Maha Corp.


Mitos liberalisme
June 26, 2009, 4:22 am
Filed under: Ekonomi, Politic, Wisdom Lover

Mitos : Liberalisme adalah paham yang tidak bermoral. Banyak orang menuduh liberalisme/kapitalisme menuntun kepada imoralitas, pada keserakahan, ketidak adilan, kejahatan, kemaksiatan, dan banyak hal jahat lainnya. Bahkan seorang murid saya pernah memakai sebuah kaos dengan tulisan “capitalism stole my virginity”.

Fakta : Moral adalah kemampuan kita dalam hal membedakan mana yang benar, mana yang salah. Mana yang baik dan mana yang jahat. Perlu diketahui bahwa moral jauh lebih besar dan murni dari adat. Beberapa adat istiadat bisa saja tidak bermoral, tetapi semua yang benar berasal murni dari dalam akal sehat dan nurani kita, yang tidak bisa kita bohongi. Itu adalah anugerah pencipta bagi kita semua. Manusia adalah satu-satunya makhluk dengan nilai moral. Anjing tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang jahat.

Secara moral, liberalisme lebih unggul dari faham sekuler apapun. Banyak pakar ekonomisalah dengan membela kapitalisme karena kapitalisme menciptakan kesejahteraan, tetapi kadang-kadang mengakui bahwa kapitalisme menciptakan kejahatan, sehingga dianggap, kapitalisme adalah “necessary evil” (kejahatan yang diperlukan) untuk menciptakan kesejahteraan. Pandangan yang salah ini tentu saja memperburuk citra liberalisme. Liberalisme menurut Walter Williams, sebenarnya bukan seharusnya dibela dari segi argument ekonomi, tetapi lebih dari sisi moralitas, karena liberalism adalah faham dengan yang paling superior dari sisi moralitas. Sehingga, walaupun liberalisme gagal dalam mengelola ekonomi, tetapi secara moral, liberalism tidak terbantahkan. Sehingga, liberalisme harus dipertahankan dengan argument yang jauh melebihi sekedar argument bahwa liberalisme baik untuk ekonomi, tetapi juga baik untuk kemanusiaan secara universal.

Liberalisme didasarkan kepada hak individu atas anugerah pencipta yang tidak bisa diambil oleh siapapun. Liberalisme menciptakan kebahagiaan bagi siapapun, selama kebahagiaan tersebut tidak mengganggu kebahagiaan orang lain. Bukti memperlihatkan bahwa bangsa modern yang beradab adalah bangsa yang menghargai hak orang lain. Negara-negara besar seperti AS dan Inggris, tidak tercipta dari pemaksaan kehendak terhadap warganya, tetapi melalui consensus yang tercipta secara damai dan demokratis, tanpa adanya pemaksaan dan pelanggaran hak asasi manusia. Tetapi harus diingat bahwa kesejahteraan ekonomi “hanyalah produk sampingan dari liberalisme” (Williams, 2004). Produk utamanya adalah kemerdekaan, apakah ada hal yang lebih bermoral dari ini?

Kembali ke pernyataan di atas : “capitalism stole my virginity”. Apakah memang kebebasan yang mengakibatkan keperawanannya terenggut? Atau jika pernyataanya: apakah kebebasan yang mengakibatkan imoralitas? Tentu saja tidak! Kebebasan membutuhkan tanggungjawab pribadi. Bukan kebebasan yang menciptakan imoralitas tersebut, tetapi diri anda sendiri. Ada pilihan lain untuk mencegahnya, yaitu dengan menghilangkan kebebasan (dengan pemaksaan, koersi, kekerasan dll), sehingga tidak terwujudnya imoralitas. Tetapi bukankah dengan demikian kita menciptakan lebih banyak imoralitas?

Mitos : Liberalisme adalah paham yang tidak berkeadilan, paham yang menciptakan ketidak adilan. Tuduhan yang sering di alamatkan katanya liberalisme kapitalisme menciptakan perbedaan kelas, ketimpangan ekonomi, yang kaya semakin kaya dan miskin semakin miskin sehingga tercipta kesenjangan pendapatan.

Fakta : Diantara banyaknya tuduhan, ini yang paling sering didengungkan. Sebagaimana menjawab mitos diatas, dengan mewujudkan pengertian bersama tentang apa itu keadilan, kita bisa melangkah dengan pengertian yang lebih baik. Bagaimana sebenarnya keadilan itu? Ketika saya masih kecil dulu, duduk berdampingan dengan kakak saya yang terpaut 6 tahun, duduk menanti sarapan yang akan diberikan, ibu saya memberikan porsi yang lebih banyak kepada kakak saya karena tahu kemampuan makan kakak saya dan saya berbeda. Apakah ini bisa disebut keadilan? Tentu saja karena masing-masing menurut kemampuannya. Ketika saya sekarang mengajar di sebuah kelas. Bagi murid yang malas, saya berikan nilai lebih rendah sedangkan yang rajin saya berikan nilai yang lebih tinggi. Apakah ini keadilan? Sekali lagi, ya, karena saya memberi sesuai dengan yang mereka usahakan.

Dalam pikiran banyak orang yang anti liberalisme, mereka punya kesamaan visi atas ketidak adilan yang tercipta dalam system kebebasan. TEtapi sayangnya, hayalan ketidak adilan ini mereka dasarkan hanya atas hasil akhir dan bukan prosesnya (William, 2004). Prof. Hayek, berusaha menjawab kritik ini dengan meyakinkan bahwa jangan hanya melihat ketidak adilan dari hasil akhir, tetapi yang paling utama, keadilan dalam proses. Contohnya, dalam sebuah kelas, terdapat ketimpangan hasil akhir. Ada yang dapat F dan ada yang dapat A.Tetapi ini adalah keadilan, seandainya memang prosesnya adil. Ketika murid berusaha sesuai kemampuannya dan mendapat nilai sesuai dengan kemampuannya, itulah keadilan. Akan sangat tidak adil seandainya semuanya mendapat A. Bukan saja tidak adil, tetapi juga akan menghasilkan proses belajar yang tidak kompetitif dan produktif, karena tidak ada murid yang mau berusaha sejak mereka tahu bahwa sekeras apapun mereka berusaha, mereka tetap akan dapat A. Bahkan menurut Prof. Friedman dalam “Free to Choose”, bukan saja tidak adil dan kontra produktih, malah tidak menyenangkan. Tidak ada orang yang akan menikmati hidup seandainya “keadilan hanya berdasar hasil akhir” ini diterapkan. Kita sendiri sudah lahir “tidak adil”. Ada yang dilahirkan sudah kaya, tampan dan cantik, ada yang pintar nyanyi, ada yang pintar memimpin, berbakat jadi dokter, jadi pilot, ada yang dilahirkan cacat, ada yang buta, ada tidak terlalu pintar, ada yang brilliant. Memang “tidak adil”, tetapi kalau anda lihat justru itulah keadilan yang Maha Kuasa. Kalau semuanya dilahirkan pintar bermain music, siapa yang akan menjadi penikmat music. Kalau semua dilahirkan berbakat memimpin, siapa yang akan menjadi pengikut? Yang membuat saya heran, kenapa para kaum egaliter (ingin masyarakat sederajat), begitu getol agar kita menjadi sejajar semua secara ekonomi, sedangkan kita sendiri lahir secara “tidak merata”. Milton Friedman mengejek anggapan ini dengan begitu brilliant. Menurutnya, kalau memang anda ingin dunia adil, maka sederhana, semua yang terlahir pintar bermusik, jangan dilatih bermusik. Sedangkan yang tidak bisa bermusik harus diajari bermain music, sehingga kemampuan semua manusia sejajar. Tetapi bukankah ini hal yang sangat bodoh? Bukan hanya merugikan sang empunya bakat, tetapi merugikan seluruh masyarakat yang tidak bisa menikmati keindahan music yang dihasilkan empunya bakat.

