Maha Corp.


Tesis terbaru: Hasil Non-cooperative competition terhadap ketidak-setimbangan level kecantikan yang terjadi pada beberapa pasangan di muka bumi.
May 25, 2009, 12:29 am
Filed under: Uncategorized

Jika anda membaca post out halaman facebook saya beberapa hari lalu, anda akan menemukan kutipan dari mantan murid saya, Farlen Tatukude. Kutipan tersebut saya terucap setelah kami berbincang melalui facebook beberapa hari lalu. Percakapan itu muncul setelah Farlen menunjukan salah satu halaman web dimana seorang wanita yang sangat cantik, berdampingan dengan pacarnya yang…. Errrgh, tampan memang, tetapi tidak selayaknya dia berdampingan dengan wanita secantik itu (itu kata lainnya untuk “tidak terlalu tampan”). Pembicaraan berlangsung dengan analisa kami mengenai pertanyaa mengapa banyak pasangan yang tampaknya tidak serasi dalam hal ketampanan dan kecantikan. Nah, disitulah Farlen datang dengan kesimpulan luar biasa, sehingga saya kutip, bahwa “….., vice versa.” Kalau kita ingin menggunakan theory permainan (Game Theory) dalam kasus ini, ada empat pemain; Pria Tampan (PRIA TAMPAN), Pria kurang Tampan (PRIA KURANG TAMPAN), Wanita Cantik (WANITA CANTIK), dan Wanita Kurang Cantik (WANITA KURANG CANTIK). Kesimpulan perbincangan saya dan Farlen beberapa hari lalu adalah seperti ini…

PRIA TAMPAN dan PRIA KURANG TAMPAN, membutuhkan WANITA CANTIK dan WANITA KURANG CANTIK, begitu pula sebaliknya. Untuk P mendapatkan W, atau W mendapatkan P, membutuhkan biaya dan pengorbanan. Tetapi, sebagaimana dalam ekonomi, semua pihak akan melakukan pengorbanan sekecil-kecilnya untuk mendapatkan kepuasan sebesar-besarnya. PRIA TAMPAN dan WANITA CANTIK tentu saja menawarkan kepuasan tertinggi, tetapi juga membutuhkan biaya yang tinggi. Menurut Farlen, PRIA TAMPAN dan WANITA CANTIK, punya daya tawar yang paling tinggi karena dua hal. Pertama, supply-nya rendah, kedua, mereka diberkati karena secara alami mampu memberikan kepuasan tertinggi. Analisa Farlen tentang pertanyaan kenapa banyak PRIA TAMPAN mendapatkan pasangan WANITA KURANG CANTIK, dan PRIA KURANG TAMPAN mendapatkan WANITA CANTIK, adalah karena WANITA CANTIK dan PRIA TAMPAN pada awalnya terlalu percaya diri, sehingga mereka tidak “memburu”. PRIA TAMPAN tidak saling memburu dengan WANITA CANTIK, karena mereka di posisi diam. Tidak saling mengejar. Hal ini berbeda dengan PRIA KURANG TAMPAN dan WANITA KURANG CANTIK, karena menyadari daya tawar mereka rendah, maka mereka berusaha mencari cara agar daya tawar mereka tinggi. Bisa dengan menyediakan kepuasan lebih seperti menjadi kaya, atau dengan berusaha lebih keras dengan melakukan segala cara. Menurut Farlen, karena PRIA TAMPAN dan WANITA CANTIK hanya diam, sehingga nantinya, WANITA CANTIK akan didapatkan oleh PRIA KURANG TAMPAN yang berusaha keras, dan sebaliknya, PRIA TAMPAN akan memperoleh WANITA KURANG CANTIK karena kalah oleh PRIA KURANG TAMPAN.

Tetapi tampaknya dalam dunia nyata, hal ini tidak terjadi, karena buktinya, baik itu PRIA TAMPAN maupun PRIA KURANG TAMPAN, sama-sama memburu WANITA CANTIK (dimana asumsi bahwa PRIA TAMPAN tidak berburu adalah salah, kesalahan theory Farlen). Tetapi kenapa sehingga pada banyak kasus, PRIA TAMPAN (walaupun mereka memburu) tidak mendapatkan WANITA CANTIK? Pertanyaan tersebut masih menjadi misteri, sampai pada hari Jumat malam ketika saya mengetik ini. Seperti biasa, saya sendirian, dan seperti kata Schopenhauer, “Ide besar selalu dimiliki oleh pikiran yang kesepian.”

Ketika membaca theory permainan John Nash (yang saya tidak mengerti sedikitpun), saya teringat film “a Beautiful Mind” di adegan dimana John menemukan theory non-cooperative games-nya. John terinspirasi dari kejadian di bar tempat dia dan teman2nya biasa nongkrong, mereka berlima pada saat itu. Pada saat yang sama, masuklah lima wanita, tetapi mata mereka (John dan keempat temannya) semua tertuju pada seorang gadis pirang yang paling cantik. Dan tentu saja, John dan kawan2nya semuannya memasang target pada si wanita yang paling cantik. Tetapi John Nash berpikiran lain; tunggu dulu, jika kita berlima semuanya menginginkan si gadis pirang paling cantik, tidak ada dari kita berlima yang akan mendapatkan satu gadispun. Inilah penjelasannya kenapa; Mereka berlima akan memburu si pirang, dan mereka akan melakukan segala cara sehingga mereka mendapatkan si pirang, termasuk saling fitnah, menusuk dari belakang dan cara keras lainnya. Tetapi itu hanya membuat daya tawar si pirang menjadi lebih tinggi dan daya tawar mereka menjadi rendah, sebagai hasilnya, mereka sendiri yang akan berhenti mengejar dan sipirang yang terlalu gengsi menurunkan tawarannya. Ketika mereka berhenti dengan si pirang, mereka beralih pada empat temannya yang lain. Tetapi tidak ada perempuan yang mau diduakan (kecuali wanita kegatalan). Sehingga, mereka berempatpun (para gadis) akan menjauh dari tawaran mereka berlima (John Cs). Hasil akhir dari permainan ini adalah, tidak ada satupun yang mendapatkan siapapun, semuanya mengalami rugi besar. Solusi Nash adalah, mereka berlima sedari awal sudah menentukan siapa yang akan mereka kejar, dan bukanya bersaing untuk mendapatkan yang paling cantik. Tetapi solusi Nash malah dianggap oleh teman-temannya sebagai usaha Nash untuk mendapatkan si pirang paling cantik. Tetapi dalam film tersebut, tidak ditunjukan hasil akhir dari perburuan di-bar tersebut, tetapi kita tahu bagaimana Nash mendapatkan ilham atas maha-karyanya yang terbesar; Non-Cooperative Game.

