From Obama’s Inaugural Ceremony
So much to say for that chilling Tuesday in Washington, but there are two things that I can notice and write down here about the occasion that was considered as the biggest U.S. president inauguration service.
First, the address remarks the anti-climax of Obama’s long and marvelous journey to the White House.It was too far from Obama’s greatest speech. The monotonous tone, boring words and sleepy atmosphere, juxtaposed with chilling winter morning. The speech delivered without jokes, without sentences that can make you jump up for standing ovation, without lines that worthy to be quoted, seems usual and of course, seems not Obama! I think (my personal observation), the quality of Obama’s speech decline gradually since his first remarkable “2004 Democratic Convention” speech. I thought the worst will be his victory speech in Chicago when he was acknowledged as President-elect. But we witness that that Inaugural Address was even bored! I think, if Obama had shown that kind of speech during the campaign, I don’t know if he can win the race. But, congratulation for Obama, I’m still your biggest fan.
Second, for the first time in my life, I’m not in agreement with Obama. He said that “small or big government is not matter now.” Mr. Obama, size of government is ALWAYS MATTER!!! Facts show that big government is always a problem!! Don’t make this statement to justify your bigger government role when you are in office! We don’t need bigger government now, but we need wiser government. Before last Tuesday, I always perceived Obama’s speech will replace Reagan’s address as my best U.S. President Inaugural Address. But it wasn’t.
But I always admire Obama and he always be my best U.S. president, at list until today.
George “Sinatra” Bush.
Thanks to youtube.com, I can watch Bush last Presidential press conference. I have nothing to say about him, he could steal presidency from Gore, attack Iraq for no logical reason, violate human rights under U.S. banner out and within American soil, never ratify Kyoto protocol, and lead American to global recession, but he admitted that has nothing to regret.Even in the time when the curtain falls for him, he still stands in what he believe about what is best for American! He did it in his way, he plan each chartered course, and end the show with shoes aimed to his face.
Petisi!!!
Atas Nama Dewan Direksi Perusahaan Listrik Negara, semua karyawannya, dewan direksinya dan semua stake holdernya.
Teruntuk Tuan-Tuan Angota Mahkamah Konstitusi yang terhormat.
Sebelumnya kami sangat berterima kasih atas monopoli yang sudah anda berikan kepada kami selama ini. Kami Perusahaan Listrik Negara sudah sekian tahun menjadi penyedia tunggal energy Negara tetapi sekarang tampaknya kami punya saingan baru yang bisa menyulitkan kegiatan usaha kami. Pada saat ini kami punya tiga saingan potensial yang bisa merusak peningkatan keuntungan kami. Pertama adalah perusahaan lilin. Tampaknya pengusaha lilin sudah mengambil porsi terlalu banyak dari jasa penyedia layanan penerangan kami dan kami juga menganggap bahwa lilin sekarang sudah menguasai hajat hidup orang banyak dan dengan demikian kami mengusulkan agar pemerintah juga berhak mengambil alih monopoli terhadap usaha lilin. Hal yang sama kami lihat terjadi pada saingan kedua kami; produsen genset yang sudah menikmati terlalu banyak dari keuntungan perusahaan listrik ini. Sehingga kami usulkan agar perusahaan genset juga dinasionalisasi.
Perusahaan terakhir yang paling membuat kami kesulitan karena mereka menawarkan jasa yang jauh lebih murah dengan kualitas yang bagus sehingga menyulitkan kami. Ketika dia datang, penjualan kami bahkan penjualan perusahaan lilin dan genset menurun drastis dan banyak konsumen kami beralih kepadanya. Perusahaan itu adalah matahari. Kami usulkan agar kiranya Mahkamah Konstitusi bisa mengesahkan sebuah undang-undang yang mengharuskan agar semua warga pada siang hari menutup jendela, pintu, celah-celah, agar mereka tidak mendapatkan sinar matahari sehingga meningkatkan pendapatan kita dan pendapatan perusahaan lilin dan genset, ketika nantinya sudah di-Nasionalisasi. Bukankah menurut pasal 33, semua yang ada dibumi adalah milik Negara, maka demikianlah juga dengan sinar matahari yang menyentuh bumi adalah milik Negara dan digunakan sepenuhnya untuk kemakmuran orang banyak melalui monopoli Negara.
Yang terakhir, kami ingin berterima kasih karena tidak memaksa kami menurunkan harga walaupun harga BBM sudah turun. Melihat kecenderungan bahwa warga lupa untuk meminta penurunan harga walaupun pelayanan kami jelek, maka saya melihat kesempatan dalam hal “mudah lupa” ini. Oleh karena itu, saya usulkan agar Mahkamah Konstitusi bisa membujuk Tuhan agar mau menutup matahari. Hal ini akan mengakibatkan pendapatan kita meningkat. Tetapi tidak perlu khawatir dengan protes warga, karena tampaknya mereka mudah lupa dengan banyak hal sehingga lama kelamaan mereka lupa bahwa dahulu kala pernah terjadi siang-sebagaimana mereka lupa sulitnya mati lampu setelah listrik menyala lagi.
Tuan-tuan, dengan demikian dari kami, dan jangan lupa bahwa besok adalah tanggal giliran pemutusan listrik didaerah anda. Tetapi kami tidak perlu khawatir karena marah anda pasti akan hilang (dilupakan) setelah listrik menyala lagi tiga jam kemudian. Dan kalau anda marah, kami tidak peduli karena anda tidak bisa beralih keperusahaan lain. Silahkan beli lilin dan genset yang sebentar lagi akan dinasionalisasi.
Karangan ini terinspirasi dari Karya Frederic Bastiat : A Petition
Juan tentang Persahabatan!!
This writing is response to my comrade, Jeremiah’s writing; Friends For-over.
Bapak Jerome, terus terang, anda membuat tulisan yang luar biasa tentang persahabatan. Seperti yang saya sudah janjikan kepada kepada pembaca sekalian sebelumnya dalam tulisan hadiah saya untuk saudara Jerome, bahwa saya ingin menulis tentang persahabatan. Hari ini niat saya terkabul, dan inilah cerita saya tentang persahabatan.
