dari HP aku loch! So, tunggu apa lagi? Kalu kamu memang fans berat aku, buruan daftar ke SMS Idolamu!



Company’s Press Release
October 16, 2008, 4:07 am
Filed under: About ME!

Dear Stakeholders,

To be able to compete in this highly technological world, we have decided to rejuvenate our IT system. We realize that IT is the very fundamental part of our daily operation, so the management had decided to procure new IT facilities (servers, computers and operating systems). We ensure that the procurement will be done effectively and professionally. After recognizing the cost and benefits, we believe that the program will create more profit as well as strengthening our ability to compete in the world market. Due to this program, for the time being, our system will be inaccessible. We are sorry for the inconvenience but we believe this program will brings greater benefits for the company, particularly our respectful stockholders. Further information of reactivation of our communication system will be informed at the next press release in the brief future.
Sincerely,
PR Department
Maha Corp.

Setelah diterjemahkan, ternyata pesan diatas artinya begini,

Woi tamang2, kita pe hp ilang, jadi kita pe no lama so nda bisa dihubungi. Kita pe hape ilang gara2 nae mikro, talau cokodidi kong jatuh dari papoji. jadi minta maaf kalu nda bisa dihubungi dalam beberapa waktu dekat, sampai batas waktu yang belum bisa ditentukan. kalu mo hubungi pa kita, dari FS atau kita pe email. kita pe YM le error dari hari snin lalu. kita minta maaf kalu ada katu yang mo coba hub pa qt dari YM mar nda kesampean2.

Salam,

Jagan Siva Khan.



Apa yang saya pelajari dari “Laskar Pelangi”.
October 16, 2008, 3:14 am
Filed under: Ekonomi, Film