Dari contoh diatas, tampaknya kita bisa mengaply theory ini untuk menjawab pertanyaaan yang memusingkan saya dan Farlen. Mari kita kembali pada permainan diatas. Dalam permainan perburuan ini, kita asumsikan bahwa P lah yang memburu W (jarang lo rumput cari kuda). PRIA TAMPAN akan memburu wanita yang paling cantik diantara WANITA CANTIK. Tetapi sementara mereka berburu, mereka salingbersaing. Pada saat mereka bersaing, daya tawar mereka makin rendah, dan karena permintaan (D) akan wanita paling cantik naik, sedangkan supplynya tetap, harga (daya tawarnya) pun, naik, jadilah dia jual mahal. Merekapun akhirnya berhenti dalam perburuan terhadap wanita paling cantik, karena tiga alasan, pertama; kejenuhan untuk mengejar, kedua, karena daya tawar mereka yang sudah menjadi rendah karena persaingan, ketiga, karena daya tawar wanita paling cantik yang sudah terlalu tinggi karena diuber-uber. Ketiap para Pria Tampan ini berpaling kepada wanita cantik lain (tercantik ke-2 dst.,) tentu saja tidak ada yang mau diduakan, sehingga mereka (para WANITA CANTIK) berpaling dari para PRIA TAMPAN. Tidak ada pilihan lain, terpaksalah para PRIA TAMPAN memilih para WANITA KURANG CANTIK. Posisi keterpaksaan juga dialami oleh si wanita yang paling cantik. Dia sudah kehilangan para fansnya. Tetapi mau-tidak-mau, dia harus mendapatkan pria, karena dua alasan utama, pertama, kebutuhan utamanya akan pria, dan kedua; potensi alaminya harus digunakan dan tidak boleh disia-siakan. Tetapi sudah tidak ada PRIA TAMPAN lagi yang available, mungkin ada tetapi banyak yang sudah terlampau jenuh dan muak karena dulu mereka tidak di indahkan. Sehingga yang available untuk para WANITA CANTIK sekarang adalah para PRIA KURANG TAMPAN. Nah, karena para WANITA CANTIK masih punya bargaining power yang lumayan tinggi sekarang, tentu saja mereka harus mencari yang terbaik diantara para PRIA KURANG TAMPAN (Best from the worst lah istilahnya). Dan saat inilah ketika uang (dan usaha, karier, kemampuan persuasi/lebay, jabatan, gelar akademis, dll) berbicara. Para PRIA KURANG TAMPAN tentu saja tidak ada modal biologis (ketampanan) yang bisa diandalkan, tetapi mereka punya faktor lain yang bisa mendukung. Ketika faktor biologis juga sudah tidak berbicara dalam persaingan para pria kurang tampan ini, maka faktor lain yang berbicara, money matters. Demikianlah, para wanita cantik harus memilih yang paling kaya diantara para Pria Kurang Tampan. Inilah jawaban kenapa banyak PRIA TAMPAN mendapatkan WANITA KURANG CANTIK, dan PRIA KURANG TAMPAN (yang tajir utamanya) mendapatkan WANITA CANTIK.

Tentu saja kejadian ini tidak terjadi setiap saat, tetapi secara theory permainan scenario ini sangat mungkin terjadi. Memang untuk diterima secara akademis, kita perlu menjabarkannya dalam perhitungan matematika, tetapi karena saya kurang mampu, terimalah pemikiran ini apa adanya, lagipula saya pikir masuk akal juga. Tetapi anda bisa menyanggah kalau ternyata asumsi saya salah. Tetapi saya rasa, ketidak cocokan dalam hal ketampanan dan kecantikan adalah hal yang baik bagi umat manusia. Hal ini memastikan variasi genetic manusia tersebar lebih merata. Saya ingat Herold dulu pernah bilang bahwa setiap generasi, manusia semakin tampan dan cantik. Saya tidak tahu apakah ini benar (melalui studi empiris), tetapi kalau secara observasi kasat mata, memang demikian. Dan menurut saya penyebabnya adalah penyempurnaan gen kurang cantik di satu pribadi, oleh pasangannya. Seperti kita tahu, ketika cetak biru diri kita disusun (setelah pembuahan), maka kode penyusunan tubuh kita, selalu memilih yang terbaik. Hal ini untuk memastikan bahwa kita menjadi makhluk yang lebih baik. Contoh, ketika gen Ayah saya menghasilkan anak tangan buntung, maka gen ibu saya akan melengkapi ketidak sempurnaan ini, sehingga terciptalah saya yang bertangan sempurna. Nah, menurut saya, terciptanya manusia yang lebih tampan dan cantik, disetiap pergantian generasi, karena penyempurnaan gen yang terjadi pada setiap pasangan. Yang tidak terlalu baik, disempurnakan oleh yang baik.

Anyway, keindahan fisik bukanlah segalanya. Beruntunglah kita manusia karena diri kita bukanlah sekedar tubuh fisik saja. Kita jauh lebih hebat dari itu. Kita adalah makhluk yang merupakan perpaduan antara badaniah dan karakter (psikis). Kita tak bisa memilih seperti apa DNA kita (Jerome sering menyebut pria-pria tampan sebagai para manusia yang menang lotere DNA, alias DNA mereka menyusun wajah mereka lebih tampan), kita tidak bisa memilih apakah kita cantik atau tampan, jelek atau lumayan, lahir dari keluarga kaya atau miskin (some children are born with the silver spoon, begitu kata Jerome). Tetapi kita yang memilih karakter kita masing-masing. Jujur atau pembohong, jahat atau baik, pemberi atau kikir, licik atau tulus, adalah pilihan masing-masing pribadi. Dan saya rasa, pembentuk utama manusia adalah Karakternya. Dan kalau anda memang sudah dilahirkan jelek (seperti saya), jangan buat karakter anda lebih jelek. Itu sama saja dengan bunuh diri dalam persaingan evolusi untuk mencari pasangan.



Ekonomi Kerakyatan: Konsep Abstrak, nda jelas, aneh.
May 25, 2009, 12:19 am
Filed under: Uncategorized

Budiono, dalam pidato deklarasinya menyatakan bahwa kita bangsa Indonesia, ekonomi kita jangan sampai dijajah dari luar… dan dari DALAM. Penjajah ekonomi utama bangsa ini adalah dari dalam diri orang Indonesia sendiri. Korupsi, tekanan pemerintah terhadap kreatifitas, regulasi yang kontra-produktif, monopoly, dan penegakan hukum yang tidak sempurna, adalah jawaban atas pertanyaan, mengapa ekonomi kita susah maju. Jadi ketika anda bertanya, siapa yang paling harus disalahkan atas kemiskinan kita ini, jangan cari kesalahan orang lain, bangsa lain, kapitalisme asing dan jawaban ngawur lain. Tetapi sialnya, kebanyakan dari kita selalu menyalahkan orang lain atas kebodohan kita sendiri. Bukannya mencari solusi, kita justru berpikir terlalu picik dan sempit, seperti munculnya ide tentang sebuah konsep ekonomi baru bernama “Ekonomi Kerakyatan.” Banyak orang sekarang yang tampaknya pro terhadap konsep aneh yang tidak dapat dimengerti ini. Katanya ini adalah jalan untuk kemakmuran rakyat Indonesia. Tetapi anehnya, apa dan bagaimana kesejahteraan itu dicapai, tidak ada yang tahu. Jadi memang ekonomi kerakyatan ini, adalah system belum sempurna yang sebaiknya tidak usah dijual di kampanye. Sehingga kalau ada yang memang memilih suatau partai politik atau calon presiden hanya karena konsep Ekonomi ini, sebaiknya anda pertimbangkan matang-matang lagi pilihan anda.



What that I have given to the world??
May 24, 2009, 11:58 pm
Filed under: Wisdom Lover

Some of you maybe have seen Will Smith’s last movie “Seven Pound”.First thought came to me, seconds after I watched this movie is: What that I have given to this world? What are the things that I have done that make me worthy to enjoy this life, to breathe the air, bath the sunray, enjoy the sceneries of nature, taste the sweetness, sourness, bitterness and saltines of all the food and drinks that had nurtured me, in short, what make me worthy to get this life, this body, this soul, this identity of Juan Mahaganti, to be a human, ME!!!

Like Ben, I’m the one who have nothing to be kept in this world. If Ben lost it, I simply haven’t found it, and likely never able to found it. I have nothing to be struggled for, to fight for, I don’t have no reason why am I here, other than to survive day by day. I found no meaning in life, no value, no goal, no reason; the only reason for me to continue with this life is my instinct for survival. Like Schopenhauer had inquired it, I don’t understand why until now I never try to commit suicide.

To give meaning to this meaningless condition, maybe the best thing I can do is to start questioning what the thing I can give to this world.Like Ben, he decided to give everything that he has even his own live and his organs, and of course, I considered this option as the most extreme one. But I think this is the moment I start to ask; what that I have given to the world?



Janji Ekonomi Para pasangan Capres
May 24, 2009, 11:50 pm
Filed under: Ekonomi

1. JK – Win

Angin Sorga : JK berusaha memajukan ekonomi dalam negeri dengan cara pro produk dalam negeri. Kalau produk dalam negeri dihargai, banyak dibeli oleh rakyat kita, menjadi tuan rumah di negeri sendiri, maka akan memberikan kesejahteraan bagi bangsa kita. Memajukan UKM, memajukan perekonomian dalam negeri, ekonomi kita menjadi mandiri.