Dalam liberalisme, anda mendapatkan sesuai dengan apa yang anda usahakan. Kerja keras anda menentukan hasil akhir yang anda dapat. Walter Williams mengilustrasikan dengan luar biasa gamblangnya system penghargaan (reward) ini. Menurutnya, dalam masyarakat kapitalis, setiap kerja anda dihargai dengan sertifikat, dan sertifikat itu kalau di Amerika kita sebut Dollar, di tempat lain disebut Euro, Mark, Pound sterling, dan kalau di Indonesia kita sebut itu Rupiah. Sertifikat ini kita berikan atas ucapan terima kasih atas layanan yang diberikan atas kita terhadap sopir taxi, guru, penata rambut, penjual beras, dan banyak orang lain. Lebih keras anda bekerja, lebih banyak sertifikat yang anda terima. Ketika anda tidak bekerja, jangan harap anda menerima sertifikat penghargaan ini. Sehingga jangan heran dalam system kapitalisme/liberalisme, tercipta ketidak sejajaran, karena ada yang bekerja malas, ada yang rajin, sehingga mereka menerima sesuai dengan apa yang layak mereka dapatkan. Tetapi ketidak sejajaran hasil akhir ini adalah hasil sebuah proses yang sangat-sangat adil. Bukankah ini system yang sangat, sangat berkeadilan. Bisakah anda temukan system yang lebih adil dari ini?

Mitos : Ekonomi Liberalisme didasarkan atas pementingan diri sendiri dan keserakahan

Fakta : Coba perhatikanpara atlit yang sedang bertanding, contohlah para pelari cepat. Apa yang anda lihat? Tentu saja bukan sekedar lintasan lari dan para atlit. Tetapi juga determinasi yang terpancar dari aura dan usaha mereka yang membuat mereka ingin berlari lebih cepat dari yang lain. Tentu saja tidak ada yang menyuruh mereka untuk lari lebih cepat. Tidak ada perintah dari atasan, tidak ada kelinci yang harus dikejar (seperti lintasan lari anjing greyhound) dan tidak ada yang menodong mereka dari belakang untuk lari lebih cepat. Lalu apa yang membuat mereka lari lebih cepat? Paling tidak ada dua alasan utama yang membuat mereka lari. Pertama, hadiah besar yang menanti didepan. Hmmmm, hadiah besar yang menggiurkan. Alasan kedua, adalah, keinginan alamiah manusia untuk menjadi yang terbaik. Tidak semua orang bisa menjadi terbaik, karena jika semua menjadi terbaik, maka terbaik menjadi biasa saja. “Terbaik” adalah hal yang eksklusif. Tidak semua bisa menjadi terbaik, hanya orang khusus bisa menjadi terbaik. Dan untuk menjadi terbaik seseorang harus mendahulukan dirinya. Bukankah kedua hal ini yang meEconomic and Virtue

Mitos : Liberalisme menimbulkan kemelaratan

Fakta : Diantara semua tuduhan, ini adalah tuduhan yang paling tidak berdasar. Tidak ada satu bukti pun yang bisa mendukung mitos ini. Tetapi buktu untuk kebalikannya, bahwa Ekonomi liberal menciptakan kesejahteraan, bisa anda temukan dimana-mana. Anda tidak perlu sebuah penelitian ilmiah secara comprehensive. Cukup nyalakan TV anda dan lihat secara jelas. Tetapi jika anda membutuhkan fakta ilmiah, penelitian James Gwartney, Robert A. Lawson dan Walter E. Block (1998) membuktikan hal ini ini. Gwartney Et Al. merancang index untuk mengukur tingkat kebebasan ekonomi dari 100 negara. Dengan membandingkan hasil index tersebut dengan GDP Negara bersangkutan, dan menemukan bahwa Negara-negara dengan tingkat kebebasan ekonomi yang tinggi (seperti Amerika Serikat, Selandia Baru dan Hong Kong),bertumbuh lebih cepat dari Negara-negara dengan kebebasan ekonomi menengah (seperti Inggris, Jerman dan Negara-negara Skandinavia), dan bertumbuh jauh lebih cepat dari Negara-negara dengan tingkat kebebasan ekonomi rendah (seperti Venezuela dan Iran). (Informasi penelitian ini bisa anda dapatkan dari buku karya Mark Skousen berjudul “The Making of Modern Economic”, yang sudah di terjemahkan kedalam bahasa Indonesia “Sang Maestro: Sejarah Ekonomi Modern”, yang bisa dibeli di gramedia, atau dipinjam ke saya, dengan syarat ketentuan berlaku J. Sehingga jika anda lihat apa sebenarnya resep utama dibalik kemakmuran suatu bangsa? Jawabannya terletak pada sebuah tulisan berusia lebih dari 200 tahun lalu dengan judul yang mempertanyakan pertanyaan yang sama “Penyelidikan Terhadap Sifat dan Penyebab Kemakmuran Bangsa” karya Adam Smith : “Ketika seseorang bekerja sekeras mungkin, dengan menggunakan modalnya untuk mendukung industry didalam negeri dan menuntun industry ini untuk menghasilkan mungkin nilai yang tertinggi … Dia pada dasarnya tidak tentu tidak bermaksud memajukan kepentingan publik, dan tidak tahu bagaimana caranya memajukan kepentingan umum … dia bertujuan hanya untuk mengamankan dirinya sendiri, dan dengan mengarahkan industrinya untuk menghasilkan nilai yang tertinggi, tujuannya hanya keuntungan pribadinya; dan dia dalam kasus ini, sebagaimana banyak kasus lainnya dituntun oleh tangan tak Nampak untuk mencapai tujuan akhir yang bukan merupakan tujuannya. Dengan mengejar kepentingan pribadinya, dia sering memajukan kepentingan masyarakat lebih effektif dari pada ketika dia dengan sengaja bertujuan memajukannya. Aku tak pernah melihat begitu banyak kebaikan yang dilakukan (bagi masyarakat - penerjemah) melebihi kebaikan yang merupakan efek perdangan.”

Faktanya, terimakasih terhadap kebebasan pasar, kita sekarang punya teknologi yang memudahkan hidup kita. Kita jauh melebihi leluhur kita yang banyak hanya mampu memenuhi kebutuhan tidak lebih dari satu hari, dan harus berusaha lebih keras untuk memenuhi kebutuhan hari berikutnya. Sekarang, kebanyakan dari kita punya lebih banyak kesempatan untuk memajukan kebudayaan. Lebih banyak waktu untuk membaca buku, aktif dalam diskusi public, dalam ilmu pengetahuan, dan berekreasi, mempercantik diri, main game, dan mengejar impian masing-masing.

Mitos : Dalam ekonomi liberal, yang kaya lebih kaya dan miskin lebih miskin. Yang punya modal berkuasa.