Sebuah film bagus baru saja dihasilkan oleh perfilman Indonesia. “Laskar Pelangi” bukanlah film yang sangat-sangat bagus, tetapi adalah film yang luar biasa bagus jika anda bandingkan dengan film Indonesia yang lain. Saya belum baca novelnya, tetapi saya dapat main idea dari film tersebut. Penggarapannya sangat baik, menghibur dan kalau boleh saya katakan, Laskar Pelangi adalah Forest Gump Indonesia, walaupun tidak sehebat “Forest Gump.” Ada dua hal yang muncul di pikiran saya setelah menonton Laskar Pelangi. Pertama, pembuat film mengutip pada bagian terakhir film, salah satu bagian dari UUD 45 bahwa setiap orang punya hak atas pendidikan. Saya teringat teman-teman sekelas saya ketika masih duduk dibangku SD dulu. Mereka adalah orang-orang pintar. Saya selama sekolah tidak pernah jadi yang terbaik di kelas. Saya punya banyak teman-teman pintar, hampir semua dari mereka adalah murid yang rajin dan berbakat, punya keinginan untuk maju. Kami semua punya cita-cita. Ada yang ingin jadi pelaut, polisi, pejabat, insinyur, bahkan ada yang ingin jadi presiden dan Sekretaris Jendral PBB. Tetapi bersama berlalunya waktu, kami sadar bahwa keadaan Negara ini tidak menjamin kami dengan mudah untuk mengejar cita-cita kami. Saya beruntung punya keluarga yang cukup mampu untuk membiayai pendidikan saya hingga level universitas. Tetapi beberapa teman-teman saya harus tinggal di pulau Siau. Melupakan cita-cita mereka, yang saya pernah ingat, pernah kami presentasikan satu demi satu, orang per orang didepan kelas. Saya teringat mereka semua, cita-cita mereka, seharusnya dengan kemampuan mereka, mereka bisa mencapai jauh lebih dari mimpi terindah mereka, tetapi kita tinggal di Negara yang seakan-akan tidak memberikan jalan untuk itu. Selama bersekolah, prestasi terbaik saya adalah juara 2, di kelas 2 SD, setelah itu, juara 2 (apalagi juara 1) adalah impian yang seakan-akan sulit dicapai. Saya ingat teman SMP saya dulu bernama Stephen. Saya tidak tahu bagaimana dia bisa sebegitu pintar dengan kondisi keadaan hidup seperti yang dia alami. Dia bekerja untuk seorang Ko pemilik toko. Ko Limi nama pemilik toko tersebut. Setiap pagi, Stephen harus bekerja sebegitu keras, tetapi dia tetap kesekolah, membuat semua tugas yang diberikan guru-guru, dan kami orang-orang yang punya banyak waktu luang, hanya bisa menyontek tugas-tugas darinya. Selama kami sekelas, tidak pernah ada yang melengserkan dia dari singgasana Juara 1. Saya dengar dari beberapa orang bahwa Stephen bekerja sangat keras di rumah ko Limi, tetapi tetap saja sering dimarahi. Lulus SMP, saya tidak lagi melihat Stephen di SMA. Yang saya dengar, ternyata Stephen sudah diberhentikan oleh Ko Limi, tidak ada yang membayar uang sekolahnya dan dia harus bekerja untuk seorang pribumi yang hanya bisa menawari dia pekerjaan membantu di kebun, dan terpaksa dia harus putus sekolah. Terakhir kali saya pulang Siau, saya dengar Stephen sudah menikah dan tinggal di suatu desa Siau bagian Utara. Hari ini saya ingat wajah mereka, harapan mereka, wajah polos masa kecil kami, dimana tidak ada satupun yang menyadari bahwa begitu beratnya masa depan kami. Bahwa suatu hari nanti, sebagian besar dari kami harus merelakan mimpi kami, tetap menjadi mimpi. Sebagian besar dari kami, akan menghabiskan sebagian besar dari hidup kami, dipulau kami yang terpencil, tanpa masa depan yang cerah sebagaimana yang pernah kami hayalkan. Begitu banyak teman-teman saya yang begitu berbakat, begitu cerdas, punya segala kemampuan untuk menjadi yang terbaik dari masyarakat, tetapi harus menghadapi kenyataan bahwa untuk meraih pendidikan adalah hal yang begitu mahal. Laskar pelangi bukan hanya membuat saya teringat kepada teman-temank, tetapi membuat saya sadar bahwa cerita mereka bukan hanya terjadi di Siau, tetapi itu adalah cerita yang sama terjadi diseluruh Indonesia. Dimana bangsa ini kehilangan begitu banyak bakat-bakat, talenta-talenta, kemampuan-kemampuan, yang begitu berharga, yang harus pupus, karena mereka tidak punya alat untuk menyalurkan kemampuan dan bakat tersebut. Bahwa kita sebenarnya bukan bodoh, tetapi system diNegara ini membuat kita bodoh. Kita tinggal disebuah wilayah yang sangat diberkati Tuhan dengan kekayaan Alam maupun kekayaan sumber daya manusia, yang menunggu untuk meledak, menunggu untuk dimobilisasi, menjadi kekuatan yang luar biasa, tetapi kesempatan itu tak kunjung datang, karena kita hidup dibawah system Negara yang memiskinkan bangsa sendiri.