Kenyataan : Proteksionisme (melindungi pasar dalam negeri dari produk luar negeri) kebanyakan hanya memberikan kerugian dari pada keuntungan. Yang paling dirugikan adalah rakyat kita sendiri. Ketika kita bisa menghemat jutaan rupiah dengan membeli produk China, kenapa harus membeli produk dalam negeri jika mahal. Bukankah kita punya komoditi yang lebih murah dari produk China, kenapa harus dipaksakan untuk proteksionisme. Jika kita balik kebelakang, sejarah mencatat bahwa proteksionisme adalah penyebab banyaknya kesengsaraan rakyat. Merkantilisme di Eropa, hanya menjadikan ekonomi mandek. Setiap bangsa ingin melindungi pasar dalam negerinya. Inggris tidak mau membeli dari Prancis, hanya mau menjual, begitu pula sebaliknya. Hasilnya, tidak ada yang bisa membeli maupun menjual. Hancurlah ekonomi. Bahkan lebih parah, banyak barang seludupan dibawa masuk ke dalam negeri kedua Negara, dan masing-masing Negara bertindak kejam terhadap penyeludup. Banyak orang-orang yang ingin menyediakan barang murah bagi sesama warga-negaranya, dihukum gantung. Banyak orang dalam negeri menderita karena ketidak cukupan barang kebutuhan pokok. Bangsa-bangsa proteksionis ini juga saling berusaha menciptakan bahan baku semurah dan semudah mungkin. Hasilnya adalah eksploitasi berlebihan atas koloni jajahan mereka. Hasilnya, kesengsaraan bagi kolony itu sendiri. Kita mengalaminya ketika jaman Belanda dulu. Bangsa Amerika mengalaminya juga ketika mereka dijajah Inggris. Mereka disuruh hanya boleh beli Teh dari Inggris, dan juga hanya boleh beli kain dari Inggris (dan hanya boleh menjual kapas kepada Inggris). Boleh beli Teh dari Negara lain tetapi di kenakan pajak tinggi. Marah dengan keputusan ini, mereka membuang semua Teh di pelabuhan Boston, dan memicu perang kemerdekaan Amerika. Bayangkan betapa banyaknya kerugian dan kesengasaraan, hanya karena asumsi yang salah dalam mengurus ekonomi. Jadi jangan biarkan ekonomi kita diurus orang berpikiran sempit.

2. Mega – Pro

Angin Sorga : Mega Pro mengusung ekonomi kerakyatan, yaitu faham yang…. Eh, bingung yang bagaimana, tetapi dengar-dengarnya katanya pro wong cilik, menyediakan benih padi untuk rakyat, membuka jutaan hektar sawah, pro UKM (Usaha Kecil Menengah), menyediakan modal bagi rakyat, menyediakan banyak hal, makanya ayo coblos….

Kenyataan : Bagi semua pendukung ekonomi kerakyatan, coba anda jelaskan se masuk akal mungkin, apa sih barang aneh bernama ekonomi kerakyatan itu. Kalu konspe aja ngga jelas, gimana kita bisa percaya konsep tersebut. Ini ibarat kapal berlayar tanpa kompas.Ok. Sebisa sayalah dulu, kita lihat apa janji sorga pasangan Mega Pro. Menyediakan benih padi katanya, ini apa sih, kebijakan model apa ini? Ini sama sekali kontra-produktif. Dari mana dananya? Lalu berasnya untuk apa? Opportunity costnya?? Dari pada nanam beras lebih banyak (kita juga udah swasembada beras sekarang), apa nda lebih baik menanam atau investasi dana tersebut di tempat lain. Apa nda mubazir? Membuka Jutaan hektar sawah??? Aduh, janji sorga mulu!! Pasangan Mega – Pro paling ancur konspe ekonominya.

Pro UKM? Apa maksudnya??? Kan nda bakalan ada UKM yang mau jadi usaha Kecil Mengengah sampe kiamat. Nah, kalu seandainaya UKM tersebut sudah well establish, jadi Perusahaan besar, pemerintah mau bikin apa ama mereka?? Balikin jadi UKM lagi?? Terakhir, katanya akan menyediakan modal bagi rakyat kecil. Hmmmm, lalu bank2nya mau dikemanain??? Ditutup? Lalu gimana nagihnya??? Mau dijadiin sumbangan tuh modal? Atau berbunga rendah biar konstituen senang? Hati2 loh, bunga kerendahan nanti inflasi lagi… Jadi nda berguna deh uang murahnya. Nah loooo, bingung kan… Lu kira ngurus ekonomi itu gampang apa?? Janji truuuuuuuuuuuus!!!

3. SBY – Budiono

Angin Sorga : Ngga muluk2! Pertumbuhan Ekonomi 7%.

Kenyataan : Janjinya paling “masuk akal” (walaupun 7% adalah angka fantastis, tetapi masih lebih masuk akal dr JK yang 8%). LANJUTKAN!!! Tetapi ngga mau ah!!! Masalah Antasarinya blum kelar, takutnya SBY terlibat lagi. Mending Golput aja!! Tapi ngga bisa, golput dosa…. Pusiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing



Selera Film orang Manado Rendahan!!!
May 13, 2009, 11:38 pm
Filed under: Film

Kalo lia tu film2 di TO, dapa tau kalu selera film orang manado sangat, sangat, sangat, rendah. Film2 nda mutu macam film setang indonesia, film2 eksyen murahan diputar lama2 deng di studio basar. mar film2 bermutu diputar di studio kecil dan depe jangka waktu putar paling cuma satu minggu (bayangkan, son of man cuma diputar 3 hari staw), bahkan ada film bermutu yang nda pernah putar di manado. Bayangkan, pemenang oscar 5 tahun terakhir, hanya The Departed yang diputar, itu pun hanya dalam jangka waktu nda lama. FIlm2 Hollywood yang banya diputar paling kwa macam tu film2 musim panas, cuma kan itu film, yah, film umum, kalu pecinta film berkualitas paling nda akan terlalu suka. Memang torang tdk bisa menyalahkan TO, karena dorang kan cari untung dan mereka melihat pasar, sehingga kelihatan memang orang manado itu, dari segi menikmati film masih sangat rendah seleranya.



Kejanggalan-kejanggalan Kasus Antasari Azhar
May 5, 2009, 8:26 pm
Filed under: Current Affairs, Politic

1. Antasari punya dua status hukum. Keduanya bertolak belakang. Menurut surat pemanggilan polisi,  Antasari akan diperiksa sebagai saksi.
Sementara Kejaksaan Agung sebelumnya sudah menyatakan Antasari sebagai tersangka. Ini yang aneh. Bukankah penetapan status saksi atau tersangka adalah kewenangan polisi? Mengapa Kejaksaan terkesan ‘berlari’ duluan? Atau ajang balas dendamkah??? (http://politikana.com/baca/2009/05/04/kasus-antasari-yang-aneh.html)
2. Antasari diundang ke polisi sebagai saksi, siangnya langsung jadi tersangka, malamnya langsung ditahan. Hebat bener polisi ngungkapin kasus ini. Kecepatan super!! Tanya kenapaaaaa??
3. Penetapan terasangka atas dasar SMS dari AA. Coba bayangkan, sudah berapa ratus koruptor yang AA jebak dengan kecanggihan teknologi komunikasi. kok bisa segeblek itu dia ngancam pake nomor handphone-nya lalu main bunuh.
4. Rany sang Caddy sudah hilang entah kemana… Kok bisa gitu??? Dia kan saksi kunci, harus bisa dihadirkan.
5. Semua tersangka, semua saksi termasuk Rany, seakan sudah dibungkam mulutnya.
6. Ketika ditanyakan apakah pernah diadakan rapat sebelumnya di Mabes Polri untuk perencanaan pembunuhan, simak jawaban dari dua orang ini; KAPOLDA Metro Jaya: “Tidak pernah ada pertemuan di Mabes Polri”. Pengacara Tersangak eksekutor : “Ada pertemuan di Mabes Polri”.
7. Skenario ceritanya gampang di baca. yang ngarang cerita pikir semua orang indonesia itu penggemar sinetron sehingga gampang dibodohi.
8. Sampai detik ini, tidak pernah ada pernyataan dari Polisi tentang apa sebenarnya motif pembunuhan. Tetapi AA sudah ditetapkan menjadi tersangka atas sebuah pembunuhan tanpa motif. Kalaupun motifnya adalah cinta segitiga, masa iya sih, sebuah skenario segini lengkap, ada anggota polisinya terlibat, ada mobil dan motornya, ada lebih dari lima orang eksekutor lapangan, tetapi tujuannya hanya untuk kasus asmara.