Tentu saja persahabatan bukanlah bahan baru, in my computer I have a writing about friendship dated from 1st Century B.C. written by Roman orator, Cicero in which he defined friendship asa complete accord on all subjects human and divine, joined with mutual goodwill and affection. It is also wonderful that Cicero addressed that friendship can only be formed by good men. It reminded me with a statement: Your success with your life determined by your friendship. Setelah menimbang begitu lama saya akhirnya datang dengan kesimpulan yang tidak lama lagi anda akan ketahui.
pernyataan saudara Jerome, friendship for-over adalah bisa saja untuk sementara kita sebut sebagai hal yang tepat. Persahabatan sangat mudah luntur, jauh lebih mudah dari pada hubungan social lain seperti, perkawinan, persaudaraan dan cinta yang beberapa diantaranya berlangsung dalam jangka waktu sangat panjang, bahkan sampai pada akhir hidup seorang individu. Kenapa demikian? Tentu saja seperti kata Lewis dalam bukunya “The Four Loves” bahwa persahabatan adalah cinta kasih yang paling tidak biologis. Apa maksudnya? Coba kita bandingkan persahabatan dengan jenis hubungan yang lain, dalam hal ini, hubungan cinta dan hubungan keluarga.
Cinta atas dasar Gen.
Petanyaan yang sering saya tanyakan di kepala saya adalah; kenapa ibu, bapak dan kakak saya lebih menyayangi saya dibanding orang lain. Saya kurang mendapat jawaban yang memuaskan. Tentu saja jawaban paling tolol, dungu, gampangan dan pragmatis adalah jawaban orang tak mau berpikir seperti: karena kamu anak dan saudara mereka. Itu adalah jawaban gampangnya. Menurut saya, cinta mereka yang begitu besar adalah karena gene yang saya bawa. Saya rasa, semakin dekat hubungan gen kita, semakin kuat cinta kita. Contoh nyata adalah cinta orang tua terhadap anaknya. Pasangan suami dan istri pasti sangat mencintai anaknya melebihi anak orang lain. Ini tentu saja karena dua alasan. Pertama, karena hasrat kita untuk meneruskan keberadaan species kita. Tetapi alasan ini tentu saja tidak cukup, karena kalau memang hanya ini alasannya, tentu saja sang Pasutri akan mencintai anak orang lain, karena bukankah anak orang lain tersebut juga menjalankan tugas meneruskan keberadaan spesies. Tetapi tidak begitulah keadaannya. Pasutri pasti mencintai anaknya melebihi anak orang lain. Jawabannya tentu saja karena anak mereka mewarisi gen mereka. Tentu saja mereka saling berbagi gen mereka terhadap sang anak.
Bagaimana dengan kasih antara para keluarga? Antara kakak dan adik, paman dan ponakan. Saya rasa, lebih mirip kode dalam gen kita, maka cinta kita semakin besar. Kakak dan adik tentu saja punya kemiripan gen, karena mereka berbagi gen dari sumber yang sama, yaitu orang tua mereka. Kita sering mendengar bahwa seorang saudara kembar sangat-sangat menyayangi saudaranya. Tentu saja demikian karena mereka punya gen yang sangat mirip. Secara sederhananya, jika seorang manusia adalah computer, maka ketika dia diproduksi dari pabrik, maka software yang diinstal kedalam otaknya sudah membuat dia otomatis mencintai anaknya, ibunya, ayahnya, saudaranya, lebih mudah dari pada mencintai orang lain. Software ini bekerja dengan cara mengidentifikasi kemiripan gen. Lebih mirip gen, maka lebih mudah untuk mengasihi. Inilah dasar dari cinta keluarga. Jadi, inilah alasan kenapa secara alami kita mencintai keluarga kita melebihi yang lain. Tentu saja sebagaimana beberapa produk punya cacat, begitu pula system dalam diri kita manusia yang sudah dirusak dosa ini. Ada beberapa manusia yang rusak sehingga dia tidak mencintai gennya secara semestinya, seperti terjadi kasus pembunuhan atau penjualan anak. Tetapi kita menganggap mereka “rusak” (atau kata kerennya “abnormal”) karena kita tahu yang “tidak rusak” (atau “normal”) mencintai anak mereka, karena kita software di otak kita memang dirancang demikian. Kenyataan tersebut membuat pernyataan bahwa “ibu tiri lebih kejam dari ibu kandung” sebagai pernyataan yang bukan mitos belaka. Karena ibu tiri kemungkinan akan punya cinta yang lebih sedikit kepada anak tirinya dibandingkan dengan anak kandungnya atau suaminya. Bagi ibu tiri yang tidak demikian, kami bisa asumsikan bahwa software otaknya “rusak” J.
Bagaimana dengan cinta? Tentu saja cinta adalah perasaan yang paling membutakan, yang sekali lagi didorong oleh GEN. Ya! Keinginan kita untuk meneruskan gen kita. Nah, kedua jenis hubungan ini memang sudah diprogram dalam otak kita. Sudah menjadi kodrat bagi kita untuk mengasihi saudara kita dan nantinya akan jatuh cinta dan meneruskan keturunan.
Sehingga demikian, memang persahabatan adalah hubungan yang paling tidak biologis, hubungan yang paling tidak “dipaksakan” oleh alam, atau dengan kata lain, lebih murni dari pada yang lain. Tetapi sebagaimana “yang murni” tersebut sangat susah dicari, begitu pula bentuk hubungan kasih yang paling murni ini; persahabatan. Anda ketika lahir, diprogram untuk mencintai saudara dan, suatu hari nanti, istri anda. Tetapi anda tidak diprogram untuk menyukai sahabat anda. Sebagaimana kata Jacques Dellile : “Takdir memilih kerabatmu, Engkau memilih sahabatmu”. Jika mengasihi kekasih atau saudara adalah hasil proses alam, maka mengasihi sahabat adalah hasil suatu komitmen murni, tes yang lama yang akan membuktikan kesungguhan dan kesiapan anda untuk dikasihi dan mengasihi, untuk menghargai dan dihargai, dan untuk menghormati dan dihormati.