Fakta : Fakta ini saya kutip dari buku “The Making of Modern Economic” : “Pekerjaan stastistik modern oleh Stanley Lebergott dan Michael Cox mengkonfirmasi pemikiran pandangan Smithian ini (bahwa yang miskin juga bertambah sejahtera – Penj.) dan menyangkal kiritik yang dipercaya banyak orang bahwa dibawah system pasar bebas yang kaya menjadi lebih kaya dan miskin lebih miskin. Yang miskin juga menjadi kaya, menurut studi terbaru oleh Lebergott (1976) dan Cox (1999). Stanley Lebergott, professor emeritus di Wesleyan University, mepelajari pasar consumer individual dari makanan, pakaian, perumahan, bahan bakar, perlengkapan rumah tangga, transportasi, kesehatan, rekreasi dan agama. Sebagaimana dia mengembakan statistik… yang menunjukan pertumbuhan standar hidup semenjak tahun 1900 sampai 1970. Sebagaimana table Lebergott tersebut menunjukan, standar hidup meningkat secara substansial untuk semua kelas, termasuk yang terbawah, pada abad keduapuluh. Dia mengkonfirmasikan pernyataan yang pernah dibuat oleh Andrew Carnagie, “Kapitalisme merubah kemewahan menjadi kebutuhan.” … Penelitian lain yang dilakukan Michael Cox, ekonom dari Bank Sentral Dallas, dan Richard Alm, penulis laporan bisnis dari Dallas Morning News, menyimpulkan bahwa harga real dari perumahan, makanan, bensin, listrik, layanan telepon, perlengkapan rumah, pakaian dan kebutuhan sehari-hari lainnya, turun secara signifikan selama abad keduapuluh. Peneliti juga menunjukan bahwa yang miskin di Amerika juga menunjukan perkembangan gradual dari kehidupan ekonomi mereka. Lebih banyak orang memiliki rumah, mobil, dan produk consumer lainnya lebih dari zaman sebelumnya, dan televisi bahkan ditemukan dirumah termiskin.”

Banyak dari pengkritik pasar bebas menganggap bahwa system pasar bebas adalah system hukum rimba dimana yang punya modal yang paling kuat. Padahal dalam kenyataannya system pasar bebas hanya akan berhasil ketika ada peraturan yang mencegah seseorang melukai yang lain. System pasar bebas atau liberalisme, atau kapitalisme, apapun anda menyebutnya adalah system yang paling demokratis dan damai. Walaupun seseorang, contohnya Bill Gates, menjadi kaya, bukankah itu karena orang lain menghargai kerja kerasnya dan mau membayarnya untuk itu? Dia tidak pernah memalaki orang untuk tersebut. Semuanya dihasilkan dari kerja keras, inovasi dan kreativitas. Tetapi apakah memang modal satu-satunya penentu keberhasilan dalam system pasar bebas? Tentu saja ini hanya sekedar mitos belaka. Kalau seandainya modal satu-satunya variable penentu keberhasilan, kita tidak akan pernah melihat Bill Gates, Steve Jobs, Paul Allen, Walt Disney, Ray Kroc, McDonalds Bersaudara,Thomas Alva Edison, Akio Morita, Michael Dell, dan banyak wirausahawan lainnya yang berhasil bukan karena kepemilikan modal, tetapi karena kerja keras, penghematan, kemauan, determinasi. Bukankah ini nilai-nilai yang mulia yang muncul dari pasar bebas, yang saya heran kenapa Cuma keserakahan dan keserakahan saja yang digembar-gemborkan para penentang kebebasan. Bukan hanya para usahawan saja yang diuntungkan oleh pasar bebas. Orang-orang seperti Michael Jordan, Arsene Wenger, Pablo Picasso, Michael Jackson, The Beatles, Rowan Atkinson, Charlie Chaplin, Pele, Albert Einstein, Billy Joel, dan jutaan lainnya yang membuat hidup kita lebih nyaman dan mengembangkan kebudayaan kita, adalah hasil dari pemikiran yang pro kebebasan. Pemikiran anti kebebasan hanya menghasilkan para dictator dan penguasa seperti para Paus abad pertengahan, Jenghis Khan, Lenin, Stalin, Hitler, dll.

Mitos – mitos ini menuntun kita kepada mitos yang paling besar : Indonesia kurang bisa maju karena kekurangan SDM.

Fakta : Ada dua ratus juta penduduk Indonesia. Ada dua ratus juta potensi, ada begitu banyak kreativitas, kemampuan, keahlian, dan tentu saja mimpi dan impian. Seandainya kita bisa lepaskan dua ratus juta manusia ini dengan bebas mengejar kebebasannya, maka tentu saja kesejahteraan Indonesia pasti akan tercapai.



Apa artinya menjadi mandiri?
June 21, 2009, 1:12 am
Filed under: Uncategorized

Mandiri selain menjadi nama bank terkemuka, juga menjadi slogan calon-calon presiden. Tetapi seakan-akan bagi saya mandiri hanya menjadi sebuah kata tanpa arti, karena tidak ada satu calon pun yang mampu mendefinisikan apa arti mandiri itu. Maksud saya, tidak ada yang mampu secara benar mendefinisikan apa arti mandiri itu. Apa sih mandiri? Apakah mandiri hanya sekedar berarti mandi sendiri?

Sebuah bangsa yang mandiri katanya, adalah bangsa yang mampu menghasilkan barangnya sendiri, tidak didikte bangsa lain, dan lain sebagainnya. Bukan untuk kritis, tetapi saya anggap ini adalah cara pandang kemandirian yang terlalu sempit, terlalu naïve. Saya beri contoh, seorang yang ingin mandiri dalam cara pandang sempit ini. Dia ingin menjadi mandiri sehingga ketika membagun rumah, dia sendiri yang membangunnya, dia menganggap bahwa meminta bantuan orang lain adalah jalan menuju ketidak mandirian. Ketika dia butuh makanan, dia merasa bahwa untuk menjadi pribadi yang mandiri dia harus bisa mencari dan memproduksi makanannya sendiri. Dia tidak mau berhutang karena berarti dia akan didikte orang lain, itu adalah ciri ketidak mandirian. Dia tidak mau membeli pakaian dan cepatu dari orang lain, itu tidak mandiri. Inilah contoh ketika kemandirian itu dilihat secara naïf, secara sempit. Bukannya menuju kesejahteraan malah menuntun kepada kehancuran diri sendiri. Ini adalah kemandirian sempit dan salah yang menciptakan kemelaratan.

Mungkin anda menganggap contoh saya terlalu sempit pula, contoh yang terlalu naif pula, tidak realistis. Ok., Saya akan tunjukan satu contoh nyata yang lebih luas. Sebuah bangsa yang katanya ingin menjadi mandiri, sehingga merasa diri mampu menciptakan segala hal dengan dirinya sendiri untuk rakyatnya. Dengan bangga mengaku bahwa mereka bisa membangun bandara sendiri. Katanya mereka membangun bandara tersebut tanpa campur tangan asing. Ini adalah suatu pernyataan paling naïf yang pernah saya dengar. Sebagaimana saya terjemahkan dari tulisan Leonard E. Read dalam artikel di link ini, Leonard E. Read menantang semua orang bahwa tidak ada satu orang pun bisa menciptakan pensil. Sekarang saya ingin menantang siapa pun, siapapun dia, bahwa tidak ada satu bangsa pun yang bisa menciptakan sendiri suatu bandara berkualitas, bahkan sebuah bangsa paling maju didunia sekalipun,apapun bangsa itu. Kalau anda memaksa bahwa Indonesia bisa membangun bandara tanpa campur tangan asing, saya ingin bertanya, dari mana datangnya bahan membuat Bandara tersebut? Semennya datang dari Indonesia, tetapi mesin pembuatnya apakah 100% datang dari Indonesia? Kursi plastic di bandara tersebut? Apakah bukan didatangkan dari China? Konstruksi baja datang dari Indonesia, begitu juga dengan biji besinya, tetapi apakah dana pembangunan pabrik baja tersebut 100% datang dari Indonesia? Sebagaimana Pensil adalah sebuah produk kerjasama jutaan manusia, maka sebuah bandara adalah sebuah hasil buah karya puluhan bangsa didunia yang bekerja sama, bukan untuk kesejahteraan bangsa pemilik bandara, tetapi demi kesejahteraan bangsa masing-masing bangsa tetapi dengan demikian menciptakan pula kesejahteraan bagi bangsa lain. Pengakuan bahwa sebuah bangsa dengan mandiri bisa menciptakan sebuah bandara tanpa campur tangan asing adalah sebuah contoh kemandirian yang kebablasan, sempit dan tanpa dasar.