Semoga kebenaran cepat terungkap. gunakan hati nurani anda untuk mencari kebenaran yang sejati.



Juan Mahaganti; Rangkaian kejadian sial
May 4, 2009, 8:50 pm
Filed under: Uncategorized

Pernah nonton “Walk to Remember”? Di situ, cita-cita sang tokoh wanita: “menyaksikan sebuah mujikzat”. Saya ingin katakan, bahwa saya baru saja menjadi saksi sebuah mujikzat. Saya percaya bahwa mujikzat itu nyata, dan sekarang saya menjadi saksinya.Semuanya dimulai dengan urutan kejadian-kejadian sial dalam 3 Sabbath dalam hidupku, dan saya yakin bahwa kejadian sial tersebut adalah mujikzat yang terjadi dalam hidupku. Semuanya dimulai 3 minggu lalu:

Rabu, 8 April 2009

Saya mulai hari ini dengan kebingungan besar, pergi ke program Piknik sekolah (makan gratis, piknik gratis, es krim gratis, liburan gratis) atau pergi bersama ibu saya ke Siau untuk pemilihan umum besok (9 April). Karena penasaran akan bagaimana rasanya memilih (Pemilu 2004 saya golput), saya memutuskan untuk pergi ke Siau, walau harus mengorbankan biaya tiket yang mencapai Rp. 200ribu, libur panjang yang terlewatkan, dan piknik yang harus di lewatkan, plus, gaji di potong karena bolos kerja sehari (untuk piknik kami diabsen kerja). Pagi-paginya saya membeli tiket, tetapi semua ranjang dan kamar sudah full dan terpaksa saya hanya dapat tiket “alas” alias cari tempat duduk sendiri. Setelah membeli tiket, saya ingat harus memperbaiki laptop saya yang rusak bagian belakanya (tetapi tidak rusak serius). Ah, saya pikir, ketika saya pulang sabtu nanti, nanti seninnya (13 april) saya datang perbaiki, karena masa garansinya Cuma sampai tanggal 15 April.

Kamis, 9 April 2009

Nyontreng untuk pertama kalinya!!! Tiket sudah di booking untuk keberangkatan hari sabtu, 11 April 2009.

Sabtu, 11 April 2009.

00.50, Sabtu dini hari, sudah menjelang Sabbath, tiba-tiba perut saya rasa terbakar, rasanya pedih sekali, seperti perih yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya. Saya sadar maag saya kambuh, ibu dan ayah saya sedang ber-acara ria di Bawone. Saya telpon dan mereka datang, melihat kondisi saya dan pergi ke puskemas untuk meminta obat. Setelah mendapat obat, perih di perut malah semakin parah. Saya tidak bisa tertidur sampai pagi. Jam 5.30 pagi, diputuskan agar saya dibawa ke Puskesmas (tempat saya dilahirkan, hehehe). Saya mendapat suntikan, lebih banyak obat lain. Saking sakitnya saya tidak bisa bergerak. Untuk sementara saya tidur di Puskesmas. Jam 7 saya memaksa untuk pulang kerumah, setelah sebelumnya muntah dan tampaknya sakitnya sedikit hilang. Tetapi dalam perjalanan pulang, sakitnya datang lagi, lebih parah. Orang tua saya mulai curiga jangan-jangan saya kena doti (racun) (kalau anda pernah ke Siau, anda mungkin tidak heran lagi kalau orang Siau biasa membunuh orang lain dengan racun. Kematian karena doti banyak kali terjadi di Siau). Tante saya (yang sedang merayakan ulang tahunya) datang pagi tersebut. Dia punya ramuan anti-doti, saya muntah-muntah sampai rasanya semua isi perut saya ingin keluar, tetapi rasa perihnya tidak mereda. Sampai jam 10, sakit belum mereda dan saya berencana berangkat jam 12. Tiket saya terpaksa di cancel. Kapal berikut adalah hari Selasa, 14 April, artinya, saya tidak bisa mengajar kelas persiapan UAN pada hari senin, dan masa garansi laptop saya sudah expired ketika saya tiba di Manado. Jam 12, saya dibawa kembali ke Puskesmas, tetapi dokter cuma memberi saya tambahan obat penenang. Saya bisa tertidur tetapi hanya kira-kira setengah jam, setelah itu saya harus menahan sakit yang tak pernah bisa berhenti. Saya hanya bisa makan bubur,dan bahkan bergerak pun sangat sakit. Tidak pernah saya merasa sakit seperti ini, saya mulai berpikir bahwa saya memang kena doti. Saya tetap tidak bisa tidur walaupun saya sudah tidak tidur selama 24 jam terakhir. Saya mulai berpikir bahwa saya akan mati, kadang saya berteriak dan sampai tetangga bisa mendengar. Ibu saya berdoa empat kali dengan saya dalam sehari itu. Malamnya saya dibawa lagi ke Dokter yang lain di Karalung, kira-kira 30 menit perjalanan (dengan sepeda motor), sepanjang perjalanan saya berusaha menahan Muntah, karena perjalan yang berkelok-kelok dan penuh tanjakan dan menurun (anda harus ke Siau kalau mau cari tahu bagaimana jalannya). Saya mendapat obat, dan akhirnya saya dapat tidur lagi.

Minggu, 12 April 2009

Akhirnya sakitnya mereda, tetapi masih ada rasa sakit lain. Setiap kali saya mengambil nafas panjang, seperti ada sesuatu yang menusuk perut saya. Saya tidak bisa menguap apalagi bersin. Bersin saya tiba-tiba akan berhenti karena sakit di perut. Ibu saya curiga bahwa lambung saya mungkin sudah terluka karena asam yang terlalu banyak. Tetapi rasa terbakar dan perih yang tidak pernah berhenti sudah berhenti.

Selasa, 14 April 2009

Saya tiba di manado jam 5.00 sore. 5.30, saya langsung ke tempat praktek Dr. Awaloei. Dia memberikan obat, tetapi biaya perawatan dan obatnya yang membuat sakitnya tambah parah. Dia juga tidak tahu apa sakit saya, dia curiga ada sesuatu di empedu saya. SEhingga dia putuskan agar saya kembali hari sabtu (saya bisa hari tersebut) untuk cek USG, dan biayanya membuat sakit dompet saya. Mungkin reaksi ini muncul karena saya jarang sakit, sehingga ketika saya sakit, saya selalu merasa bahwa ini adalah biaya yang sangat-sangat tidak perlu. Coba saja jika saya lebih sehat, pasti tidak perlu mengeluarkan biaya ini. Selesai pemerikasaan jam 7, tampaknya saya harus melupakan garansi dan perbaikan laptop. Perut saya tetap sakit. Berat saya turun 3 kg, which is the only good news!