Banyak orang menyatakan bahwa hubungan yang paling membutuhkan kesetiaan adalah perkawinan, tetapi ini adalah pernyataan yang luar biasa salah. Persahabatan lebih membutuhkan kesetiaan dari pada perkawinan. Perkawinan diikat oleh cinta, dan kita semua tahu bahwa cinta itu buta. Kita semua yang pernah jatuh cinta, jujur, berapa kali kita berusaha membuat “excuse” untuk membenarkan kesalahan orang yang kita cintai, padahal nyata-nyata dia salah. Kenapa demikian? Karena cinta buta, membutakan nurani kita akan kebenaran. Tetapi tidak demikian dengan persahabatan. Sebagaimana dengan bijak Bussy-Rabutin pernah menulis “Cinta dari kebutaan, Persahabatan dari pengetahuan.” Persahabatan tidak pernah mengenal kata maaf dua kali. Sekali anda salah, maka percayalah, persahabatan tersebut hancur 100%. Persahabatan tidak punya excuse, ketika anda salah, anda gagal, inilah ujian kesetiaan yang sebenarnya, ujian yang pasti gagal dilalui oleh banyak orang yang menganggap enteng kesetiaan persahabatan yang murni. Orang yang menganggap seorang teman tidak lebih dari seorang yang kebetulan diruang dan waktu yang sama dengannya. Saudara Jerome, pasti anda ingat suatu hari kita sedang makan dining. Sudah tradisi kita semua bahwa tidak ada yang meninggalkan meja makan sebelum semua selesai makan kecuali untuk alasan yang sangat mendesak dan masuk akal. Tetapi ada satu teman kita yang tidak mengikuti tradisi ini, yang datang dan pergi sesukanya dan tidak menghormati perkumpulan Hall 2 B pelogat tanah Papua. Dan anda ingat ketika sang “you know who” (bukan voldemort) tersebut pergi meninggalkan meja, I said; ”pace sana punya banya kenalan tapi susah cari sahabat. Orang yang hargai sesungguhnya sama dia pasti Cuma dia pung maitua. Voltaire pernah berkata; “ The wicked can have only accomplices, the voluptuous have companions in debauchery, self-seekers have associates, the politic assemble the factions, the typical idler has connections, princes have courtiers. Only the virtuous have friends.” (Dictionnaire philosophique, “Friendship”)
Saya rasa yang Paulus maksud dengan Kasih yang dia jelaskan dalam 1 Korintus 13 adalah kasih universal kemanusiaan, tetapi ijinkan saya menyatakan bahwa kasih hubungan persahabatan adalah yang paling mendekati deskripsi Paulus akan kasih. Bacalah yang ditulis Paulus, dan bandingkan dengan persahabatan. Ya, persahabatan itu sabar (orang nda sabar disisi sabel), murah hati (nda ada orang yang mo ba teman deng orang kikir), tidak memegahkan diri, tidak sombong (sapa mo batamang deng orang sombong), tidak melakukan yang tidak sopan (nga mau ba teman deng orang yang ludah nga pe muka?), bersuka cita karena kebenaran, dan yang utama persahabatan tidak Cemburu (ayat ke-4). Ketika anda mencintai seseorang (pacar atau istri anda), maka anda punya klaim kepemilikan pribadi atas diri pasangan anda. Orang ketiga adalah bencana, orang keempat adalah malapetaka dan orang kelima adalah kiamat. Dalam cinta eros, anda harus egois dalam mempertahankan hak diri anda atas satu orang tersebut (dan kami menghargai egoism anda). Anda akan cemburu (HARUS, kalau anda benar-benar cinta) ketika ada orang lain diantara hubungan asmara anda.
Tetapi tidak demikiannya dengan persahabatan. Sebagaimana yang dinyatakan Lewis, Persahabatan menjadi lebih semarak ketika dua menjadi tiga, empat dan seterusnya. Persahabatan akan berlipat ganda sebagaimana jumlah anggotanya bertambah. Persahabatan tidak cinta diri, karena orang yang terlalu cinta diri tidak mungkin punya sahabat. Dia adalah hubungan yang paling ber-jejaring, tetapi berkata sahabat lebih dari sekedar “sekutu”. Sekutu sebagaimana sahabat adalah hasil dari kesamaan visi, keinginan atau kepentingan. Tetapi persahabatan lebih dari sekedar kesamaan visi dan kepentingan tersebut, dia jauh lebih murni, dimana dua atau lebih karakter diuji dan akhirnya bersatu seperti kata seseorang; “persahabatan adalah satu pikiran dalam dua tubuh.” Tetapi dua akan lebih semarak ketika yang ketiga datang, yang keempat, kelima dan seterusnya. Seperti kata Paulus; dua lebih baik dari pada satu, dan tiga lebih baik dari pada dua. (tetapi ini bukan pembenaran bagi orang-orang yang punya 700 lebih teman di friendster. Ng cari teman or pelanggan MLM?)
Begitu mulianya persahabatan, sehingga pada banyak kasus, yang terbaik dari diri manusia datang dari persahabatan. Sebagaimana yang ditulis di National Geographic edisi “Cinta” katanya; “kalau kita terus-terusan jatuh cinta, maka penemuan terbesar manusia hanyalah coklat yang lebih manis, atau mawar yang lebih cantik.” Kekristenan dimulai oleh para sahabat yang berkumpul dan mulai menyebarkan kebenaran yang mereka percayai, “Royal Society adalah sebenarnya sekumpulan sahabat yang berkumpul untuk membicarakan hal yang mereka (dan sedikit orang lain) gandrungi” (Lewis), Islam disebarluaskan bukan oleh keluarga dan kerabat, tetapi oleh para SAHABAT Nabi. Memang banyak penemuan adalah hasil cinta diri, tetapi disadari atau tidak adalah by-product dari persahabatan. Kita berutang pada cinta kasih asmara dan kasih kekeluargaan atas jasa mereka untuk memastikan species kita tetap bertahan, tetapi kita berutang pada kasih persahabatan atas kepingan besar peradaban umat manusia.