Ijinkan saya memberikan konsepsi saya tentang bangsa yang mandiri dan saya harap anda bisa sepikiran dengan saya. Sekarang sebelum kita melangkah lebih jauh, mari kita lihat lebih dekat apa sebuah bangsa itu. Bangsa adalah sekumpulan manusia yang saling berbagi kesamaan. Jadi bangsa adalah sekumpulan manusia. Manusia adalah bangsa, tanpa manusia-manusia ini, bangsa tidak akan pernah terbentuk. Sehingga bangsa yang mandiri adalah ketika manusia-manusia secara pribadi mampu mandiri. Tidak ada sebuah bangsa yang bisa kolektif mandiri jika manusia-manusianya terjajah untuk kemandirian kolektif tersebut. Kemandirian suatu bangsa terwujud, jika manusia-manusia yang menjadi anggota bangsa tersebut adalah orang-orang yang mandiri. Lalu apa itu seorang manusia yang mandiri? Tentu saja bukan seperti kemandirian sempit yang saya contohkan diatas.

Seorang manusia yang mandiri adalah seorang yang bisa memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa harus bergantung kepada orang lain. Seorang manusia yang mandiri adalah seorang yang mampu membeli apapun yang dia mau dan butuhkan tanpa harus meminta bantuan dan mengemis kepada siapapun, termasuk kepada pemerintah. Seorang manusia mandiri adalah seorang manusia yang berani BERHUTANG karena dia tahu bahwa dia punya kemampuan untuk membayanya kembali secara jujur. Seorang manusia yang mandiri adalah seorang yang mampu memenuhi kesejahteraan dasarnya tanpa harus berharap banyak terhadap subsidi pemerintah sampai harus merengek terhadap subsidi tersebut. Seorang manusia yang mandiri adalah seorang yang sanggup membuka usaha tanpa harus takut bersaing secara adil dengan orang lain bahkan pesaing dari bangsa lain, tanpa takut bersaing dalam persaingan bebas yang adil sehingga tidak perlu meminta pemerintah untuk melindungi usahanya. Seorang manusia yang mandiri adalah seorang yang bisa mempertahankan kebebasannya tanpa harus mengganggu kebebasan orang lain, yang bisa menjalankan agamnya tanpa bisa diganggu orang lain. Seorang manusia yang mandiri adalah manusia yang sanggup memenuhi biaya pendidikannya tanpa harus berharap banyak terhadap subsidi pendidikan, sehingga dia mampu membuktikan kepintarannya dan mendapatkan bantuan berupa beasiswa atau bantuan lain atas dasar karena kemampuannya. Ketika para manusia-manusia yang punya mental kemandirian diatas bersatu, maka terwujudlah suatu bangsa yang mandiri.

Sehingga jelas, seorang calon pemimpin yang menjanjikan bahwa dia akan melindungi pengusaha domestic, adalah seorang calon yang membunuh kemandirian pengusaha kita untuk bersaing. Seorang pemimpin yang menjanjikan bahwa dia akan membantu petani dan nelayan, adalah petani yang membunuh kemandirian petani dan nelayan tersebut untuk berusaha lebih keras. Seorang pemimpin yang menjanjikan kesejahteraan lewat subsidi gratis di berbagai bidang, adalah pemimpin yang membunuh kemandirian bangsa. Seorang pemimpin yang menjanjikan banyak kemudahan tanpa banyak kerja keras, adalah pemimpin yang menghancurkan mental mandiri manusia-manusia dan menghasilkan bangsa memble, bangsa yang tidak bisa mandiri.

Ingat, seorang pemilih yang mandiri adalah seorang pemilih program nyata yang mengarah kepada pembangunan, bukan yang memilih karena janji angin surga, bukan memilih karena dijanjikan usahanya dilindungi oleh calon tersebut, atau yang paling hina, bukan memilih karena diberikan sejumlah uang. Siapapun yang anda pilih, calon presiden ataupun calon legislative, atau calon kepala daerah, akan menentukan apakah anda seorang manusia mandiri yang siap membentuk bangsa yang mandiri.



Aku, Pensil : Silsilah Keluarga Sebuah Pensil, sebagaimana dikisahkan oleh Leonard E. Read
June 15, 2009, 1:13 am
Filed under: Ekonomi, Wisdom Lover

PENGANTAR(OLEH PENERJEMAH, JUAN MAHAGANTI)

Tidak ada cerita yang membuatku yakin kepada liberalimse melebihi cerita “sederhana” oleh Leonard Read ini, tentang sebatang pensil yang menjelaskan kenapa kita seharusnya punya Iman terhadap orang-orang merdeka. Tetapi bukan cerita ini yang membawaku menjadi kapitalis, tetapi buku Milton Friedman “Free to Choose” yang juga mengangkat cerita ini (Saya meminjamnya di Perpustakaan Unklab, ketika masih kuliah dulu). Tetapi cerita ini mampu menjelaskan apa yang terjadi ketika peran pemerintah di minimalisir dan kreativitas dibiarkan bebas. Cerita ini juga mampu dengan mudah menjelaskan kelebihan kapitalisme dalam mengelola ekonomi, juga tentang peran harga dalam sebagai indicator untuk menjawab pertanyaan mendasar dalam ekonomi; apa, bagaimana dan untuk siapa suatu barang diproduksi. Terjemahan ini tentu masih jauh dari sempurna dan anda bisa mengunduh versi asli di situs resmi Foundation of Economic Education. Semoga bisa berguna.

Aku, Pensil : Silsilah Keluarga Sebuah Pensil, sebagaimana dikisahkan oleh Leonard E. Read

Aku, Pensil- sebuah pensil biasa yang akrab bagi semua anak-anak dan orang dewasa yang bisa membaca dan menulis. Menulis adalah pekerjaan, sebagaimana juga kegemaranku, itulah satu-satunya hal yang bisa ku lakukan.

Kamu mungkin akan bertanya-tanya kenapa aku harus menulis silsilahku? Yah, untuk memulai, ceritaku adalah hal yang sangat menarik. Dan, selanjutnya, Aku adalah sebuah misteri – lebih dari sebatang pohon, atau matahari terbenam atau bahkan melebihi kilatan Guntur. Tetapi sayangnya, aku dianggap oleh semua yang menggunakan jasaku, seakan-akan hanyalah sebuah ketidak sengajaan (kecelakaan) dan tanpa latar-belakang. Sikap arogan ini menurunkan derajatku menjadi sederajat dengan hal-hal remeh-temeh biasa saja.Ini adalah sebuah kesalahan fatal dan bahaya yang dilakukan yang mana manusia tidak bisa membiarkannya lama tanpa akibat fatal. Sebagaimana yang ditulis oleh G. K. Chesterton yang bijak, “kita musnah karena keinginan kita akan sebuah keajaiban, bukan karena keinginan akan keajaiban-keajaiban.”