Sabtu, 18 April 2009

Setelah di scan, saya semua kondisi perut saya normal. Hanya banyak berangin. Sebelum pulang, saya dimarahi orang gila di samping Gereja Sentrum saat sedang menunggu mikrolet. Dia membuang uang Rp. 5.000,- sambil menunjuk-nunjuk kearah saya. Saya menjadi pusat perhatian. Cepat-cepat saya menaiki mikrolet Pall-2 yang lewat. Akhirnya saya mencapai bus ke bitung. Saya punya 10.000 di kantong untuk membayar tariff bus. Tetapi ketika sampai di Bitung, di terminal tangkoko, ketika saya mencari-cari dompet di kantong, saya sadar, dompet saya sudah hilang. Saya berusaha mencari di bus, tetapi tidak ditemukan. Tanpa uang cukup untuk pulang kerumah, saya hanya terduduk lesu di terminal. Ketika saya menelpon ke kakak saya untuk bertanya jika ada dirumah sehingga saya bisa naik ojek, nanti dibayar di rumah, tetapi dia ternyata sedang di Bitung. Saya memutuskan untuk berjalan kaki sampai di rumah. Sementara berjalan, saya pikir cerita kesialan ini harus diceritakan pada seseorang. Saya menelpon Jerome dan menceritakan semua kejadian sial selama 2 minggu ini. Reaksi Jerome: “Kamu hebat Ale, Cuma orang hidup yang bisa begitu.” Cukup dengan ceritanya, tidak terasa setelah setengah jam, saya mencapai rumah. Dengan perut yang masih sakit, saya makan apa yang tersisa di lemari. Tiba-tiba telpon bordering, ternyata seorang murid saya ingin mentraktir saya menonton. Tetapi saya harus ke Manado… Kurang ajar, pikirku. Ini pasti hari tersial dalam hidupku. Saya sudah berada di rumah, 50 Km dari penawaran nonton gratis, tanpa uang sepeserpun di tangan. Tawaran nonton gratis terpaksa saya tolak, sangat sangat terpaksa. Akhirnya kakak saya tiba. Saya minta dia menebus obat ke apotik. Tetapi, coba tebak, dari 2 obat di resep, satu tidak ada persediaannya di 2 apotik yang kakak saya kunjungi. Terpaksa saya keluar lagi dan berusaha mencari di apotik lain. Tetapi tidak ada satu pun dari 3 apotik yang saya kunjungi yang punya persediaan obat ini. Terpaksa saya pulang dan minum hanya satu obat saja. Saya SMS Jerome lagi, untuk meng-update daftar kesialan saya.

Jumat, 24 April, 2009.

Menjelang hari Sabbath, pada jam 5.30 petang, saya masih di sekolah. Saya satu-satunya orang yang tertinggal di sekolah, hari jumat kami pulang lebih awal memang. Karena sudah tidak punya dompet, saya taruh uang saya 20rb di kantong celana. Setelah bersiap pulang, saya mengecek uang kalau masih ada untuk biaya pulang. Ketika saya raba kantong celana, uangnya sudah tidak ada, saya periksa dan periksa lagi, memang sudah hilang. My God! Bagaimana saya bisa pulang?? Saya ke lantai satu untuk melihat apakah ada orang yang masih tinggal dan bisa meminjamkan saya uang. Tetapi tidak ada satu pun. Tinggal saya sendiri, apa yang harus saya perbuat?? Oh, saya teringat, mungkin masih ada murid di asrama. Saya menelpon seorang murid, nomornya tidak aktif. Saya telpon seorang murid lainnya, nomornya juga tidak aktif. Akhirnya ada satu yang telponnya aktif. Tetapi masalahnya, dia tidak punya uang. Dia sarankan satu murid yang lain. Akhirnya saya dapatkan uang untuk pulang. Ketika menunggu bus lewat, saya baru sadar, charger handphone saya tertinggal di ruang guru. Terpaksa saya balik lagi sejauh setengah Km perjalanan. Kembali saya menunggu bus ke Bitung. Tiba-tiba, kakak saya menelpon dan bertanya saya di mana dan bilang bahwa dia sekarang ada di Manado dan dia membawa kunci rumah sehingga saya sebaiknya ke Manado saja dulu. Tetapi uang saya hanya cukup untuk ke Bitung sampai di rumah, dan batere HP saya sudah low (dan memang baterenya sudah bocor), coba bayangkan kalau saya tidak bertemu dengan dia di manado tanpa uang. Bagaimana saya akan pulang. Rasa-rasanya saya ingin berteriak dan memaki sebisa saya!!! Perut saya masih sakit. Akhirnya saya putuskan agar ke rumah dan menunggu. Yang pentingkan saya sudah di rumah. Sampainya di Bitung, saya menunggu di depan rumah, gelap, duduk dilantai sambil membongkar-bongkar isi laptop.

Hari seninnya nanti, saya ditugasi mengawas UAN di SMP 5 Airmadidi, sehingga saya harus langsung ke SMP 5, tanpa harus singgah di MIS, karena UAN akan mulai jam 7 pagi, sedangkan MIS biasanya mulai jam 8 pagi. Untuk bertugas di SMP 5, saya harus mempunyai surat tugas dari MIS atau dari SMP 3 yang adalah sekolah penyelenggara UAN di MIS. Tetapi sekarang saya sudah punya surat tugas baik dari SMP 3 maupun dari MIS. Surat tugas dari SMP 3, saya selipkan di laptop, surat tugas dari MIS, ditaruh dalam amplop, dan amplop tersebut saya selipkan di sebuah buku, yang saya pinjam dari library MIS sore itu untuk saya baca selama weekend. Sementara menunggu didepan rumah kakak saya, saya mengirim SMS ke Jerome, memberitahukan kesialan terbaru saya, dan mengatakan bahwa tampaknya kesialan saya ini punya pola, yaitu saya akan sial setiap hari Sabbath. Saya mulai sakit hari Sabbath, kehilangan dompet juga hari Sabbath, sekarang kesialan ini juga hari Sabbath. Jerome berkata, bahwa saya hanya terlalu paranoid dengan kesialan. Hmm, betul juga, saya ingat lagu “Count Your Blessing”. Ketika kita terlalu berfokus pada kesialan, kita lupa akan berkat yang sebenarnya ketika kita hitung, kita akan dibuat tercengang. Akhirnya kakak saya datang setelah lebih dari satu jam menunggu.

Sabtu, 25 April 2009

Saya ingin membaca buku yang saya pinjam kemarin, yang memang seingat saya, saya taruh didalam tas. Ketika saya cari, buku itu ternyata tidak ada, bersama dengan surat tugas mengawas didalamnya. Saya chek di depan rumah, siapa tahu saya taruh ketika menunggu kakak saya semalam, tetapi juga tidak ada. Saya bongkar lagi tas saya, ternyata tidak ada. Saya cari keliling rumah, juga tidak ada. Berarti mungkin tertinggal di MIS. Ok. Mungkin saya akan check besok di sekolah.

Malamnya, ada Social gathering guru-guru MIS di City Extra, saya ke Manado malam itu dan berencana untuk tidur dengan teman di Manado dan pagi-paginya singgah MIS untuk mengecek buku, lalu pulang ke Bitung.

Minggu, 26 April 2009.

Saya sampai di MIS, tetapi pintu teacher lounge belum dibuka. Saya bergabung dengan Jemaat Taman Harapan bermain sepak bola. Kedudukan berakhir imbang sehingga diputuskan diadakan adu penalty. Tendangan saya mengenai tiang, sial, tetapi kami menang. Setelah bermain, pintu sudah dibuka, saya kedalam dan mengecek di meja saya, tetapi buku itu tidak ada disana. Saya cari ke belakang di meja kerja Mr. Harianto, siapa tahu tertinggal ketika saya men-charge HP. Tetapi tidak ada juga. Saya cari ke meja sekretaris, meeting room, auditorium, meja computer, kesemua sudut lantai tiga, tetapi tidak ada. Gosh! saya kehilangan buku yang dipinjam dari library, dan juga surat tugas untuk mengawas besok. Apa yang harus saya lakukan? Bagaimana saya bisa mengawas besok. Saya pasti tidak bisa mengawas hari pertama besok. Atau mungkin buku itu memang sudah ada dirumah tetapi saya lupa meletakannya di mana. Mungkin memang di rumah. Ok. Saya putuskan untuk pulang dan mencarinya di rumah. Tetapi mood saya sudah sangat jelek sekali. Kalau saja ada orang yang cari gara-gara pagi itu, pasti langsung saya pukul. Bahkan saya membentak salah seorang murid pagi itu dengan alasan yang tidak masuk akal. Saya menyesal setelah beberapa hari kemudian (karena saya memang biasanya seorang guru yang baik hati, ramah dan tidak sombong, hehehe). Sesampainya di rumah, saya cari lagi, bongkar sini-sana, tetapi tetap bayangan buku itu pun tidak ada.