Nah, this is the worst part. George Eliot menyatakan bahwa “Persahabatandimulai dengan rasa suka dan rasa terima kasih. Akar yang gampang untuk dicabut.” Seperti yang saya kutip dari Lewis diatas bahwa persahabatan adalah hubungan yang paling tidak biologis, sehingga paling gampang hilang. Saya akui hal tersebut. SMS dari teman-teman UNKLAB saya berkurang dari hari ke hari, sebagaimana juga SMS yang saya kirim kepada mereka. Sebagaimana saudara Jerome katakan Friendship is not forever but for-over. Tetapi saya rasa tidak demikian. Sekarang kita bisa memuja cinta eros, till death do us part, love forever, my love will never die, itulah kata-kata lagu cinta. Satu-satunya lagu persahabatan hanyalah “kepompong” (bukan kedondong, licing diluar baduri didalam). Tetapi saya percaya bahwa suatu saat kita akan kembali bertemu untuk memulai persahabatan yang akan kekal selama-lamanya. Sebagaimana kata Voltaire yang saya kutip diatas (walaupun dia Atheis), “only the virtuous have friends.” (Hanya orang baik yang punya sahabat). Dan kita tahu, hanya orang beriman dengan perbuatan baik yang masuk ke kerajaan Allah. Ketika kita masuk ke sorga (kalau saya sampai ke sana, Amin!), kita tidak datang sebagai suami-istri, atau sebagai ayah dan anak, atau sebagai sepasang kekasih yang dimabuk asmara. Kita datang sebagai para sahabat. Kita lewati the pearly gate sebagai orang-orang yang telah lolos ujian karakter, dimana ujian tersebut menguji apakah kita adalah anak yang baik, kita adalah suami atau istri yang baik, ayah atau ibu yang baik. Tetapi ujian tersebut adalah ujian yang mudah. Mudah menjadi ayah yang baik untuk anakmu, atau mencintai istrimu. Ujian yang sebenarnya adalah, apakah engkau seorang yang baik seutuhnya, apakah engkau seorang yang punya sahabat? Apakah engkau seorang yang baik sehingga engkau punya sahabat? Ada suami yang baik, ada suami yang jelek. Begitu pula ada anak yang baik dan anak yang buruk. tetapi tidak mungkin ada sahabat yang buruk. Karena yang buruk tidak mungkin punya sahabat dan yang tidak punya sahabat mungkin tidak masuk sorga. Seperti kata Yesus, tidak ada kasih yang lebih mulia dari pada seorang yang menyerahkan nyawanya bagi sahabatnya. Mudah menyerahkan nyawa untuk istri kita, untuk anak kita, untuk ayah atau ibu kita. Tetapi adalah hal yang sulit menyerahkan nyawa bagi sahabat kita. Tetapi disitulah letak kemurnian persahabatan dalam menguji sifat kita. Hubungan yang paling menguji karakter adalah kasih persahabatan.
Suatu hari nanti kita akan lewati gerbang surga, bukan sebagai pasangan kekasih, bukan sebagai keluarga-keluarga (seperti gambar di buku-buku saksi Jehovah), tetapi kita berjalan sebagai kumpulan sahabat-sahabat. Tentu saja Allah akan menyatukan kita semua, bind us together with the grandeur kind of love, tetapi jenis cinta kasih yang bagaimana? Asmara? Sulit untuk membayangkan, tetapi yang jelas ketika kita hidup didunia, tidak ada kasih yang mendekati kemurnian kasih sorgawi itu, melebihi kasih persahabatan. Ralph Waldo Emerson menulis “Seorang Sahabat bisa dianggap sebagai maha-karya Alam” (Essay on Frienship). Tetapi menurut saya, sahabat adalah hasil karakter kebaikan ditambah dengan keajaiban kasih yang diberikan Allah, karena Allah itu kasih. Untuk semua sahabatku sekarang, terima kasih untuk segalanya. Untuk kawan lama yang mungkin pernah saya kecewakan, maaf untuk segalanya. Semoga kita bisa menjadi sahabat. Untuk semua sahabat-sahabatku diseluruh pelosok Nusantara, makan diluar (ci ati, palu butung dll), nae mikro, bayar PS2, dsb, may come with the price tag and cost me (sometimes cost you) something, but you and those moments are (let me say it from the bottom of my heart): PRICELESS (terinspirasi iklan Mastercard hehehehe)… Jika suatu saat nanti kita capai sesuatu yang luar biasa (kalau memang kita bisa capai, hix.. hix..) atau kita kaweng, atau pecahkan rekor dunia, ketahuilah bahwa pencapaian duniawi terbesar saya adalah ketika saya merebut hatimu dan membuatmu yakin dalam hatimu (tanpa perlu engkau ungkapkan) bahwa aku sahabatmu. Persahabatan memang tidak seperti cinta, ketika dua orang dimabuk cinta, mereka akan ungkapkan cinta itu sesering waktu dan bibir mereka mengijinkan, tetapi tidak demikian dengan persahabatan. Engkau tidak perlu katakan bahwa aku sahabatmu, tetapi itu terpancar dari apa yang kita lakukan setiap hari. (Love) Eros may naked body, friendship naked personality –C. S. Lewis-
From quiet homes and first beginning,
Out to the undiscovered ends,
There’s nothing worth the wear of winning,
But laughter and the love of friends.
Hilaire Belloc (1870 - 1953)
French-born British writer.
Verses, “Dedicatory Ode”
Jawaban Untuk Comment terpanjang di Blog ini Bag. 2 (Hopefully; Tamat)
January 11, 2009, 5:24 pm
Filed under:
Film
Ini tulisan aslinya, yang dibawah salah judul mar nda bisa tahapus di FS, servernya lagi error kata!
Setelah melakukan pekerjaan terberat dalam hidup saya, tibalah saya dengan balasan atas comment terpanjang di blog ini dari seorang penggemar berat film india. Pekerjaan berat tersebut adalah; menonton 2 film India dalam satu hari. Untungnya film yang kedua hanya saya tatap (TATAP! Bukan menikmati) selama 45 menit. Khalil Gibran pernah berkata bahwa “tidak pernah ada pidana yang lebih berat dari pada seorang wanita yang terpaksa menikahi orang yang tidak dicintainya.” Tetapi menurut saya ada yang lebih berat: menonton film India yang tidak anda sukai, tetapi anda terpaksa menontonnya. Mr. Komentatormemberi saya begitu banyak film, dan kalau saya tonton semuanya, maka butalah mata yang sudah error ini. Karena itu, saya putuskan untuk memilih film yang terbaik. Saya dengar film Om Shanti Om adalah film bertabur bintang berbujet besar produksi bollywood, hhmm, jadi itulah film pertama. Ok., sebagai rasa hormat saya pada karya seni yang indah ini, mari kita bahas yang baik-baiknya dulu. Film ini tentu saja adalah sebuah film bertabur bintang dengan biaya yang mahal. Sutradaranya sangat kreatif, karena setting dari 1 jam pertama film ini adalah tahun 70-an, dengan apik mereka menggabungkan beberapa bagian film asli tahun 70-an sehingga atmosfirnya kena. Film ini juga punya selera humor yang baik dan bisa membuat saya tertawa. Kenapa saya tahu film ini bertabur bintang? Karena beberapa wajah pemain india yang sudah akrab bagi saya ada difilm ini, mereka adalah mantan bintang ternama tahun 70-an, mereka bisa bandingkan dengan Sharukh Khan tahun 70-an. Nah, kalu anda mau cari hiburan yang komplit, ada lagunya, ada percintaannya, ada balas dendamnya dan lain sebagainya, silahkan nonton film ini.