Hal tersebut membawa kesimpulan kedua yang saya ambil dari film Tersebut. Bangsa ini tidak memerlukan badan usaha milik pemerintah untuk mengelola sumber-dayanya, karena usaha pemerintah tersebut hanya menghasilkan kemiskinan yang lebih besar dari pada kesejahteraan. Dengan kata lain, kita tidak memerlukan BUMN untuk mengelola sumber daya yang bisa kita (badan usaha perorangan) bisa kelola. Belitung adalah pulau yang kaya. Tuhan menganugerahi pulau tersebut dengan kekayaan alam berlimpah, tetapi penduduknya begitu miskin. Tetapi jangan kira hal ini hanyalah nasib pulau Belitung semata. Ini adalah nasib seluruh pulau di Indonesia, termasuk pulau saya Siau. Kita tinggal di sebuah kepulauan yang membuat banyak bangsa iri. Benar kata Koes Plus, bahwa di Indonesia, kita bukan tinggal dilautan. Kita tinggali kolam susu. Laut kita begitu kaya, memberikan semua yang kita perlu untuk bertahan hidup dan bahkan menjadi bangsa yang makmur. Koes Plus bilang, “tongkat, kayu dan batu jadi tanaman.” Tanah kita sebegitu subur. Kita punya hutan tropis terbesar didunia, dengan keaneka ragaman hayati didalamnya yang jauh lebih beragam dari yang dimiliki Negara lainya didunia. Tetapi kenapa kita begitu miskin? Karena kita hidup dibawah “system benalu.” Begitu banyak benalu yang hidup di Indonesia. Dan salah satu benalu itu adalah BUMN yang menguasai begitu banyak sektor ekonomi di Indonesia. Mereka menghisap begitu banyak uang yang sebenarnya bisa digunakan untuk mensejahterakan bangsa ini. Ambil satu contoh, PT. Timah di film “Laskar Pelangi.” Apa yang terjadi ketika PT. Timah menguasai hak monopoli pengelolaan Timah di pualu Belitung? Kesejahteraan hanya menjadi milik segelintir orang. Contoh lain, PT. PLN. PLN adalah perusahaan paling nikmat se Indonesia. Kita semua tahu bahwa tidak ada yang pernah puas dengan hasil kerja PLN, bahkan ada yang bilang PLN bukan Perusahaan Listrik Negara, tetapi Perusahaan Lilin Negara. Tetapi seberapapun bencinya kita terhadap PLN, kita tidak punya hak dan akses untuk beralih pada penyedia layanan listrik lain, karena PLN memonopoli industry Listrik di negeri ini. Banyak lagi contoh lainnya yang akan membuat posting ini terlalu panjang untuk menjelaskan bahwa BUMN hanya menyediakan lebih banyak kemiskinan dari pada kesejahteraan. Sehingga jika anda inginkan jawaban atas pertanyaan bagaimana membuat bangsa ini lebih sejahtera, maka jawabanya adalah saatnya bagi kita semua menyingkirkan peran pemerintah yang tidak perlu dalam perekonomian Negara ini, sehingga kita menjadi bangsa yang lebih makmur, dan lebih utama, menjadi bangsa yang bisa memberikan kesempatan merata bagi semua warganya untuk mencapai yang terbaik dari diri mereka, mencapai mimpi mereka, mencapai yang tertinggi, meraih cita-cita tertinggi yang bisa mereka gapai.



Islamic Syariah system; next Keynesian?
October 2, 2008, 2:56 am
Filed under: Ekonomi

Is US market heading to depression? I hope not. But if it so, can it be another chance for neo-Keynesian? Last week I read an opinion in The Jakarta Post. My deepest apology for the writer for I’ve forgotten her name but if I’m not mistaken the title line is like this: “Saving for your life and afterlife; Get your interest?”  The writer is not an economist but she interested in US crisis and write her opinion for Jakarta Post. The writing is about the opportunity for Islamic banking system to gain from this crisis momentum. She wrote that Islamic system is sounder and more save than conventional banking system. Islamic banking never allowed interest that considered as sin that they call “Riba.” Instead of riba, they use profit sharing system. She stated that, for Islamic banking, money is only the medium… Hmmm, money is only the medium. Money is seen only as a medium. The line draws my interest. It’s seems familiar. Aha, I remember. Of course the same concept offered by one of the greatest economist of 20th century, John Maynard Keynes; “money does not matter.”