Aha, saya tahu, mungkin tertinggal di tempat absensi ketika saya meng-absent hari jumat malam itu. Saya perlu surat tugas itu untuk besok pagi. Sehingga saya putuskan untuk kembali lagi ke MIS sore itu (total perjalanan bolak-balik saya hari itu bisa mencapai 100km). Tetapi ketika mengecek ke tempat absensi, buku itu tidak ada disana. Saya ke lantai tiga untuk memastikan sekali lagi. Mr. Eman dll sudah ada diatas untuk mengurus UAN SMP besoknya. Saya bertanya bisa saya dibuatkan surat tugas baru, oh ternyata, saya sudah tidak memerlukan surat tugas dari MIS itu, karena sudah ada surat tugas dari SMP 3. Oh, leganya, tetapi tetap, buku itu sudah hilang. Saya harus menggantinya ke library. Akhrinya saya pulang, dengan harapan semoga saya menemukan buku itu dirumah.

Sesampai dirumah, saya cari lagi, ternyata memang tidak ada. Kakak saya yang sudah bosan melihat saya mencari dan mencari, bertanya, apa sih judul buku itu??? Judulnya… ah, ia, saya tidak pernah berpikir sebelumnya, judul buku itu sama dengan kisah hidup saya selama tiga minggu ini. Judul buku itu; Series of Unfortunate Events (rangkaian kejadian Sial). Wow, ini memang sangat, sangat kebetulan. Hmm, mungkin Cuma sekedar kebetulan. Tetapi kebetulan yang layak diperbincangkan. Saya sms ke Jerome; Percaya nda, saya tidak mengarang cerita ini, tetapi judul bukunya The Series of Unfortunate Events, anehkan? Jerome membalas (saya masih menyimpan SMS ini, datang dan lihat kalau anda tidak percaya) : Kta percaya… dan kita yakin, sama deng buku itu p ending, setelah semua kesialan itu terjadi, kamu sadar bahwa km masih punya sahabat untuk berbagi, saudara yang melindungi dan orang tua yang mencintai…

Oh, God!!! This is to good to be just a coincidence…

Detik itu juga kita sadar akan arti dari semua ini. Ketika saya sakit, saya 3 minggu sebelumnya, saya pikir itu adalah hari-hari terakhir hidup saya. Saya pikir saya kena doti, dan semua keluarga saya melakukan apa yang terbaik agar saya sembuh. Ibu saya, berdoa empat kali dengan saya waktu itu. Ayah saya bolak-balik ke dokter, tante (Mama Ri) saya (yang membuatkan obat doti, datang kerumah di akesimbeka, hari itu adalah hari ulang tahunya) , ternyata banyak orang yang mencintai saya. Ketika saya sakit tersebutlah saya sadar betapa saya sangat dicintai dan bahwa saya sangat mencintai mereka.

Pernah ada bagian dalam hidup saya, ketika saya merasa bahwa hidup ini tidak ada artinya lagi. Saya tidak punya alasan untuk hidup dan tidak ada alasan bagi saya untuk tidak mati, semua sama saja jika saya mati atau hidup. Hidupku tidak berguna sama sekali. Tetapi hari itu, ketika saya melihat mata ibu saya yang sedang melihat saya berteriak kesakitan, Saya tahu bahwa saya harus bertahan hidup, bukan hanya karena saya ingin hidup, tetapi lebih dari itu, karena hidup saya berarti bagi orang lain. Saya adalah subjek cinta kasih dari berberapa orang, yang walupun ditengah kekurangan mereka, ditengah kekurangan saya, ada cinta kasih yang murni yang mengikat kami bersama. Saya harus hidup, bukan untuk diri saya sendiri, tapi untuk mereka. Keluargaku, sahabatku, semua orang yang membutuhkanku.

Dulu, saya anggapbahwa ketika saya akan mati, setidaknya saya ingin bersama dengan orang yang dulu pernah saya cintai. Tetapi tampaknya tidak sekarang. Saya tahu sekarang bahwa keluarga saya punya segala cinta yang jauh lebih dari cukup untuk membuat diri saya merasa berharga. Bahkan ketika saya sakit, kakak saya tidak pernah berhenti mengingatkan saya untuk minum obat. Setiap pagi dia Tanya jika saya sudah minum obat, siangnya dia menelpon atau mengirim pesar dari facebook. Malamnya, entah apa dia menghitung jumlah obat, tetapi dia selalu tahu kalu saya belum minum obat dan tidak pernah berhenti mengingatkan untuk meminum obat dari dokter. Puji Tuhan, sekarang perut saya sudah membaik.

Saya yakin bahwa semua kejadian ini bukanlah kebetulan. Saya yakin bahwa Tuhan mengajar saya banyak hal dari semua ini, dan dengan semua “kesialan” ini, saya wajib mengucap syukur padanya.Dengan semua hal ini, saya lebih yakin bahwa Tuhan itu memang betul-betul ada. Saya yakin, peristiwa ini terlalu aneh jika hanya kebetulan. Kalau secara stastistik, kejadian ini, terlau kecil kemungkinannya untuk terjadi. Sehingga saya yakin ada “tangan tak Nampak”, yang punya kuasa yang mengatur segalanya, dan saya bersyukur atas semua yang dia sudah berikan, for goodness and bad. Rangkaian kejadian ini sudah menguras isi kantong saya begitu banyak, mungkin lebih dari Rp. 2 juta (untuk biaya obat, USG, pemeriksaan, opportunity cost untuk kesempatan memperbaiki laptop, juga kesempatan hilang untuk mengajar 2 jam pengayaan UAN, juga kesempatan nonton gratis, plus juga uang yang hilang di dompet, uang kendaraan, dll), tetapi saya yakin bahwa ada pelajaran yang jauh lebih besar keuntungannya bagi pribadi saya.

Senin, 27 April 2009.

Pagi-paginya, saya langsung ke SMP 5 untuk mengawas. Betapa terkejutnya ketika saya pulang dari mengawas dan kembali ke meja kerja saya, buku itu sudah ada di atas meja. Menurut Mr. Joseph, teman guru samping meja saya, buku itu ada diatas mejanya, dan dia melihat nama saya di surat tugas sehingga dia memindahkan buku itu diatas meja saya. TEtapi tampaknya saya sudah mengecek mejanya kemarin. Dimana dan bagaimana buku itu hilang dan ada kembali, masih menjadi misteri. Langsung saya baca buku itu sampai habis hari itu juga, dan kalimat di halaman terakhir buku itu menjelaskan segalanya: Some unfortunate event doesn’t mean it is, just because we don’t understand it. (Beberapa kejadian sial tidak berarti memang sial, hanya karena kita tidak mengerti akan kejadian itu). Hmm, thanks God for all the lessons.

Sorenya Jerome mengirim sms bertanya bagaimana nasib buku tersebut. Saya menelpon; Jerome, Shakespeare berkata bahwa hidup ini hanyalah panggung sandiwara, semua manusia hanyalah pemainnya. Nah, kadang dalam cerita hidupku, kamu punya peran antagonis, kadang peran kamu tidak berarti, kadang kamu jadi orc dalam LOTR, kadang kamu jadi si iblis Smeagol, kadang kamu jadi si jahat Sauron, kadang jadi si setia Samwise Gamgee. Tetapi dalam cerita ini, saya adalah si babi kurang bijak, Wilbur, dan kamu adalah si laba-laba bijak Charlote, yang menjelaskan bagi Wilbur tentang arti sebenarnya dari cinta, persahabatan dan indahnya hidup. Thanks!

Atas tulisan ini saya ingin berterima kasih kepada:

Tuhan Yesus Kristus

My Family :

-Mami and Papi, for bring me to this wonderful world. To be God’s tools to make me and mold me to be as I am. Sory if someday I’ll dissapont you. But if I do something great, it’s all for you.