Nah, itu baik-baiknya, sekarang mari kita bahas yang ancurnya. Dalam 1 jam pertama, saya belum dapat cerita ini mau dibawa kemana oleh sang sutradara. Saya tidak tahu apa sebenarnya konflik yang akan terjadi sehingga saya belum tahu apa gunanya saya tonton film ini. 1 jam pertama diisi dengan hiburan dangkal, tanpa manfaat, walaupun diselingi dengan humor yang cukup menghibur tetapi digaringkan oleh acting yang kadang kala khas India: dibuat-buat dan terkesan over-acting. Bayangkan! Satu jam pertama saya tidak tahu apa tujuan film ini. For 1 hour!! 1 precious hour, for nothing. Apa isi otak sutradara ketika dia membuat film ini?! What a waste of celluloid. 1 jam!! Hanya diisi dengan cerita basi percintaan tak berguna, sharukh khan berbicara dengan gambar yang dia cintai, menyelamatkannya dari api, dsb, sesuatu yang sebenarnya bisa ditampilkan dalam lima menit, diperpanjang menjadi satu jam, waktu yang cukup untuk membuat penasaran penonton berubah menjadi rasa muak, rasa kagum berubah menjadi ingin muntah. Tetapi sebelum saya muntah, akhirnya saya ingat bahwa ini adalah uneg-uneg sebuah budaya yang haus akan cinta. Orang India menurut saya adalah bangsa yang haus akan cinta, cinta yang dirayakan secara kolosal diselingi tarian ratusan orang di film ini, adalah hal yang tidak pernah dirasakan kebanyakan orang India, dimana cinta bagi kebanyakan mereka adalah hal yang haram, karena rasa cinta adalah ancaman bagi system tua dimana para orang tua akan memilih jodoh bagi anaknya untuk melindungi kemurnian ras dan kasta yang mengalir dalam darah mereka. Itulah mengapa cinta adalah menu tetap dari setiap film bolywood, karena menghayalkan cinta bagi orang India, membayangkan dimabuk asmara bagi mereka, adalah sama halnya dengan anak barat menghayalkan terbang dengan kostum Superman. Dan sebagaimana Superman sangat menjual bagi anak-anak barat, begitu pulalah tarian, cerita, dan romantisme di India. Makanya jangan heran jika sebuah film menghabiskan seluruh satu jam pertama film hanya untuk saling berpelukan, berkenalan, bernyanyi, saling memuji, saling bersiul, membelai dan berpelukan, tetapi anehnya tanpa bercinta. Ok. Memang adegan ini menghibur bagi orang para penggemar film gampangan dan romantic yang dangkal dan tentu saja menghibur bagi sebagian besar orang India, tetapi bagi saya dan penggemar film serius lainnya, hal ini tidak lain hanyalah hal yang membuang waktu.
Akhirnya setelah menunggu sekian lama, pada menit 53 barulah muncul konflik pertama dalam film ini. Dan coba tebak, konfliknya terungkap secara sooooooooooooooooooooooooooooo INDIA. Sang tokoh utama, mengintip dan melihat sang tokoh jahat melakukan kejahatannya. Ada dua kali kenyataan terungkap setalah sang tokoh utama “mengintip”. Pertama, ketika sang tokoh wanita mengaku dia hamil, yang berikut ketika sang tokoh jahat berusaha membunuh tokoh wanita yang dicintai tokoh utama. Sebuah cerita dimana alurnya terungkap dengan jelas setelah adegan “mengintip” mengungkapkan bahwa cerita tersebut MURAHAN. Beberapa sinetron masih gemar menggunakan trik gampangan ini. Beberapa variasi dari mengintip ini seperti; penjahat mengaku dia jahat kepada orang lain, tidak disadari sedang didengar oleh sang tokoh utama atau sebuah kosnpirasi jahat yang diketahui penonton setelah sang penjahat berbicara dalam hati, dengan adegan kata hati sang tokoh didengar penonton, ehehehe, tolol. Cukup menghibur untuk ibu rumah tangga atau penggemar sinetron.
Dendam India dan Gandhi.
Sebagaimana yang saya utarakan diatas bahwa adegan percintaan yang berlebihan memang menghibur di perfilman India, tetapi saya tidak menemukan alasan kenapa tema “dendam” sangat menjual di India. Bahkan film yang sekaliber “Om Shanti Om” mengusung tema dendam. Coba anda perhatikan film India doeloe, ketika adegan final dimana sang tokoh baik akan menghabisi tokoh jahat, sang tokoh jahat tidak langsung dihabisi tetapi akan dipukul, disiksa, di-ojo sepuas-puasnya oleh sang tokoh baik seakan-akan dia sedang memuaskan dendamnya pribadi, dan tentu saja memuaskan dendam penonton yang sudah geram selama tiga jam. Setelah disiksa sekian lama, tuan Takhur diobok-obok wajahnya lalu meninggal dunia lalu terdengarlah sirene polisi yang datang membereskan suasana dan mengakhiri film.