Aku, Pensil, sederhana sebagaimana tampilanku, layak mendapat kekagumanmu, sebuah pengakuan yang akan aku coba untuk buktikan. Faktanya, jika engkau bisa mengerti akan diriku – tidak, itu terlalu banyak untuk diminta dari seseorang – jika saja engkau bisa menyadari keajaiban yang aku simbolisasikan, engkau bisa membantu menyelamatkan kebebasan yang secara tidak menyenangkan hilang dari banyak orang. Aku punya sebuah pelajaran luar biasa untuk diajarkan. Dan aku bisa mengajarkan pelajaran ini lebih baik dair sebuah mobil, sebuah pesawat terbang atau mesin pencuci piring karena – yah, karena aku kelihatannya sangat sederhana.

Sederhana? Walau demikian, tidak ada satu orangpun di muka bumi ini yang tahu bagaimana cara membuat diriku. Kedengaran fantastis bukan? Terutama jika engkau sadar bahwa ada sekitar satu sampai satu setengah miliar sejenisku yang diproduksi di Amerika Serikat setiap tahun.

Ambil aku dan lihat. Apa yang kau lihat? Tidak banyak, ada kayu, dibungkus pernis, label merk yang dicetak diatasku, ujung dari grafit, sedikit logam, dan sebuah penghapus.

LELUHUR YANG TAK TERHITUNG BANYAKNYA.

Sebagaimana engkau tidak bisa melihat leluhurmu sampai sangat jauh keatas, sehingga juga tidak mungkin bagiku untuk memberitahu dan menjelaskan semua leluhurku. Tetapi aku akan menyebutkan dan menjelaskan cukup banyak sampai bisa menjelaskan betapa kaya dan rumitnya latar belakangku.

Silsilah keluargaku dimulai dari sebuah pohon, pohon cedar tegak yang tumbuh di Kalifornia Utara dan Oregon. Sekarang, pikirkan semua gergaji mesin dan truk dan tali dan mesin-mesin lain yang tak terhitung banyaknya yang digunakan untuk memotong dan membawa batangan cedar dari hutan ke jalur transportasi kereta api. Bayangkan semua orang-orang dan keahlian yang begitu banyak yang dipakai untuk merakit mesin-mesin ini; tambang biji besi, pembuatan baja dan pemrosesannya sehingga menjadi gergaji-gergaji, kampak-kampak, mesin-mesin; penanaman rami dan proses yang dia lewati sehingga menjadi tali yang kuat dan berat; mess pemotongan kayu dengan semua kasur-kasur dan tempat tidurnya dan aula mess, penyiapan makanan untuk penghuni mess, juga proses pertanian untuk makanan tersebut. Kenapa juga tidak dihitung, ribuan orang yang bekerja sama untuk setiap gelas kopi yang diminum pemotong kayu!

Gelondongan kayu dikapalkan ke tempat pemotongan di San Leandro, Kalifornia. Bisa engkau bayangkan orang-orang yang membuat gerbong datar dan rel kerata api dan mesin kereta api dan juga orang-orang dan alat yang dipasang untuk system komunikasi yang berhubungan dengan semua proses ini? Betapa banyaknya legiun ini adalah bagian dari para pendahulu, leluhurku.

Pikirkan tempat pemotongan kayu di San Leandro. Gelondongan cedar yang dipotong-potong menjadi kecil, ukuran tebal sebuah pensil yang ukurannya kurang dari setengah inci tebalnya. Kemudian melewati pengeringan lewat oven dan diwarnai untuk alasan yang sama dengan kenapa wanita meletakan perona diwajahnya. Orang-orang lebih menginginkan aku kelihatan cantik dari pada sekedar pucat dan putih. Potongan kayu ini di poles lalu di keringkan dalam oven sekali lagi. Bayangkan berapa banyak ketrampilan dicurahkan untuk membuat cat dan oven pengering ini, juga pemanas ruangan, penerang ruangan, tenaga listrik, ban berjalan untuk proses produksi, motor-motor, dan semua hal lain yang dibutuhkan oleh tempat pemotongan ini untuk bekerja?

Tukang pel di pabrik pemotongan ini juga diantara leluhurku? Ya, dan juga termasuk orang-orang yang menuang campuran semen untuk membuat beton-beton untuk bendungan PLTA milik Pacific Gas & Electric Company yang melayani suplai energy untuk pabrik pemotongan kayu.

Jangan juga lewatkan leluhurku yang ada dijauh dan dekat yang bekerja bersama-sama untuk mendistribusikan enam puluh container penuh potongan ukuran pensil kesemua bagian negeri.

Ketika tiba di pabrik pensil – terdiri dari bangunan dan mesin-mesin bernilai $4,000,000, semua modal ini dikumpulkan oleh orang tuaku yang rajin menabung dan hemat- semua potongan akan nantinya dipotong delapan oleh sebuah mesin yang rumit, setelah itu mesin yang lain akan menempatkan isi pensil pada setiap potongan, setelah itu mesin lain akan menempatkan potongan kayu lain pada setiap potongan yang sudah diberi isi pensil, direkatkan dengan lem – sandwich isi pensil, begitulah disebut. Tujuh saudaraku dan aku nantinya dipotong dari sandwich “susunan kayu” ini.

“Isi” ku sendiri sangat rumit. Grafitnya berasal dari tambang di Ceylon (Sri Lanka). Bayangkan para penambang dan semua orang yang membuat alat tambangnya dan juga pembuat karung kertas yang digunakan untuk mengangkut dan mengapalkan grafit dan juga tali-tali yang digunakan untuk mengikat karung-karung tersebut dan juga para pekerja yang mengangkut karung keatas kapal, dan juga semua yang membuat kapal pengangkut tersebut. Bahkan para penjaga mercusuar juga membantu agar aku bisa terlahir, dan juga para penuntun kapal di pelabuhan.

Grafit lalu dicampur dengan tanah liat dari Mississippi dan yang mana ammonium hidroxida digunakan untuk proses pencampurannya. Lalu agen pembasah ditambahkan sejenis tallow (lemak hewan yang direaksikan secara kimian dengan asam sulida). Setelah melewati beberapa mesin, campuran ini akhirnya akhirnya muncul melewati cetakan seperti benda panjang yang tanpa ujung – seperti saus yang melewati penggiling – lalu dipotong sesuai ukuran, dikeringkan, di masukan kedalam oven beberapa jam pada suhu 1.850 derajat Fahrenheit. Untuk meningkatkan kekuatan dan kehalusannya isi pensil ini kemudian diolesi dengan komposisi yang panas berupa candelila wax dari Mexico, lilin paraffin, dan lemak binatang alami yang sudah di hidrogenasi.

Potongan cedar ku menerima enam kali pengecatan. Tahukah kamu apa bahan pembuat cat? Siapa menyangka kalau petani biji castor juga adalah bagian dari proses ini? Ya, mereka juga. Kenapa, bahkan proses yang membuat cat berwarna kuning dan cantik membutuhkan keahlian dari pribadi-pribadi yang tak terhitung banyaknya.

Perhatikan proses pemasangan label. Prosesnya terbentuk dari film yang dibuat dengan cara memanaskan karbon hitam yang dicampurkan dengan resin. Bagaimana engkau membuat resin dan apa?? Karbon Hitam??

Bagian kecil logam dari diriku – ferrule (penyambung logam) – terbuat dari kuningan. Bayangkan semua orang yang menambang biji zinc dan tembaga dan semua keahlian yang dipakai untuk membuat lembaran kuningan yang mengkilap dari produk alam ini. Lingkaran hitam dari ferrule ini terbuat dari nikel hitam. Apakah nikel hitam ini, dan bagaimana dia dibuat dan dipakai? Kisah lengkap bagaimana sehingga tidak ada nikel hitam di logam kuningan ku akan membutuhkan berhalaman lembar untuk menjelaskan.