After the great depression, Keynes introduced this concept and put aside the concept of monetarist and argues for the greater government intervention in depression to save the economy. Keynes’ concept was greatly influenced US policy at era of Roosevelt’s New Deal, where government spent lots of money to re-stimulate weakening economic. But, Keynes theory cannot be so popular if great depression never took place. Keynes theory gained from the momentum of Great Depression, as well as Fascism in Japan, Germany and Italy, as well as Communism in Eastern Europe. Briefly, lots of Ism, benefited from the depression, depression that was seen as fulfillment of Marx prophecy, the declining of capitalism.

Today, history seems is on the make. Turn on your television and you’ll see that the world seems move toward another depression (but I hope it doesn’t). As Keynesian economy, can Islamic Syariah system gained by the momentum? We can see that Islamic banking is developing now. I saw the advertising in Jakarta Post about World Islamic economic symposium in Kuala Lumpur. They are growing now. In England, Islamic banking is gaining the popularity. I think Islamic banking will not be affected as great as the conventional bank by the depression. So, can they get the gain from the momentum? It’ll depend on how well they manage the situation. For Muslims readers, is the fact draws your interest to stop draw your interest (from conventional bank)? J



Betraying laissez-faire
October 2, 2008, 2:47 am
Filed under: Ekonomi

Laissez-faire economic is on the stake now as US government proposing a “bail-out” plan of$ 700 billion to save US economic from recession. Yesterday night I spent the whole day at Sedona Hotel for MIS teacher and staffs retreat so I have the access to BBC channel (kasiang kang, nanti kalu maso hotel baru boleh bauni L). As you know the story, US lawmakers reject the plan and trigger the largest meltdown of the market since great depression. The tremor is not only in USA, but also the whole world as the negative sentiment spread to market and all of the investors. Members of the congress reject the plan mostly for two reasons. First, numbers of requested fund is too big. Some of the congressman said that the bail-out is a golden parachute. 700 billion is too much. The rejection is not only about the number but also where that money will go. That money belongs to taxpayer, and has to save only certain people that had been benefited by situation before the crisis, among them are the highly paid CEO’s of Wall Street companies. Second reason is the bailout plan remarks the reassert of American socialism. That US government will again play greater role in economic that are believed by some people will hampered the economy.

What drew my interest yesterday was the reaction of the people in Wall Street when they heard the news of the rejection. I watched some people that start yelling and cursing the Congressmen said they bring US economic to the big problem.   That picture struck me up, because as a supporter of free-market economy, I think these people has gone too far. They are the people who are benefited by the laissez-faire principle, but now they yell for government. At the time of abundance they asked government to stay away from their business. Now, they crying and cursing, ask government to assist them. I actually from this blog am not blaming anyone, I realize that $700 billion is a lot of money and everybody now it will refresh the market, lot of Wall Street people will be benefited if the proposed bill is approved. But I just fill uneasy because realizing that principle of laissez-faire has been betrayed. EVERYONE WHO ASKS FOR HELP FROM GOVERNMENT TO SOLVE THE PROBLEMS THAT CAN BE HANDLED BY THE MARKET MECHANISM IS BETRAYING PRINCIPLES OF CAPITALISM. I remember the word said by Ronald Reagan that I read some month ago, I forget the sources and exact word but it seems to be like this; “9 most deathly words in English: We are government, we are here to help you.” But these yeller seems have forgotten the words.

The Incompetence of Bush’s Administration.

I agree with what stated by one of Congressman about this bill; “this is a large number of bail-out with less workouts.” I think the main cause of market meltdown yesterday is because this big bailout is promised to the anxious market. $ 700 billion can be like an oasis on the desert at this situation, and when you realize it only an illusion, you react wildly. Same thing happen with the market. Everyone (investors, bankers, lenders, etc) are put their hope at the $ 700 billion promised by US government. But when the plan rejected, they react wildly. Sentiments become a behemoth in the market. Everyone is afraid about what are going to happen next. So it triggers the market meltdown.  (This is my theory. I’ll take the responsibilities for all errors.. Please correct me if I’m mistaken, you correction will be greatly appreciated.)