Adalah sebuah ironi yang patut disesalkan atas nama kemanusiaan karena sebuah tema dendam dan kebencian begitu menjual disebuah Negara yang melahirkan seorang penuh kasih Mahatma Gandhi, sebuah Negara dimana Bunda Theresa bekerja dengan penuh kasih, Negara pertama yang menunjukan kepada dunia bahwa Kasih tanpa perlawanan mampu mengalahkan Ingris, kekaisaran terbesar didunia. Mungkin tekanan ekonomi yang berat ditambah system keadilan yang tidak berjalan baik sehingga dendam begitu laris manis. Bahkan tidak cukup menggerutui system peradilan sekuler, film “Om Shanti Om” berspekulasi dalam ceritanya dan mengambil peran Tuhan dalam membalaskan dendam. Sebuah gerakan kemanusiaan tampaknya perlu di hembuskan di perfiliman India, yang bukan saja membombardir film dengan adegan cinta romantisme, tetapi juga kasih persaudaraan, persahabatan dan empati.
Saawirya
Film berikut yang saya tonton adalah Saawirya, yang dibintangi bintang terkenal, dan yang lebih membuat saya terkejut, ternyata film ini distributornya adalah Columbia Pictures. Tetapi singkirkan dulu kenyataan Columbia Pictures tersebut, terus terang, saya tonton film ini hanya 45 menit awalnya sampai dia bertemu sang tokoh wanita yang dia cintai. Saya tidak melanjutkannya lagi, Karena saya tidak mampu, batin saya berontak ingin menghentikan tubuh saya menikmati film ini. Saya tidak tahu bagaimana mengungkapkannya tetapi, haruskah saya pakai kata ini, saya JIJIK dengan film ini. Saya tidak tahu lagi harus menggambarkan bagaimana, tetapi, film ini terlalu jelek untuk dibela-bela oleh sang komentator. Saya tidak dapat melukiskan kejelekannya. Saya ingat novel Sidney Sheldon yang pernah saya baca dimana sang kritikus mengkritik lukisan dengan kalimat ini: “seharusnya pelukisnya yang digantung, bukan lukisannya.” Tampaknya kata-kata yang sama perlu saya berikan, tetapi saya tidak menemukan kata-kata yang tepat untuk diaplikasikan kepada film dan pembuat filmnya. Tetapi tingkat jijiknya sama, hanya kemampuan linguistic saya yang tidak mampu mendeskripsikan betapa jeleknya film ini. Setiap menit yang saya lewati untuk menonton film ini adalah siksaan batin, melihat sang bintang menyanyi, menari, melempar bola, bernyanyi setengah telanjang diatas piano (mungkin untuk memikat penonton wanita), melihat dialog yang, iiihhh, terlalu sukar diutarakan.
Perfilman India harus berubah.
Memang harus diakui bahwa melakukan perubahan kadang-kadang adalah hal yang sulit dilakukan. Tetapi perubahan adalah hal yang tidak terhindarkan lagi dalam perfiliman India. Tiga jam adalah waktu yang terlalu lama untuk cerita yang sederhana, yang bisa membuat film tersebut terlalu dangkal untuk dinikmati. Apa salahnya sih merubahnya menjadi dua jam? Bukankah ini saatnya mendidik penonton tentang efisiensi biaya, celluloid dan waktu. Apa salahnya film India tanpa music dan tarian ketika music dan tarian tersebut memang tidak dibutuhkan dalam cerita. Saya pikir, music dan tarian yang tidak enak dipandang dalam sebuah film, hanya berfungsi sebagai pembuat kesal penonton, sebagaimana kesalnya anda ketika ketegangan adegan dipotong iklan ketika menonton TV. Menurut saya, film india punya sejuta potensi. Seperti film Om Shanti Om, punya humor yang baik, punya efek, pengambilan gambar yang baik. Tetapi menghibur semua orang bukanlah hal yang mudah. Anda tidak bisa menghibur penggemar drama romatis, drama keluarga, action, thriller horror, thriller misteri, dan penggemar music lewat satu film. Tetapi inilah yang sering dilakukan oleh pembuat film India, hiburan satu paket lengkap, makanya bisa sampai tiga jam. Kenapa tidak membuat satu film yang menghibur karena actionnya, atau karena romannya, atau hanya karena humornya. Ambil contoh Kuch Kuch Hotta Hai, bisa menghibur karena memang hanya berpusat pada roman, juga diimbangi dengan music yang enak didengar. Tetapi masih punya kekurangan dalam run time-nya yang terlalu lama.
Anda juga harus berubah Mr. Komentator, berhentilah membela sebuah karya seni hanya karena itu dari daerah anda, atau anda keturunan tempat tersebut. Hakimilah secara adil, anda tahu, saya bisa menghina film India karena ekspetasi saya dari pengutaraan anda tentang film India. Anda menerangkan seakan-akan film India itu terbaik, sehingga ketika saya lihat yang sebenarnya, ekspektasi saya jauh dari kenyataan, sehingga saya rasa-rasanya ingin muntah. Saran saya, berhentilah membela film India, belalah film berkualitas, nikmati itu. Sekali lagi, film berkualitas, kalau memang ada film India yang berkualitas, ya, anda layak membelanya, tetapi kalau ada film Indonesia yang berkualitas, kenapa tidak kita nikmati. Kalau memang banyak film India yang tidak berkualitas, dan dihina, nah, berarti saatnya anda diam, karena kebanyakan yang diutarakan bisa jadi benar adanya.
Silsilah Juan S. Mahaganti
January 8, 2009, 1:52 am
Filed under:
About ME!
Inilah silsilah Juan Skavani Mahaganti dari garis keturunan Ayahnya Jusar Mahaganti (menurut silsilah sejarah yang disalin oleh Isak Winsulangi Pandensolang tertanggal 25 Mei 1956);
Toar mengawini Limumut, memperanakan Minaesa, mengawini Makisemba memperanakan Botolabo, mengawini Pontorageng, memperanakan Sensemadunde, mengawini Sagheno (menurut legenda adalah bidadari dari khayangan), memperanakan Paliawonsuluge, mengawini Kentereganghiobe, memperanakan Lokongbanua (Raja Siau I), mengawini Mangimandampele, memperanakan Pasuma (Raja Siau II), mengawini Ninangbulaeng (Istri ke-2), memperanakan Bawaling Nusa, mengawini Ndine (dicatatan lain; Taure), memperanakan Antameng, mengawini Hiwunanging, memperanakan Mahaganti, mengawini Wokaseng, memperanakan Suma, mengawini Mburio, memperanakan Naimang, mengawini Bukunusa, memperanakan Galomate, mengawini Nene, memperanakan Taniaro, mengawini Mensi memperanakan Kentengan, mengawini Malantiga, memperanakan Ndula, mengawini Mahe, memperanakan Sompo, mengawini Mahaganti, memperanakan Mamudi, mengawini Lawewe, memperanakan Rumingangpato (nama baptis: Sadrak Mahaganti), mengawini Elo, memperanakan Efraim Mahaganti, mengawini Flora Gandaria, memperanakan Jusar Mahaganti, mengawini Elmy Sangiangkati Pandensolang, memperanakan Juan Skavani Mahaganti.