Dan lihatlah mahkota kemulianku, yang secara tidak terhormat dalam perdaganganku disebut sebagai “the plug” (sesumbat), bagian yang digunakan oleh manusia untuk menghapus kesalahan yang dia buat denganku. Bahan yang disebut “factice” digunakan untuk membuat penghapus ini. Factice adalah bahan seperti karetyang dibuat dari minyak biji wijen yang di bawa dari Hindia Belanda Timur (Indonesia) yang direaksikan dengan sulfur klorida. Karet, berlainan dengan yang dipikirkan banyak orang, hanya berfungsi untuk menyatukan kedua senyawa ini. Kemudian, tentu juga banyak proses dan senyawa kimia lain yang berfungsi sebagai agen vulkanisasi dan akselerasi. Batu apung didatangkan dari Itali dan pewarna untuk “The Plug” adalah cadmium sulfide.

TIDAK ADA SEORANG PUN YANG TAHU

Apakah masih ada yang mau menantang pernyataanku sebelumnya bahwa tidak ada satu orangpun di muka bumi ini yang tahu bagaimana cara membuat diriku?

Sebenarnya, ada jutaan manusia yang bekerja bersama-sama dalam usaha menciptakanku, masing-masing hanya saling mengenal baik sedikit orang yang lainnya, kebanyakan tidak saling mengenal satu-sama lain. Sekarang, kamu mungkin berkata bahwa aku sudah terlalu jauh menghubungkan para pemetik kopi di Brazil dan petani makanan dengan proses pembuatanku; bahwa itu adalah posisi yang terlalu extrim. Tetapi aku akan tetap pada pernyataanku; bahwa tidak ada yang tahu bagaimana cara membuat diriku. Tidak ada satupun diantara berjuta-juta orang ini, termasuk persiden direktur dari perusahaan pensil, yang berkontribusi lebih dari sebuah hal kecil, sangat kecil, dari keahlian membuat. Dari sudut pandang keahlian membuat, perbedaan antara penambang grafit di Sri Lanka dan pemotong kayu di Oregan hanyalah dalam hal JENIS pengetahuan membuat. Tidak ada, entah itu penambang atau pemotong kayu, yang lebih berjasa dari ahli kima di pabrik pensil atau pekerja di pertambangan minyak bumi (paraffin, bahan pembuat isi pensil, adalah produk sampingan dari minyak bumi.)

Tetapi inilah fakta luar biasanya: Tidak ada satupun, entah itu pekerja dia tambang minyak atau ahli kimia, atau penambang grafit atau tanah liat, tidak juga pembuat kapal atau kereta api atau truk atau si pekerja yang menjalankan mesin yang memasang logam kebadanku, tidak juga direktur perusahaan pensil, yang menjalankan tugasnya masing-masing karena mereka menginginkanku. Semuanya menginginkanku tidak pernah lebih dari, mungkin, seorang anak yang duduk di bangku kelas satu SD. Tentu, bahkan ada diantara begitu banyak manusia ini yang belum pernah melihat dan tahu apa itu pensil atau tahu bagaimana cara menggunakannya. Motivasi mereka tentu bukan aku. Mungkin motivasi mereka adalah ini : Setiap orang dari jutaan orang ini melihat bahwa mereka bisa menukarkan sedikit keahlian membuat mereka untuk benda dan jasa yang mereka butuhkan dan inginkan. Aku mungkin bagian dari kebutuhan tersebut, dan mungkin juga tidak.

KETIDAK HADIRAN MASTER MIND

Tetapi ada satu lagi fakta yang lebih mengagumkan : Ketidak hadiran Perencana Utama (Master Mind), yang mendikte dan mengarahkan tidakan yang tak terhitung jumlahnya ini yang membuatku tercipta. Tidak ada sedikitpun jejak dari pribadi seperti itu, yang mengontrol dan mengarahkan. Sebaliknya, kita melihat suatu TANGAN TAK NAMPAK sedang bekerja. Inilah misteri yang saya katakan sebelumnya (bahwa diriku adalah sebuah misteri).

Ada orang bilang, “hanya Tuhan yang bisa menciptakan pohon.” Kenapa kita setuju dengan pernyataan ini? Bukankah karena kita sadar bahwa diri kita tidak bisa menciptakan satu pohon pun? Bisakah kita menggambarkan apa itu sebuah pohon? Tidak bisa tentu saja, kecuali dengan kata-kata superfisial. Kita bisa bilang, bahwa ada keteraturan molekular tertentu yang memanifestasikan dirinya menjadi sebuah pohon. Tetapi pikiran seperti apakah diantara manusia yang bisa merekam, atau mengarahkan, perubahan kostan dari molekul ini yang mengakibatkan terciptanya pohon? Sebuah buah perbuatan yang sangat tidak mungkin dan tidak terpikirkan.

Aku, Pensil, adalah sebuah perpaduan yang rumit dari berbagai mujikzat; pohon, zinc, tembaga, grafit dan sebagainya. Tetapi mujikzat yang memanifestasikan diri mereka melalui alam, ditambahkan pula dengan mujikzat yang lebih luar biasa: keterpaduan energy kreativitas umat manusia – jutaan keahlian membuat sesuatu dan pengetahuan yang terpadukan secara alamiah dan spontan sebagai reaksi atas kemauan dan hasrat dan tanpa kehadiran perencana utama (masterminding). Karena hanya Tuhan yang mampu menciptakan pohon, aku memaksa bahwa hanya Tuhan yang mampu menciptakanku. Tidak ada seorang manusiapun yang bisa mengarahkan jutaan keahlian yang membawaku sehingga tercipta, sebagaimana tak seorang manusiapun yang bisa menyelaraskan molekul-molekul sehingga tercipta sebuah pohon.

Diatas itulah yang kumaksud ketika menulis, “jika saja engkau bisa menyadari keajaiban yang aku simbolisasikan, engkau bisa membantu menyelamatkan kebebasan yang secara tidak menyenangkan hilang dari banyak orang.” Sebab, jika kamu menyadari bahwa keahlian menciptakan ini secara alami, ya, secara otomatis, mengatur diri mereka sendiri menjadi pola yang creative dan productive sebagai respons terhadap kebutuhan dan keperluan manusia – yang mana, tanpa kehadiran pemerintah atau pengatur lain yang bersifat memaksa – kamu akan memperoleh sebuah resep utama yang penting untuk kebebasan : iman terhadap orang-orang merdeka. Kebebasan adalah hal yang tidak mungkin tanpa iman ini.

Ketika pemerintah mengambil monopoly terhadap kegiatan creative seperti, sebagai contoh, mengirim surat, kebanyakan orang akan mulai percaya bahwa mengirim surat tidak bisa secara efisien diantar oleh orang yang bertindak secara bebas. Dan inilah alasannya; setiap orang percaya bahwa dirinya sendiri tidak tahu bagaimana melakukan semua hal yang diperlukan dalam mengantar surat. Dia juga menyadari bahwa tidak ada orang lain yang dapat melakukannya sendiri. Asumsi ini adalah benar adanya. Tidak ada satu individu pun yang punya keahlian untuk menjalankan usaha mengantar surat keseluruh penjuru negeri, sebagaimana tidak ada satu orang pun punya kemampuan membuat pensil. Jadi, dengan tidak-adanya iman terhadap orang merdeka – ditambah ketidak sadaran bahwa jutaan keahlian secara alamiah dan ajaib bisa membentuk dan bekerja sama dalam memenuhi kebutuhan manusia – seorang individu tidak bisa menghasilkan hal lain selain menghasilkan kesimpulan yang salah bahwa surat hanya bisa di antara oleh “pengarah utama” (masterminding) bernama pemerintah.