- Mama Rie, Mama Akang : For your greatest gifts; your time and concern.

- Atang : For always care

My Friends :

-Jerome : For being occasionally (hehehe) wise!

And for everyone who make my life worthy to be loved. I love u all.



Pembalasan Dendam Para Babi
May 4, 2009, 6:51 pm
Filed under: Wisdom Lover

Tak satupun diantara mereka yang punya nama, karena mereka tidak memerlukan nama untuk dikenal. Mereka dibariskan, masuk ke tiap-tiap bagian-bagian yang sudah ditentukan bagi mereka, manusia menyebut bagian ini sebagai kandang, tetapi para babi lebih suka menyebutnya sebagai Ward. Mereka diperbariskan, tua muda, kecil besar, anak dan orang tuanya. Kebanyakan yang tua, tidak akan cukup tua untuk melihat yang mudah tumbuh dewasa. Sang ayah, tidak akan bertahan hidup untuk melihat anaknya lahir. Jika dia cukup beruntung, anaknya mungkin lahir sebelum hari Pembantaian Besar (versi para Babi untuk Thanksgiving Day dan Hari Natal). Begitulah hidup mereka, ditentukan untuk mati bahkan sebelum mereka lahir. Yang pria tugasnya menjantani dan dibantai, setelah itu ditelan, difermentasikan dalam perut, dan menjadi sisa-sisa yang bahkan membuat jijik manusia sendiri. Yang betina tugas ditakdirkan untuk melahirkan babi yang lain, generasi baru yang nasibnya tidak akan jauh beda dengan kakek dari kakek dari kakek dari kakeknya.

Babi sudah berbuat banyak pada manusia. Para babi sering bergurau, jika kamu adalah apa yang kamu makan, maka kebanyakan manusia adalah babi. Tetapi ironisnya, posisi babi tidak pernah sebegitu penting untuk manusia. Kedudukan tertinggi para babi dalam kesusasteraan adalah sebagai kata makian. Sehingga para babi bisa disejajarkan dengan para iblis, para terkutuk (word D) dan para pezinah (word F). Coba bandingkan dengan singa, atau elang, atau harimau, atau bahkan tikus, yang punya kedudukan begitu elegan dalam banyak kisah, tetapi coba pikir, apa yang pernah singa atau elang atau tikus perbuat bagi manusia, selain memakan manusia dan mencuri? Itulah hal yang membuat para babi tidak pernah berhenti membenci manusia. Yah, memang ada si piglet dan si Wilbur dalam cerita anak-anak, tetapi mereka tidak pernah menggambarkan keadaan babi yang sebenarnya! Nasib babi adalah untuk dibantai dan dimakan, tetapi atas semua jasanya, hanya orang yang paling jahat, paling malas, paling gila, paling kurang ajar, yang mendapat gelar babi. Bayangkan, ada raja yang disebut hati singa, ada pasukan bersenjata menyebut diri Harimau, berapa banyak kerajaan mengambil lambing singa, tetapi pernahkah engkau mendengar raja bergelar babi? Walaupun selama hidupnya dia memakan babi. Atau pernahkah engkau melihat kerajaan berlambang babi? Walaupun mayoritas penduduk Inggris memakan daging babi, bahkan tidak cukup darah babi tercurah, mereka juga memakan darah babi, tetapi  tidak ada satu pun penghargaan orang Inggris akan babi!!!

Atau coba lihat, para Anjing. Para anjing adalah penjilat professional, secara harafiah maupun metafora. Mereka akan memanggil tuannya jika para babi terlalu ribut atau sedang melakukan rencana pelarian. Berjuta babi telah gagal dalam pelariannya karena anjing yang berfungsi sebagai sirine, yang berusaha menjilat tuannya agar mendapat kasih sayang lebih. Setelah semua kekejamannya terhadap babi, anjing akan dihadiahi daging babi.  Hadiah yang sangat kejam. Tetapi coba bayangkan; untuk tugas menjilat dan menyalak ini, para anjing disebut sebagai teman terbaik manusia. Coba bayangkan dengan darah jutaan babi untuk mengenyakan perut mereka, untuk membuat setiap makan malam terasa nikmat, untuk hari raya yang lebih baik, tetapi para babi hanya di pakai dalam makian. Atas semua kekejaman ini, tidak pernah ada satupun alasan sehingga seluruh babi didunia tidak membenci manusia, dan sekutu terdekatnya; anjing.

Tetapi jangan pernah menyangka bahwa para babi tinggal diam. Dibalik semua pembantaian dan kehinaan ini, beberapa babi berhasil bangkit dari keterpurukan. George Orwell pernah mencatat kejadian ini dalam ceritanya berjudul “Animal Farm”. George Orwell adalah satu diantara sedikit manusia yang tahu kejadian ketika para Babi memimpin pemberontakan melawan manusia. Orwell menceritakan kejadian ini kepada Tn. Eric Arthur Blair, sehingga cerita ini tersebar keseluruh dunia. Tetapi cerita ini oleh banyak manusia dinyatakan sebagai fiksi, karena manusia terlalu malu untuk mengakui bahwa babi pernah menang atas mereka. Tetapi pemberontakan ini gagal karena perpecahan yang terjadi dalam diri para babi sendiri (jika anda belum membaca cerita luar biasa ini, belilah satu di Gramedia, dijamin tidak akan kecewa). Sehingga jangan pernah menganggap enteng para babi. Seperti diutarakan Orwell, para babi adalah yang paling pintar diantara binatang lain. Mereka adalah pendorong pemberontakan. Mereka bisa sangat cerdik, jika waktunya dan kesempatanya tepat, dan kita tahu kapan pembalasan dendam para babi itu akan terlaksana. Sekaranglah waktunya. Para babi, BANGKIT!!!

 Tanpa diketahui oleh semua manusia, begitu banyak babi yang sebenarnya sudah melarikan diri dari penjajahan manusia. Tetapi mereka hidup tersembunyi, karena mereka tahu jika persembunyian ini diketahui, maka manusia akan datang dan membantai mereka. Sehingga dengan semua pengetahuan yang mereka punya, para babi telah membuat sebuah dunia khusus para babi. Dunia ini tersembunyi dari para manusia dan menampung setiap pelarian babi dari kandang-kandang seluruh Inggris. Mereka punya komunitas yang maju, dimana semua babi punya masa depan cerah, masa depan yang jauh lebih indah dibandingkan berakhir di perut manusia. Disini para babi bisa melihat anaknya tumbuh dan besar, dan mati dengan tenang didampingi keluarga mereka. Mereka bahkan punya lagu kebangsaan sendiri, lebih indah dari lagu yang dinyanyikan para pemberontah di “Animal Farm”. Lagu itu berjudul “Swain Song” yang digubah oleh composer terkenal pada abad ke-18.

Para babi penghuni dunia babi ini, telah melupakan masa kelam penindasan manusia. Tetapi ada satu hal yang mereka tidak pernah lupakan; pembalasan dendam terhadap sang penjajah! Kebencian mereka tidak pernah hilang dan mereka menanti hari dimana amarah mereka terpuaskan dan dendam mereka terbayar. Dan itulah yang sedang dilakukan oleh Prof. Dumbashog (baca : dumb-as-hog) di sekolah tertinggi di dunia babi; Hogward (Baca; Hog-ward = bilik babi). Hogward adalah sekolah khusus para babi dimana semua babi mempelajari segala hal yang dia perlukan dalam hidup. Disini terdapat perpustakaan yang menyimpan semua ilmu dan literature yang ditulis oleh para ilmuwan, sastrawan dan filsuf babi. Dan disinilah sang pemimpin Hogward, Prof. Dumbashog, memulai rencana pembalasan dendamnya.