Inilah silsilah Juan Skavani Mahaganti dari garis keturunan Ibunya Elmy Pandensolang (menurut silsilah sejarah disalin oleh Isak Winsulangi Pandensolang tertanggal 25 Mei 1956);
Toar mengawini Limumut, memperanakan Minaesa, mengawini Makisemba memperanakan Botolabo, mengawini Pontorageng, memperanakan Sensemadunde, mengawini Sagheno (menurut legenda adalah bidadari dari khayangan), memperanakan Paliawonsuluge, mengawini Kentereganghiobe, memperankana Lokongbanua (Raja Siau I), mengawini Mangimandampele, memperanakan Pasuma (Raja Siau II), mengawini Belisihiwu, memperanakan Buisang (Raja Siau III), mengawini Pirambai, memperanakan Winsulangi (Raja Siau IV), mengawini Tihuwang, memperanakan Batahi (Raja Siau V), mengawini Maimuna, memperanakan Daramenusa (Raja Siau VI), mengawini Rolosego, memperanakan Lohintundali (Raja Siau VII), mengawini Mundulangkati, memperanakan Ismail Jacobos (Raja Siau VIII), mengawini Esther Manopo, memperanakan Egenos Umbaliwutang Jacobos (Raja Siau X, Raja siau ke IX adalah saudaranya; Ericus Begangdelo Jacobos), mengawini Mahe, memperanakan Plisire (Philip Jacobus), mengawini Sahumina, memperanakan Kampong, mengawini Woli, memperanakan Tuhema, mengawini Paniring, memperanakan Sangiangkati, mengawini Lawendatu, memperanakan Winsulangi (Nama baptis; Isak Winsulangi Pandensolang), mengawini Maria Mora, memperanakan Elmy Pandensolang, mengawini Jusar Mahaganti, memperanakan Juan Skavani Mahaganti.
Mitos pemberantasan kemiskinan
Tanggal 1 January saya menonton Today’s Dialogue di Metro TV dengan pembicara para caliber politik Indonesia. Tetapi kenyataan menarik dinyatakan bahwa ternyata dana APBN untuk program Pemberantasan Kemiskinan selama 3 tahun terakhir sudah meningkat tiga kali lipat. Dana sebesar Rp. 22 Triliun pada tahun 2006 membengkak menjadi Rp. 66.2 Triliun pada tahun 2008. Tetapi kenyataan dilapangan menunjukan bahwa Triliunan yang di hujani tersebut tidak memberikan dampak yang berarti. Bapak Amin Rais ketika ditanya akan hal ini menjawab bahwa pemberantasan kemiskinan berhubungan dengan system ekonomi yang kita anut. Katanya, system kapitalisme yang kita anut sekarang adalah tidak sesuai untuk memberdayakan rakyat Indonesia dan dia menganggap Ekonomi Kerakyatan lebih cocok dalam menciptakan kesejahteraan, pernyataannya diiringi tepuk tangan hadirin di studio, dan mungkin jutaan lain yang sedang menonton. Saya terkadang bingung apa sebenarnya itu ekonomi kerakyatan. System bagaimana itu? Dulu ketika mengambil mata kuliah Perekonomian Indonesia di Unklab, kami diajari tentang system aneh ini, tetapi konsepnya sama sekali abstrak. Pada satu sisi, sebenarnya ekonomi ini adalah kapitalisme, tetapi ditambah embel2 rakyat dan cerita-cerita enaknya seperti sosialisme. Tetapi secara garis besarnya, penggambarannya sangat abstrak, seperti cerita dongeng. Tolong kalu ada yang pakar jelaskan dang. Tetapi yang paling aneh, system ini tidak pernah mendatangkan kesejahteraan. Saya tantang setiap politikus, siapa saja! Berikan saya jawaban bagaimana ekonomi kerakyatan bisa mendatangkan kesejahteraan dan mana buktinya.
Pada akhir diskusi tersebut tidak ada satu pihak pun yang memberikan jawaban memuaskan tentang kenapa dana yang tiga kali lipat ini tidak bisa membawa hasil yang memuaskan. Seperti sebagian besar politisi lain, semua bocae, hanya pak Kalla yang kelihatan rasionalistis karena memang dia mengerti ekonomi. Mulai dari pak Amin, Sutiyoso dan Nurwahid semua bocae. Tetapi kenapa sebenarnya 40 Triliun tersebut bisa dikatakan goes for nothing. Kesalahan dari semua ini adalah kegagalan kita dalam melihat situasi dari sudut yang benar dan lebih luas. Kasus pemberantasan kemiskinan ini sama seperti yang dialami New York city sebagaimana diceritakan Milton Friedman dalam wawancara ini. Disitu diceritakan pada tahun 60-an seorang wartawan berkomentar bahwa New York City akan menjadi lebih baik kalau dana pemerintah ditingkatkan. Pada saat wawancara dilakukan, dana pembangunan NYC sudah menjadi tiga kali lipat, tetapi tidak terjadi perubahan,malah menjadi semakin buruk. Kesalahan yang paling fatal, adalah kegagalan kita melihat dari sudut yang lebih luas. Ketika dana pembangunan ditingkatkan, NYC jadi lebih kaya, tetapi uang untuk memperkaya tersebut datang dari rakyatnya, dan rakyat NY jadi lebih miskin.