KESAKSIAN YANG BERLIMPAH

Jika hanya aku, Pensil, yang bisa menawarkan kesaksian tentang apa yang bisa dicapai oleh para orang-orang ketika mereka bebas untuk mencoba, lalu mereka yang punya sedikit iman akan kebebasan harus menunjukan bukti yang sama. Tetapi, ada begitu berlimpahnya kesaksian; kesaksian itu ada disekitar kita. Mengantar surat adalah sangat jauh lebih sederhana dibandingkan dengan, contohnya, pembuatan mobil atau mesin penghitung atau pertanian gandum atau mesin penggiling atau puluhan ribu benda lainnya. Mengantar surat (industry yang di Amerika masih dikuasai pemerintah – penerjemah)? Kenapa, di area (industry – penerjemah) dimana manusia sudah diberikan kebebasan untuk mencoba, mereka mengantar suara manusia mengelilingi dunia dalam waktu kurang dari satu detik; merekamengatar kejadian tentang apa yang terjadi secara visual dalam gambar bergerak kepada orang-orang dirumah mereka masing-masing, mereka mengantar 150 penumpang dari Seattle ke Baltimore dalam waktu kurang dari empat jam, mereka mengantar gas dari Texas ke peternakan atau tungku seseorang di New York dengan harga yang tidak dapat dipercaya, sangat murah, dan tanpa subsidy; mereka mengantar empat pounds (lb., satuan berat – penerjemah) minyak bumi dari Teluk Persia ke Pantai Barat Amerika – melewati setengah ukuran bumi- dengan biaya lebih rendah yang dikenakan pemerintah untuk mengantar setengah ons surat ke seberang jalan!

Pelajaran yang ingin kuajarkan adalah : Biarkan semua energy creative untuk bebas. Cukuplah mengatur masyarakat secara selaras dengan pelajaran ini. Biarlah aparat hukum menghapus semua halangan kebebasan yang mereka bisa. Ijinkan kemampuan menciptakan yang kreativ ini mengalir bebas. Milikilah iman bahwa semua pria dan wanita yang bebas akan bereaksi terhadap TANGAN TAK NAMPAK. Iman ini akan dibuktikan. Aku, Pensil, kelihatan sederhana, tetapi Aku, menawarkan mujikzat dari penciptaanku sebagai kesaksian dari iman nyata ini, senyata matahari, hujan, pohon cedar, dan bumi pertiwi.



Kritik utk film “Drag Me To Hell”
June 15, 2009, 12:58 am
Filed under: Film

Maaf menulis dgn dialek manado, saya rasa my mother tounge will express my feeling better!

Kita dari dulu nda pernah bauni suka bauni film horor. Pertama, bukan karena kita panako, tetapi karena kita nimau mo jadi panako. Panako itu mahal, tako for barang nda war2. Kita skg boleh bilang kita p diri pemberani sih, kita nda apa2 tinggal dirumah sendiri, bahkan dirumah yg tman2 bilang berhantu kata, kita ja tinggal akang sendiri sampe dgn bulan. Dulu waktu tgl dng Steev, drg bilang kata tu rumah angker, mar biasa jo. Kita yakin bkn karena kita nda panako, ini karena kita nda pernah mau nonton film horor. Karena kalu kita so bauni film horor, inaaaah, somo jadi panako le kita, dan panako itu high cost. Pangge temang menginap, cari2 tman p rumah, nda war2.

Alasan ke dua; kita nda mangarti kita what’s the point mo bauni film horor kang? cuma for mo latih jantung. sama deng cuma pasang petasan dang, meletus, lalu bekin kage orang, bgitu saja!!! Beda deng kalu ng pasang kembang api, bersuara, berwarna2, bekin mata bling3!! enak dipandang (sama deng itu film berkualitas seharusnya), mar film horor?? sama deng pasang segitiga 24 stars! Nda ada nilai moral, nda menumbuhkan rasa penasaran, nda punya pelajarn, hikmat yg bisa diambil, nda seru, nda punya daya tarik sama skali selain bekin kage. Makanya jangan heran banya adegan di film horor, adalah adegan yang cma bekin2 kage pake musik, yg sebenarnya nda menakutkan sama skali, mar gara2 so tambah musik yg so diator dp audio supaya jadi mengelegar kage2. Mar?? Ih, kalu cuma mo cari kage, maing pak2 sambunyi jo, or pi Sanger, cari petas segitiga kong pasang dibawah ng p koi tenga malam supaya nga deng kluarga satu rumah kage smua. Memang ada sih film “horor” yang bagus. Tetapi kebanyakan karena punya sesuatu untuk di pelajari, or punya daya tarik selain mo kase kage n bekin tako. Seperti Stephen King pe novel2 kan katanya horor (tetapi kita lebe suka sebut thriler), tetapi disitu punya banyak hal2 menarik selain bekin kage. Ada irony, ada orang gila, ada monster2 antah berantah, dsb. Tetapi masalahnya keanyakan film horor itu cuma for mo bekin kage. Bahkan jauh dari mo bekin bulu kuduk berdiri.

Alasan ketiga, karena film horor sama sekali omong kosong. Memang semua film itu bohong2an, tetapi ada bohong2an yang bisa dinikmati dan ada bohong2an yang sama sekali nda punya alasan untuk dinikmati. Artinya begini, kalu trg bauni Star Wars or The Matrix, film2 yang memang sama sekali nda butul, tetapi paling tidak ada relefansinya dengan trg p hidop. Bkin torang sadar tentang sesuatu dlm hidup. Ada hubungan dalam hidup, sehingga torang pe pikiran bawah sadar bekin torang bisa duduk haga ni bohong2an (lamu) selama berjam2. Tetapi bagi kita, di kita p alam bawah sadar, memang so ta program bahwa setang yang ba dusu orang kong mo babunu orang itu sama leo deng eh, apa eh, eh, kapal ruang angkasa dan light saber secara teory kemungkinan, masih mungkin ditemukan wlaupun kecil kemungkinan tetapi tetap ada kemungkinan. Mar tu setang ba bunuh, sama apa kang depe leo, dah, pokoknya sampe so talalu leo, sampe kita sendiri so nintau mo bandingkan deng apa depe leo. Mar beda deng film laeng seperti humor dan action, yang kadang diselipkan dengan percintaan dan bumbu2 lainnya, film horor is all about this … eh sory… bolocks!! Jadi bagaimana bisa torang menikmati suatu karya seni yang torang so tau2 memang palsu dan bohong?

Nah, masalahnya beberapa hari lalu, kita di sarankan oleh seorang teman yang kita percaya kemampuan memilih filmnya, yang kita hargai integritasnya, yang kita akui keahliannya dalam menyaraknkan film, menyarankan kita utk menonton film horor terburuk dalam sejarah semua film horor (gara2 itu satu2nya film horor yg ktia pernah tonton, jadi terburuk dlm sejarah) ; “Drag Me To Hell”. Kita sampe paksa2 3 orang teman, kita yg mo traktir asal drg bauni mar nda ada yg mau. Akhrinya dapa pa jerome kong torng bauni, KITA YANG BAYAR, KITA YANG BAYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARR~!!!!! I CAN’T BELIEVE IT!!!