Prof. Dumbashog adalah seorang pakar biologi. Dia tahu mengenai semua jenis virus, dan menghafal semua jenis spesies. Dalam penemuannya dia bahkan menemukan bagaimana obat diet khusus untuk babi. Sehingga jika didunia manusia, ketika anda menyebut babi, anda akan membayangkan binatang gemuk dan malas, maka tidak demikian didunia babi. Prof. Dumbashog sendiri, dalam usianya yang sudah 30-an, tetapi masih kelihatan sangat kekar. Masa lalunya sebagai seorang atlit, kelihatan dalam penampilannya sekarang. Dan hampir semua babi di dunia babi adalah para babi dengan badan yang ideal untuk makhluk yang sehat.

Rencana Prof. Dumbashog sendiri adalah rencana brilliant yang sudah dipikirkannya sejak lama. Dia tahu bahwa perang terbuka dengan manusia adalah tidak mungkin. Sehingga satu-satunya cara agar manusia direpotkan dan dibunuh secara tidak langsung oleh babi, adalah dengan menyebarkan sebuah penyakit yang disebarkan oleh babi, tetapi tidak mematikan untuk para babi, sebaliknya akan sangat mematikan untuk para manusia. Untuk mewujudkan hal ini, Prof. Dumbashog sudah mengumpulkan sampel virus flu dari burung, virus flu manusia, dan virus flu babi sendiri, yang kemudian dia campurkan sehingga terciptalah sebuah virus ganas baru bernama; Flu Babi! Dan virus ganas itu sekarang sudah menyebar.

Inilah rencana busuk (sebusuk babi) itu. Informasi ini bocor kepada saya ketika saya menerima email dari salah satu teman saya, Christopher Robin, yang mendapat informasi ini secara tidak sengaja dari temannya yang seekor babi bernama piglet.

Tetapi pembunuhan manusia oleh para babi, bukan hanya terjadi saat ini oleh flu jenis baru keluaran Hogward ini. Coba hitung, sudah berapa ribu manusia mati karena kolesterol, asam urat, serangan jantung dan berbagai penyakit lain yang disebabkan karena terlalu banyak makan babi. Nah, dari tulisan ini saya ingin menyarankan 3 hal. Pertama, mari kita minta maaf kepada para babi atas semua kesalahan kita terhadap mereka, walaupun mereka sudah berbuat banyak bagi kita. Kedua, mari kita kurangi konsumsi babi, biarkan para babi menjalankan tugas mereka untuk membersihkan alam sekitar. Yang terakhir, berhentilah memaki dengan menggunakan subjek babi. Kalu bisa, berhentilah memaki.

Inilah tulisan dari saya, orang yang tidak bisa tertidur jam 1:15 pagi. Jangan anggap tulisan ini terlalu serius. Waspada terhadap flu babi. Semoga tidak menyebar lebih parah. Berdoa untuk mereka yang sudah menderita oleh serangan flu ini, dan berdoa agar penyebarannya tidak meluas lebih parah lagi.

Jagan Siva Khan! Sabtu dini hari, 2 Mei 09.



English Please!!! (MIS Bulletin, December 2008)
May 4, 2009, 6:27 pm
Filed under: Current Affairs

 “I have undertaken to write a grammar of English, because there is clearly a great demand for it from foreigners, who want to be able to understand the various important works which are written in our tongue… All kinds of literature are widely available in English editions, and without boasting, it can be said that there is scarcely any worthwhile body of knowledge which has not been recoded today, adequately at least, in the English language” (Grammatica Linguas Anglicanae, John Wallis).

 Of course, this statement is something very familiar now. But this was stated by John Wallis around 240 years ago in his preface of his book Grammatica Linguas Anglicanae that was written in Latin, the language that was widely used on that time. The book was first written in 1765. 250 years after Wallis wrote down this statement, world was changed even beyond Wallis’ wildest dream about the language he spoke. English now is a language that dominates the way people speak and write.

 How is it happened?

English was not a dominant language back in the 18th and 19th century. Some English 17th century explorer report how useful it is if you can speak Spanish or Dutch when you travel outside, especially in the New World (America) and Orient (Indonesia, Philippine and China). Expansion of British Empire promotes the language as an important language to be learned. But still, at the heights of her extent, British can’t helped the language that they speak to be the most important language, if compare with the French that was at that time consider as diplomatic language and widely used. The greatest change that benefited English occurred after World War II. Europe that was left in ruin after the Great War, prepare the pace for United States of America to her dominance. As a new super power,

 US also brought English to their new status as the most accepted language when someone travels abroad. US economy affect the whole globe, make people perceive, to success in business, you have to speak English. Inventions from English speaking nations also help promote English. Since internet was developed in English speaking nations like US, Australia, Great Britain, so most of internet naming (.com, .net, .org, .edu) was suitable with English term. 80% of the content in Internet was written in English. Placement of the letters based on QWERTY system was design to conform typing in English. Look at your keyboard now, and look that position of ‘ are strategic to ease your access to that symbol, because that symbol are very essential in English, because you need to type words “Juan’s”, or “It’s”. If you learn German, you know the letter “β” was widely use, for example for the word “groβ” (great), but you will hardly to find it on your keyboard, because most of the keyboards are for English.

 David Crystal in his book, “English as Global Language”, indicate various reasons why English become a dominant language today. From political perspective, the growing dominances of English speaking nations (US, Australia, United Kingdom, Canada, etc.) help English to replace France as language of diplomacy. English is a must for every diplomatic event. From Olympic opening ceremony to UN session, English is the mean of communication. English serve better as language if you want to access knowledge and information. Most of all literature is written in English. Library of Congress in Washington D.C. is a place for thousands of books, has largest collection of book in the world, and mostly are written in English. Many of the best universities in the world using English as their main language and best universities in the world (Harvard, Oxford, Cambridge, etc.) is located in English speaking nations. Many school also that located outside English speaking nations, offer English as their medium of communication. Take as an example, our school, MIS, also lots of school that make English their primary language.

 How is the future of English? Some people said that other language might replace English as the global language. Mandarin is spoken by most of the people on earth, consider that China has the highest number of population.  Paul Johnson in his article in Forbes Magazine predicts that “India will soon be the world’s most populous country. By 2050 India, with a population of 1.6 billion, will have overtaken China (1.4 billion). If India becomes a predominantly English-speaking country, as I expect will happen, China will have to follow suit or risk relegation. There are high stakes in the global language game. But there’s not much we can do about it. Events will take their course. Everyone should calm down–and learn English.” Even today, most of the students in China study English as their secondary language. So, if you want to be connected to the world, study English now!

 



Entrepreneur as Inventor (MIS Bulletin, September 2008)
May 4, 2009, 6:23 pm
Filed under: Uncategorized

 

Maybe some of you think that only scientists invent many inventions and ideas that change our world. Or some of you may think that scientists play the greatest role in developing our technology. If that is your assumption, you might be  wrong. There was an Austrian born economist, Joseph Schumpeter who argues differently. According to Schumpeter, the entrepreneur is the one that plays a greater role in innovation. Before we go on, what is an entrepreneur? An entrepreneur is a person who owns a company, enterprise, or a venture, and assumes a significant accountability for the inherent risks and the outcome (Wikipedia.org). So, if your parents own a business or employ others to run a business, your parents are entrepreneurs.

Schumpeter popularized the theory of creative destruction in the economy. Creative destruction is used to describe the process of transformation that accompanies radical innovation. In Schumpeter’s vision of capitalism, innovative entry by entrepreneurs was the force that sustained long-term economic growth, even as it destroyed the value of established companies that enjoyed some degree of monopoly power (Wikipedia.org). In simple English, an entrepreneur promotes innovation (i.e. new products, communication, transportation, management method etc.) through investment. It was called destruction because every invention will later be replaced (and destroyed) by another invention, invented by business entity leads by entrepreneur. For example, the telegraph replaced by modern form of communication like telephone and the cell phone. So, invention of the telephone destroyed the telegraph. I think some of you don’t know what telegraph is. It shows that telegraph has been “destroyed” by newer technology. Entrepreneurs invent, or pay inventor so later they can gain more profit from the invention. That is why now we have IPod (by Apple Co.) or Windows (Microsoft) and many other technologies that shape our life.

Thanks to scientists, and also entrepreneurs, we can enjoy the ease of life offered by technology.