Prinsip yang sama terjadi di Indonesia. Di Indonesia, kita punya tiga pihak, pihak pertama, rakyat kebanyakan, kelas menengah dan keatas, kelompok ke dua, rakyat kelas bawah, yang perlu dibantu, dan penengah antara keduanya, Pemerintah. Tahun 2006, pemerintah mengambil 22 triliun dari menengah dan atas, untuk membantu yang bawah. 3 tahun berikutnya, jumlah yang diambil bertambah tiga kali lipat. Jadi, sebenarnya bukan Cuma budget APBN yang meningkat, tetapi juga pada saat yang sama sebagian rakyat Indonesia menjadi lebih miskin untuk membantu yang miskin. Bagaimana pemerintah mengambil uang dari yang berpunya ini? Pertama lewat pajak, yang berikut lewat BUMN. Ya, itu bisa juga disebut pencurian, karena ada badan usaha yang sebenarnya bisa diberikan kepada swasta tetapi diambil kesempatanya oleh pemerintah. Kabar buruknya adalah, kedua tindakan ini bertentangan dengan prinsip kebebasan, yang harus dilaksanakan dengan pemaksaan. Dilindungi dengan hukum pemerintah ini mencuri tetapi bukan mencuri. Tetapi ketika saya dipaksa untuk membayar sesuatu yang memang sepantasnya sih tidak apa-apa. Tetapi ketika saya disuruh membayar untuk sesuatu yang tidak sesuai, itu adalah pencurian. Ok. Tarulah saya setuju dengan pemaksaan ini, uang ini lalu berpindah ke tangan pemerintah yang nantinya akan disalurkan ke yang membutuhkan, melalui berbagai macam subsidi (kesehatan, pendidikan, Bantuan Langsung Tunai, subsidi BBM dan gas, dsb).
Kemudian apa yang terjadi dengan uang ini ditangan pemerintah? Nah, disinilah letak kesalahan seriusnya. Adalah fakta bahwa seseorang akan menghabiskan uang orang lain tidak sehati-hati dalam menghabiskan uangnya sendiri. Ketika anda diberikan uang oleh orang lain untuk dihamburkan untuk kepentingan orang lain, tentu saja tidak sehati-hati anda menghabiskan uang anda sendiri. Inilah yang terjadi di pemerintah. Kenyataan yang tidak di bantahkan juga bahwa orang pemerintah sama individualistinya dengan kita. Mereka juga akan mementingkan kepentingan diri dan keluarga mereka. Kelas menengah dan atas menitipkan uang mereka kepada pemerintah untuk dihamburkan guna membantu yang miskin. Tetapi individualism dalam diri mereka itu akan selalu ada. Dan yang utama, mereka tidak akan menghabiskan uang orang tersebut, tidak sehati-hati mereka menghabiskan uang pribadi mereka. Dan dengan sifat dasar manusai kita, maka setiap usaha untuk menghamburkan kearah yang tidak sepantasnya akan selalu ada. Pada saat yang sama, uang begitu besar terpusat pada pemerintah dan uang tersebut tidak dibelanjakan dengan efisien tetapi hanya menciptakan pemerintah dengan kekuasaan, badan dan aparat yang lebih banyak dan tidak terkontrol. Jadi laju uang tersebut mandek sebagian besar di pemerintah untuk dibelanjakan secara tidak efisien, karena memang, anda akan lebih efisien membelanjakan uang anda sendiri dari pada uang orang lain.
Berikutnya, uang yang begitu besar ini kebanyakanlah bukan untuk membantu orang miskin tetapi memperkaya dan menyenangkan orang pemerintah. Sehingga pemerintah menjadi badan yang sangat besar, bahkan terlalu besar dan dijalankan secara tidak effisien.Ketika anda tinggal dikota besar, memang dampaknya tidak terlalu terasa, tetapi jika anda tinggal didaerah-daerah, Siau contohnya, maka dampak pemerintah sebagai badan yang terlalu besar itu akan sangat terasa. Ketika saya tiba di Siau, betapa senangnya saya ketika melihat jejeran mobil pribadi karena dalam hati saya, saya simpulkan bahwa ekonomi siau berkembang, dilihat dari kepemilikan mobil pribadi ini. Tetapi ketika saya lihat lebih jelas, ternyata diantara 10 mobil pribadi yang lalu lalang, 8 diantaranya ber-plat merah. Bahwa uang yang besar sebenarnya ada ditangan pemerintah dan bukan rakyat. Tetapi system ini mandek, karena pengeluaran pemerintah kebanyakan bukanlah untuk kepentingan investasi tetapi penghabisan anggaran. Memang beberapa pengeluaran ini bisa menciptakan lapangan kerja, tetapi kekuatan penyerapan tidaklah sebesar kemampuan sector swasta jika dibiarkan bebas berusaha. Tetapi, pemerintah seakan-akan tidak mau keadaan berubah, sehingga untuk mengatasi keresahan rakyat, pemerintah sendirilah yang membuka lapangan kerja, dengan cara penerimaan PNS. Tidak peduli walaupun penggunaan SDM tidak efisien lagi, pemerintah akan tetap berusaha membuka penerimaan PNS karena itu satu-satunya cara meredakan keresahan pengangguran. Akhirnya pemerintah bertumbuh menjadi suatu raksasa yang terlalu gemuk, tidak efisien dan dipenuhi korupsi karena memang uang yang mereka pegang terlalu besar. Maka lihatlah didaerah-daerah, bagaimana kepala-kepala daerah berubah menjadi elit yang paling berkuasa, mereka adalah raja-raja baru.
Ketika pemerintah mengambil uang dari rakyat, mereka bukanlah membantu yang layak dibantu tetapi menciptakan pemerintah yang lebih besar. Rakyat kelas menengah keatas menjadi miskin, yang miskin tidak dibantu tetapi pemerintah menjadi organisasi paling kaya raya. Hasilnya; jangan heran melihat betapa membludaknya lamaran CPNS, jangan heran melihat betapa banyak pengusaha meninggalkan usahanya untuk menjadi Bupati, Walikota dan Gubernur. Jangan heran melihat para anak pengusaha yang tidak mau lagi melanjutkan usaha orang tuanya tetapi ingin menjadi caleg. Semua ini terjadi karena uang lebih banyak yang datang ketika anda menjadi bagian dari pemerintah. Disitulah sentralisasi uang beredar dan yang utama matinya modal yang sebenarnya bisa di investasikan. Jadi, berapa kali lipatpun uang yang di alokasikan pemerintah untuk penanggulangan kemiskinan, tidak akan bisa menghilangkan kemiskinan tetapi hanya akan menciptakan pemerintah yang lebih besar.