Mar pe maso ke dalam, untung lah kita bauni deng jerome, tu film biar sadiki bisa jadi film lucu! Apalagi di adegan “panionmen pagal hite, sasionamen sundal hite”. Inah, kasiang jo tu film. Nda ada selera kita mo bauni. Dan itulah ciri dari semua film basae! Nda memberikan torang alasan untuk menonton lagi dan lagi! Eh kasaing, nintau apa dp guna bauni tu film. Terhibur nda, penasaran nda, no VALUE AT ALLLLLL!! Seharusnya deng depe sutradara ditarek ke neraka oleh si setan yang depe nama “Tamiya” itu. Ehhmmm, ngomong2 soal dp sutradara. Tahukah anda bahwa dia juga adalah sutradara andalan saya dulu ketika masih kecil. Kita nda pernah mo lupa depe nama. Kenapa? karena kalau anda penggemar Power Rangers, anda pasti tau bahwa Sam Raimi, Shuky Levy dan Haim Shaban adalah sutradara power rangers dulu. Tetapi sam raimi tampaknya lebih sukses karena Sapiderman. Mar kapa skg dia arahkan ni film boleh basae bagini???? Memang seharsnya sam raimi tetap di jalur super heroes.So nintau leh, yang jelas, HEROLD!!! NG SO DAPA BAE2 PA KITA KALI INI!!!!



Ya, Kita Bisa (Potongan Pidato Inagurasi Ronald Reagen, Terjemahan Bebas oleh Juan M.)
June 14, 2009, 11:09 pm
Filed under: Ekonomi, Wisdom Lover

Pengantar (Oleh; Juan Mahaganti)

Pidato ini adalah pidato Inagurasi terbaik menurut saya. Sangat memberi inspirasi terlebih dalam membentuk mind-set kita tentang apa fungsi sebenarnya dan utama dari sebuah pemerintah yang baik. Pidato ini disadur dari video aslinya di sini: http://www.youtube.com/watch?v=JX8X_FsBCDk. Menarik untuk disimak bahwa menurut Reagen, kunci kehebatan Amerika bukan terletak pada militernya atau kejeniusan penduduknya, tetapi pada kemampuan systemnya yang membebaskan kreativitas individu sehingga tiap-tiap pribadi berusaha mencapa yang terbaik bagi dirinya, dan dengan demikian mendatangkan yang terbaik bagi masyarakat. Semoga berguna.

Washington, Pelantikan Ronald Reagen.;

Kita sebagai orang Amerika, punya kapasitas sekarang, sebagaimana masa lalu, untuk berbuat apapun yang bisa kita buat, untuk mepertahankan Negara ini, benteng kebebasan yang terakhir dan terbesar.Pemerintah bukanlah solusi masalah kita, pemerintah adalah masalahnya. Kita adalah bangsa yang memiliki pemerintah, bukan sebaliknya, dan ini membuat kita special diantara bangsa-bangsa di dunia. Pemerintah kita tidak punya kekuasaan kecuali diberikan oleh rakyat. Dari waktu ke waktu kita terus tergoda untuk percaya bahwa masyarakat terlalu rumit untuk diatur oleh self-rule (pribadi mengurus dirinya sendiri), bahwa pemerintah dengan kelompok elit lebih baik dalam mengatur dibandingkan dengan pemerintah yang dari, oleh dan untuk rakyat. Jadi jika diantara kita sudah tidak bisa mengatur diri sendiri, maka siapa diantara kita yang punya kemampuan mengatur orang lain? Bukan maksud saya untuk menyingkirkan pemerintah, tetapi sebaliknya, untuk membuatnya bekerja dengan berhasil. Bekerja dengan kita, bukan diatas kita, Berdiri disamping kita, bukan memerintah dan mengemudikan dari belakang.Pemerintah bisa dan harus menyediakan kesempatan, dan bukan menghilangkannya. Mengembangkan dan memupuk produktifitas dan bukan menekannya. Ini waktunya untuk membangunkan kembali raksasa industry ini. Mengembalikan pemerintah ketujuan awalnya. Dan meringankan beban pajak yang bersifat hukuman, dan ini akan jadi prioritas utama kami dan dalam atas dasar prinsip ini, tidak akan ada kompromi. Anda sekalian, para warga Negara, di tanah yang diberkati ini, mimpimu, harapanmu dan tujuanmu, akan menjadi mimpi, harapan dan tujuan dari pemerintahan ini, maka semoga Tuhan menolongku.

Ini waktunya bagi kita untuk menyadari bahwa kita adalah bangsa yang terlalu besar, untuk membatasi diri kita dengan mimpi yang kecil. Kita tidak akan, sebagaimana beberapa orang percaya, akan musnah ke arah kemerosotan yang tak terhindarkan (Mungkin maksudnya ajaran Marxisme-Juan). Aku tidak mempercayai bahwa takdir akan mengikuti kita, apa pun yang kita lakukan. Aku percaya dengan takdir yang akan mengikuti kita, jika kita tidak berbuat apa-apa. Sehingga, dengan semua energy kreatifitas dan hasrat kita, mari kita mulai era pembaharuan nasional. Mari kita perbaharui ketahanan kita, keberanian kita, dan kekuatan kita. Dan mari kita perbaharui iman dan harapan kita. Kita punya semua hak, untuk memimpikan mimpi yang heroic. Bagi semua yang berkata bahwa kita hidup dimasa tanpa pahlawan-pahlawan, mereka tidak tahu kemana harus berpaling. Bisakah kita mengatasi masalah yang sedang kita hadapi? Jawabanya tak terbantahkan, Ya. Saya percaya kita orang Amerika saat ini, siap untuk bertindak selayaknya diri kita. Siap berbuat apa yang harus diperbuat untuk memastikan kebahagiaan dan kebebasan untuk diri kita, anak-anak kita dan cucu-cucu kita. Dan sebagaimana kita memperbaharui diri kita, ditanah kita ini, kita akan dilihat sebagai bangsa yang punya kekuatan yang lebih besar. Kita akan kembali menjadi contoh kebebasan dan benteng harapan bagi semua yang tidak punya kebebasan. Bagi semua musuh kebebasan, semua yang berpotensi menjadi musuh, mereka akan diingatkan bahwa kedamaian adalah aspirasi tertinggi bangsa Amerika. Kami akan bernegosiasi, berkorban dan kami tidak akan pernah menyerah untuk kedamaian, sekarang sampai selamanya. Dengan idealism dan fair-play yang adalah inti dari system kami, sebagaimana inti dari kekuatan kami, kita akan mencapai Amerika yang lebih sejahtera dengan kedamaian bagi Amerika dan seluruh dunia.

Jika kita mencari jawaban atas pertanyaan; kenapa selama bertahun-tahun lamanya, kita meraih sebegitu banyak, kesejahteraan yang melebihi bangsa manapun didunia. Jawabanya karena, disini, ditanah ini, kita membebaskan dan melepaskan energy dan kejeniusan individu yang dimiliki setiap manusia ketahap yang tertinggi yang tidak pernah dicapai sebelumnya. Kebebasan dan harkat tiap-tiap individu lebih mudah diraih dan lebih dijamin disini dibandingkan dengan tempat manapun didunia. Tetapi harga dari kebebasan ini terkadang sangat tinggi. Tetapi tidak pernah kita berkenan untuk berhenti membayar harga tersebut. Krisis yang kita hadapi hari ini, tidak membutuhkan dari diri kita, jenis pengorbanan sebagaimana pendiri bangsa ini dan ribuan prajurit lainya harus korbankan. Tetapi bagaimanapun, krisis ini membutuhkan usaha terbaik kita dan kemauan kita untuk percaya pada diri kita, dan percaya pada kapasitas kita, untuk melakukan perbuatan luar biasa. Untuk percaya bahwa bersama-sama, dengan pertolongan Tuhan, kita bisa dan akan, menyelesaikan masalah yang sekarang menghadang kita. Dan akhirnya, kenapa kita tidak percaya (bahwa kita bisa-penerjemah), (bukankah) Kita orang Amerika. Tuhan Memberkatimu dan Terima Kasih banyak.